Thursday, September 6, 2012

Perjalanan Akhirat (2) : Peristiwa Yang Sangat Menakutkan

Setelah ditiupnya sangkakala, terjadilah beberapa peristiwa yang sangat menakutkan.

 

 

1. Bumi digoncangkan, gunung-gunung hancur lebur.

Al-Imam Ibnu Katsir Rahimahullah menyatakan (An-Nihayah hal. 154): “Di antara peristiwa yang akan terjadi (setelah ditiupnya sangkakala) adalah bumi digoncangkan, penghuninya digerak-gerakkan ke kanan dan ke kiri. Sebagaimana berita yang Allah Ta’ala sampaikan dalam firman-Nya:

(Artinya) : “Apabila bumi digoncangkan dengan goncangannya (yang dahsyat), dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang terdapat) di dalamnya, dan manusia bertanya: “Mengapa bumi (jadi begini)?” (Az-Zalzalah: 1-3)

(Artinya) : “Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhan kamu; sesungguhnya kegoncangan hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar (dahsyat). (Ingatlah) pada hari (ketika) kamu melihat kegoncangan itu, lalailah semua wanita yang menyusukan anaknya dari anak yang disusuinya dan gugurlah kandungan segala wanita yang hamil, dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, akan tetapi azab Allah itu sangatlah keras.” (Al-Hajj: 1-2)

(Artinya) :  “Apabila terjadi hari kiamat, terjadinya kiamat itu tidak dapat didustakan (disangkal). (Kejadian itu) merendahkan (satu golongan) dan meninggikan (golongan yang lain), apabila bumi digoncangkan sedahsyat-dahsyatnya, dan gunung-gunung dihancur luluhkan sehancur-hancurnya, maka jadilah ia debu yang beterbangan.” (Al-Waqi’ah: 1-6)

 

Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di Rahimahullah menyatakan: “Allah Ta’ala mengajak bicara seluruh manusia dan memerintahkan agar mereka bertakwa kepada Tuhannya, yang telah memelihara mereka dengan nikmat-nikmat-Nya, baik yang nampak maupun yang tidak tampak. Maka sudah selayaknya mereka bertakwa kepada-Nya, dengan meninggalkan kesyirikan, kedurhakaan dan kemaksiatan. Semestinya pula mereka melaksanakan perintah-perintah-Nya selama mereka mampu melaksanakannya. Kemudian Allah Ta’ala mengabarkan tentang hal-hal yang akan membantu mereka dalam bertakwa, dan memperingatkan mereka agar mereka tidak meninggalkan ketakwaan tersebut, yaitu berupa berita-berita tentang peristiwa menakutkan yang akan terjadi pada hari kiamat.” (Tafsir As-Sa’di hal. 532)

 

2. Langit terpecah-belah, bintang-bintang berjatuhan, cahaya bulan menghilang, matahari dan bulan dikumpulkan.

Peristiwa-peristiwa ini akan terjadi pada hari kiamat, sebagaimana yang Allah Ta’ala beritakan dalam surat At-Takwir, Al-Infithar dan Al-Insyiqaq.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda tentang keutamaan tiga surat tersebut:

“Barangsiapa yang senang memperhatikan (peristiwa-peristiwa yang akan terjadi) pada hari kiamat, hendaklah dia membaca surat At-Takwir, Al-Infithar dan Al-Insyiqaq.” (HR. At-Tirmizi dari Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhu, disahihkan oleh Syeikh Al-Albani dalam As-Sohihah no. 1081)

 

3. Allah Ta’ala akan mengenggam bumi dan menggulung langit dengan tangan kanan-Nya yang mulia

Hal ini sebagaimana dalam firman-Nya:

(Artinya) : “Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.” (Az-Zumar: 67)

Juga dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, Rasulllah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

“Allah Ta’ala akan menggenggam bumi dan melipat langit dengan tangan kanannya. Kemudian Dia berfirman: “Akulah Raja di raja. Aku Maha Memaksa. Di mana raja-raja bumi? Di mana para pemaksa? Di mana orang-orang yang sombong?” (Muttafaqun ‘alaih)

 

4. Hubungan nasab terputus

Oleh karena dahsyatnya peristiwa-peristiwa yang terjadi, maka terputuslah hubungan nasab. Ayah tidak mampu menolong anaknya. Anakpun tidak mampu menolong orang tuanya. Suami tidak mampu menolong isterinya, sebagaimana seorang isteri juga tidak mampu menolong suaminya. Masing-masing berlepas diri dan mencari keselamatan dirinya sendiri.

 

Hal ini sebagaimana dalam firman Allah:

(Artinya) : “Apabila sangkakala ditiup maka tidaklah ada lagi pertalian nasab di antara mereka pada hari itu, dan tidak ada pula mereka saling bertanya.” (Al-Mu’minun: 101)

(Artinya) :Dan apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkakala yang kedua), pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapanya, dari isteri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang menyibukkannya.” (‘Abasa: 33-37)

(Artinya) : “(Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat siksa; dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus sama sekali.” (Al-Baqarah: 166)

(Artinya) :  “(Iaitu) hari (ketika) seseorang tidak berdaya sedikitpun untuk menolong orang lain. Dan segala urusan pada hari itu dalam kekuasaan Allah.” (Al-Infithar: 19)

Sehinggalah para rasul yang termasuk Ulul Azmi juga, tatkala mereka diminta untuk memberikan syafaat terhadap para makhluk di padang mahsyar, mereka menyatakan:

“Ya Allah, selamatkan diriku, selamatkan diriku.”

Kecuali Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, sebagaimana disebutkan dalam Sahih Al-Bukhari dan Sahih Muslim tentang kisah asy-syafa’atul ‘uzhma (syafaat yang agung).

 

5. Penyesalan pada hari itu tidaklah bermanfaat

Allah Ta’ala berfirman:

(Artinya) : Dan (ingatlah) hari (ketika) langit pecah belah mengeluarkan kabut putih dan diturunkanlah malaikat bergelombang-gelombang. Kerajaan yang haq pada hari itu adalah kepunyaan Tuhan Yang Maha Pemurah. Dan adalah (hari itu), satu hari yang penuh kesukaran bagi orang-orang kafir. Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: “Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul.” Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrab (ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al-Qur’an ketika Al-Qur’an itu telah datang kepadaku. Dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia. (Al-Furqan: 25-29)

Al-Imam Ibnu Katsir Rahimahullah berkata: “Dalam ayat-ayat ini, Allah Ta’ala mengabarkan tentang (apa yang akan terjadi pada hari kiamat) berupa penyesalan orang-orang kafir yang tidak mau mengikuti jalan dan apa yang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bawa, berupa kebenaran nyata dari sisi Allah Ta’ala yang tidak ada keraguan di dalamnya. Dia justru menempuh jalan yang lain. Maka, tatkala terjadi hari kiamat dia akan menyesal, dalam keadaan penyesalan itu tidak bermanfaat baginya.” (Tafsir Ibnu Katsir, 3/280)

 

Wallahu a’lam.

Oleh : Al-Ustadz Abul Abbas Muhammad Ihsan
Disunting oleh: Abu Soleh


Wednesday, September 5, 2012

Perjalanan Akhirat (1) : Ditiupnya Sangkakala Pada Hari Kiamat

Peristiwa mengerikan yang akan terjadi pertama kali pada hari kiamat adalah ditiupnya sangkakala (ash-shur) oleh malaikat Israfil ’alaihi salam  dengan perintah Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

 

 

Makna ash-shur secara etimologi (bahasa) adalah al-qarn (tanduk). Sedangkan menurut istilah syariat, yang dimaksud adalah sangkakala yang sangat besar yang malaikat Israfil telah memasukkannya ke dalam mulutnya (siap untuk meniupnya), dan dia sedang menunggu kapan dia diperintahkan untuk meniupnya. (Syarh Lum’atul I’tiqad karya Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin, hal. 114)

 

Makna ini disebutkan dalam hadits shahih dari Abdullah bin ‘Amr c, dia berkata:

Seorang badui bertanya: “Wahai Rasulullah, apa itu ash-shur?” Beliau Shalalahu ‘Alaihi Wasalam menjawab: “Tanduk yang akan ditiup.” (HR. Ahmad, At-Tirmidzi dan Abu Dawud. Hadits ini disebutkan dalam Al-Jami’ Ash-Shahih 6/113-114, karya Asy-Syaikh Muqbil t)

Juga sebagaimana dalam hadits Abu Sa’id Al-Khudri z, Rasulullah Shalalahu ‘Alaihi Wasalam bersabda:

“Bagaimana aku akan senang hidup di dunia, sementara pemegang sangkakala telah memasukkannya ke mulutnya. Dia memasang pendengaran untuk diijinkan (meniupnya). Kapanpun dia diperintah meniupnya, dia akan meniupnya.” (HR. At-Tirmidzi, dihasankan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dengan syawahid (pendukung)nya dalam Ash-Shahihah no. 1079)

 

Banyak sekali dalil dari Al-Qur’an yang menunjukkan akan ditiupnya sangkakala pada awal terjadinya hari kiamat. Di antaranya, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

Dan benarlah perkataan-Nya di waktu Dia mengatakan: “Jadilah, lalu terjadilah”, dan di tangan-Nyalah segala kekuasaan di waktu sangkakala ditiup. Dia mengetahui yang ghaib dan yang nampak. Dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. (Al-An’am: 73)

“Dan ditiuplah sangkakala, maka tiba-tiba mereka ke luar dengan segera dari kuburnya (menuju) kepada Rabb mereka.” (Yasin: 51)

Sedangkan dalam As-Sunnah, Rasulullah Shalalahu ‘Alaihi Wasalam menyebutkan dalam sebuah hadits yang panjang:

“Kemudian ditiuplah sangkakala, maka tidak ada seorangpun yang mendengarnya kecuali akan mengarahkan pendengarannya dan menjulurkan lehernya (untuk memerhatikannya). Lalu, tidak tersisa seorangpun kecuali dia mati. Kemudian Allah Subhanahu Wa Ta’ala menurunkan hujan seperti gerimis atau naungan (–perawi ragu–), maka tumbuhlah jasad-jasad manusia karenanya. Lalu ditiuplah sangkakala untuk kali berikutnya, tiba-tiba mereka bangkit dari kuburnya dalam keadaan menanti (apa yang akan terjadi).” (HR. Muslim dari Abdullah bin ‘Amr c)



Malaikat Israfil ‘Alaihi Salam, sang peniup sangkakala

Di antara dalil yang menunjukkan secara jelas bahwa malaikat yang diberi tugas untuk meniup sangkakala adalah Israfil q, adalah sebagai berikut:

1.Hadits Abu Hurairah ra

Ini adalah hadits yang panjang dan masyhur tentang ditiupnya sangkakala. Disebutkan di dalamnya bahwa Rasulullah Shallahu ‘alaihi wasalam bersabda:

“Sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala semenjak menciptakan langit dan bumi, Dia ciptakan pula sangkakala lalu Dia berikan kepada Israfil. Israfil meletakkannya di mulutnya.” (HR. Ibnu Jarir Ath-Thabari dalam Tafsir-nya, dan Ath-Thabarani dalam Al-Muthawwalat)

 

Namun para ulama ahlul hadits, seperti Al-Bukhari, Ahmad, Abu Hatim Ar-Razi, AMr bin Ali Al-Fallas, Ibnu Katsir dan selainnya, menghukumi hadits ini sebagai hadits yang dhaif. Di dalam sanadnya ada seorang perawi yang dhaif, namanya Ismail bin Rafi’. Juga karena dalam matannya ada beberapa hal yang mungkar, ditambah pula sanadnya mudhtharib (goncang). (lihat Fathul Bari 11/368-369, Tafsir Ibnu Katsir pada surat Al-An’am ayat 73)

 

2.Hadits Ibnu Abbas ra

Dalam hadits ini disebutkan:

“Jibril berada di sebelah kanannya, Mikail di sebelah kirinya, sedangkan dia (yang di tengah) adalah pemegang sangkakala, yaitu Israfil.” (HR. Ahmad dan Al-Baihaqi)

Al-Hafizh Ibnu Hajar t mengatakan bahwa dalam sanad-sanadnya ada pembicaraan. (Fathul Bari, 11/368)[1]

 

3. Ijma’ ulama

Al-Imam Al-Qurthubi t berkata: “Ulama kami berkata: Umat-umat telah bersepakat bahwa yang akan meniup sangkakala adalah Israfil ‘alaihi salam.” (At-Tadzkirah, hal. 208)

Al-Hafizh Ibnu Hajar t berkata: “Peringatan: Yang masyhur bahwa pemegang sangkakala adalah Israfil q. Al-Halimi t menukilkan ijma’ dalam masalah ini.” (Fathul Bari, 11/368)

 

Berapa Kali Sangkakala Ditiup?

Tentang masalah ini, terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah. Secara ringkas, perbedaan pendapat tersebut menjadi dua, sebagaimana dikatakan Al-Imam Al-Qurthubi t dalam kitabnya At-Tadzkirah (hal. 209).

 

Tiga kali tiupan

Masing-masingnya adalah:

 

1. Nafkhatul faza’ (tiupan yang mengejutkan, menakutkan)

Ini sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala :

“Dan (ingatlah) hari (ketika) ditiup sangkakala, maka terkejutlah segala yang di langit dan segala yang di bumi, kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Dan semua mereka datang menghadap-Nya dengan merendahkan diri.” (An-Naml: 87)

 

2. Nafkhatu ash-sha’qi (tiupan yang mematikan, membinasakan)

 

3. Nafkhatul ba’tsi (tiupan yang membangkitkan)

Kedua tiupan ini terdapat dalam firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala :

“Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi, maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusannya masing-masing).” (Az-Zumar: 68)

Sedangkan dalil dari As-Sunnah adalah hadits Abu Hurairah ra yang diriwayatkan oleh Al-Imam Abul Qasim Ath-Thabarani dalam kitabnya Al-Muthawwalat. Namun hadits ini dhaif sebagaimana penjelasan yang telah lalu. Seandainya hadits ini shahih, maka ini adalah hakim yang memastikan bahwa pendapat ini yang benar. Karena dalam hadits tersebut terdapat pernyataan yang jelas dan pasti bahwa sangkakala ditiup tiga kali. Lafadz hadits tersebut sebagai berikut:

“Israfil meniup sangkakala tiga tiupan. Tiupan yang pertama adalah yang mengejutkan. Tiupan yang kedua adalah yang mematikan. Sedangkan tiupan ketiga adalah yang membangkitan (makhluk) menghadap Rabbul ‘alamin.”

Ulama yang memilih pendapat yang menyatakan bahwa tiupan ini tiga kali, di antaranya Ibnul ‘Arabi, Ibnu Taimiyyah, Ibnu Katsir, juga Al-Lajnah Ad-Da’imah, Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan dan selain mereka.

 

Dua kali tiupan

Kedua tiupan tersebut adalah:

1. Nafkhatul faza’ sekaligus juga nafkhatu ash-sha’qi

Karena kedua tiupan ini –kata Al-Imam Al-Qurthubi t– tidak ada jeda waktunya. Maksudnya, mereka terkejut dan mati karenanya, kecuali siapa yang dikehendaki Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

 2. Nafkhatul ba’tsi

Al-Imam Al-Qurthubi t berkata: “As-Sunnah yang tsabit (pasti, shahih) menunjukkan tiupan terjadi dua kali. Misalnya hadits Abu Hurairah[2] z, hadits Abdullah bin ‘Amr c (HR. Muslim no. 7307) dan selainnya, menunjukkan bahwa peniupan sangkakala itu terjadi dua kali, bukan tiga kali. Ini adalah pendapat yang benar, insya Allah.”

 

Sedangkan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala :

“Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi, maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusannya masing-masing).” (Az-Zumar: 68)

Menurut beliau , pengecualian dalam ayat ini sebagaimana pengecualian dalam nafkhatul faza’. Sedangkan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala :

“Dan (ingatlah) hari (ketika) ditiup sangkakala, maka terkejutlah segala yang di langit dan segala yang di bumi, kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Dan semua mereka datang menghadap-Nya dengan merendahkan diri.” (An-Naml: 87)

Ini menunjukkan bahwa nafkhatul faza’ dan nafkhatu ash-sha’qi adalah sama (terjadi satu kali).

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin t berkata: “Para ulama telah berbeda pendapat, apakah ditiupnya sangkakala itu tiga kali ataukah dua kali saja. Dua kali dengan anggapan bahwa nafkhatul faza’ sama dengan nafkhatu ash-sha’qi yang terjadi pertama kali, maka manusia terkejut lalu mereka mati. Kemudian tiupan yang kedua, mereka dibangkitkan dari kubur mereka untuk menghadap Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Rabbul ‘alamin. Pendapat ini adalah yang lebih mendekati kebenaran. Namun perbedaan pendapat ini sangatlah dekat. Seandainya ada yang menyatakan bahwa ditiupnya sangkakala pertama maka manusia terkejut, lalu ditiup untuk yang kedua kali maka mereka mati, pendapat ini tidaklah bertentangan (dengan pendapat kedua). Hanya saja yang lebih dekat adalah bahwa ditiupnya sangkakala itu terjadi dua kali saja.” (Syarh Al-’Aqidah As-Safariniyyah, hal. 473-474)



Jeda Waktu Antara Dua Tiupan Sangkakala

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasalam bersabda:

“Jarak antara dua tiupan itu adalah empatpuluh.”

Mereka bertanya: “Wahai Abu Hurairah, apakah yang dimaksud empatpuluh hari?” Beliau r.a berkata: “Aku menolak (menjawabnya).” Mereka bertanya lagi: “Apakah empatpuluh bulan?” Beliau r.a berkata: “Aku menolak (menjawabnya).” Mereka bertanya kembali: “Apakah empatpuluh tahun?” Beliau r.a tetap menjawab: “Aku menolak (menjawabnya).”

Al-Imam An-Nawawi t berkata: “Makna ucapan Abu Hurairah r.a. (dalam hadits tersebut) adalah “Aku menolak untuk menyatakan dengan pasti bahwa yang dimaksud adalah empatpuluh hari atau bulan atau tahun. Yang aku nyatakan dengan pasti adalah empatpuluh, tanpa tambahan hari, bulan atau tahun.” Terdapat riwayat yang menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah empatpuluh tahun, namun bukan dalam Shahih Muslim.” (Syarh Shahih Muslim, 9/292)

Al-Hafizh Ibnu Hajar t menyatakan: “Sebagian ulama yang mensyarah Shahih Muslim menyatakan bahwa dalam riwayat Muslim ada yang menyebutkan dengan empatpuluh tahun. Namun sebenarnya riwayat ini tidak ada (dalam Shahih Muslim, -ed). Memang ada yang diriwayatkan oleh Ibnu Mardawaih t dari jalan Sa’id bin Ash-Shald, dari Al-A’masy, dengan menyebutkan arba’una sanah (empatpuluh tahun). Namun riwayat ini syadz (ganjil).” (Fathul Bari, 8/552)

 Wallahu a’lam bish-shawab.

 
——————————————————————————–
[1] Al-Akh Yasin bin Ali Al-Adni mengatakan dalam ta’liqnya terhadap Syarh Al-’Aqidah Ath-Thahawiyyah: “Saya belum menemukan hadits shahih yang marfu’ (sampai kepada Rasulullah n) yang menyebutkan dengan jelas bahwa pemegang sangkakala adalah Israfil q.
[2] Rasulullah Shalalahu ‘Alaihi Wasalam bersabda:
 “Jarak antara kedua peniupan itu adalah empatpuluh.” (HR. Al-Bukhari no. 4935 dan Muslim no. 7340)
(dikutip oleh : http://engge.wordpress.com/2011/03/02/ditiupnya-sangkakala-pada-hari-kiamat/)


Monday, September 3, 2012

Kiamat Sudah Dekat Namun Manusia Tak Mau Mengerti

Dari Anas bin Malik : Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasalam bersabda:

“Aku diutus, dan kiamat (demikian dekat) sebagaimana (dekatnya) dua jari ini.” Beliau rapatkan jari telunjuk dan jari tengah.  

(Takhrij & Makna Hadits kami salin pada bagian catatan kaki)


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:  “Tidak adalah kejadian kiamat itu, melainkan seperti sekejap mata atau lebih cepat (lagi). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (An-Nahl: 77)

Jika dekat, kenapa kiamat tak kunjung tiba?

Kabar dekatnya kiamat telah berlalu empatbelas abad silam. Mungkin ada yang bertanya: Jika kiamat telah dekat, kenapa hingga saat ini belum ditegakkan?

 

Pembaca rahimakumullah.

Kehidupan Ar-Rasul  adalah kehidupan yang penuh kasih sayang dan bimbingan. Tak ada satu kebaikanpun melainkan telah beliau sampaikan. Demikian pula tidak ada satu kejelekanpun bagi umat ini melainkan telah beliau peringatkan umat darinya. Dengan penuh kasih dan cinta beliau tarbiyah umat untuk berjalan menuju ridha Allah hingga wafatnya ditahun sebelas hijriyah. Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Dalam hadits Anas , ada bimbingan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasalam bagi umat ini untuk segera bangkit dari kelalaian dan bergegas menyiapkan bekal menghadapi hari kiamat yang telah dekat.  Dekatnya hari itu dengan diutusnya beliau  ibarat dekatnya jari telunjuk dan jari tengah yang dihimpitkan. Allah Subhanahu Wa Ta’ala  berfirman:  “Tidak adalah kejadian kiamat itu, melainkan seperti sekejap mata atau lebih cepat (lagi). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (An-Nahl: 77)

 

Jika dekat, kenapa tak kunjung tiba?

Kabar dekatnya kiamat telah berlalu empatbelas abad silam. Mungkin ada yang bertanya: Jika kiamat telah dekat, kenapa hingga saat ini belum ditegakkan?

Kata-kata ini boleh jadi muncul sebagai bentuk pengingkaran orang kafir atas berita Allah dan Rasul-Nya . Atau, mungkin juga pertanyaan ini adalah waswas setan yang dibisikkan pada sebagian dada muslimin.

Adapun orang kafir, perkaranya telah jelas. Ungkapan ini sangat wajar muncul dari mulut orang-orang yang hatinya telah buta dan telinganya telah tuli. Dengan mudahnya mereka ingkari kiamat dan hari kebangkitan, sebagaimana Allah sebutkan tentang mereka dalam firman-Nya:   “Orang-orang yang kafir mengatakan, bahwa mereka sekali-kali tidak akan dibangkitkan. Katakanlah: “Tidak demikian, demi Rabbku, benar-benar kamu akan dibangkitkan, kemudian akan diberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (At-Taghabun: 7)

 

Dalam ayat lain Allah Subhanahu Wa Ta’ala  berfirman:

“Tentang apakah mereka saling bertanya-tanya? Tentang berita yang besar, yang mereka perselisihkan tentang ini. Sekali-kali tidak; kelak mereka akan mengetahui, kemudian sekali-kali tidak; kelak mereka akan mengetahui. (An-Naba’: 1-5)

Bagi mereka, cukup kita bacakan firman Allah yang Maha Agung:

“Bahkan mereka mendustakan hari kiamat. Dan Kami sediakan bagi orang yang mendustakan kiamat api yang menyala-nyala.” (Al-Furqan: 11)


Kiamat Dekat, Jika Dibandingkan Umur Umat Terdahulu

Kedatangannya adalah sebuah kepastian. Sungguh segala sesuatu yang pasti kedatangannya, maka ia adalah perkara yang dekat.

Jarak diutusnya Rasul  hingga kiamat nanti adalah waktu yang sangat dekat jika dibandingkan umur dunia yang sudah sangat lama, sejak sebelum Adam  menempatinya bersama Hawa. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasalam bersabda:

“Perumpamaan kalian dan dua ahlul kitab (Yahudi dan Nasrani) adalah seperti seorang yang menyewa pekerja-pekerja. Ia berkata: “Siapakah yang mau bekerja untukku dari pagi hingga tengah siang dengan upah satu qirath?” Maka bekerjalah Yahudi. Lalu ia berkata: “Siapakah yang mau bekerja untukku dari tengah siang hingga shalat ashar dengan upah satu qirath?” Maka bekerjalah Nasrani. Kemudian ia berkata: “Siapa yang mau bekerja untukku dari ashar hingga tenggelam matahari dengan upah dua qirath?” Maka (bekerjalah suatu kaum, dan kalianlah mereka. Marahlah Yahudi dan Nasrani. Mereka berkata: “Kenapa kami yang lebih banyak pekerjaannya tetapi pemberiannya lebih sedikit?” Allah berfirman: “Apakah Aku mengurangi sesuatu dari hak kalian? Mereka berkata: “Tidak.” Allah berfirman: “Itulah keutamaan-Ku, Aku berikan kepada siapapun yang Aku kehendaki.”[1] 

 

Demikian perumpamaan umat Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasalam dan umat-umat sebelumnya. Hidup di akhir-akhir kehidupan dunia dengan umur yang sangat pendek, namun Allah berkahi dan Allah lipatgandakan pahala.

Ibnu Umar  mengisahkan, suatu saat sesudah shalat ashar, ketika matahari bersinar dari arah bukit Qu’aiqi’an[2], Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasalam duduk bersama para sahabat. Beliau Shalallahu ‘Alaihi Wasalam bersabda:

“Tidaklah umur kalian jika dibandingkan umur umat sebelum kalian kecuali seperti apa yang tersisa dari hari ini (yaitu waktu ashar) dan yang telah lalu darinya.”[3]

 

Dalam hadits lain Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasalam bersabda:

“Sesungguhnya ajal kalian dan ajal umat-umat yang telah lalu hanyalah seperti masa antara shalat ashar dan tenggelamnya matahari.”[4]

Hadits-hadits di atas semuanya menunjukkan bahwasanya apa yang tersisa dari umur dunia dibandingkan umurnya yang telah lalu adalah waktu yang sangat sedikit. Umat Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasalam adalah kaum terakhir yang hidup di muka bumi, sebagaimana Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasalam  adalah rasul terakhir yang Allah utus kepada manusia.

 

Pembaca rahimakumullah. Sesungguhnya apa yang dikatakan dekat oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan Rasul-Nya maka kita katakan itu dekat, walaupun manusia menganggapnya jauh. Allah Subhanahu Wa Ta’ala  berfirman:

“Sesungguhnya mereka memandang siksaan itu jauh (mustahil). Sedangkan Kami memandangnya dekat (pasti terjadi).” (Al-Ma’arij: 6-7)


Kiamat Adalah Rahasia Allah

Meskipun dekat, namun hari itu Allah rahasiakan. Tidak ada seorangpun mengetahuinya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala  berfirman:

“Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat: “Bilakah terjadinya?” Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada sisi Tuhanku; tidak seorang pun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. (Al-A’raf: 187)

Pengetahuan tentang hari kiamat adalah ilmu yang Allah khususkan untuk diri-Nya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala  berfirman:

“Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Luqman: 34)

 

Lima perkara inilah kunci-kunci ghaib yang Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasalam  sabdakan dalam hadits-Nya:

“Kunci-kunci ghaib ada lima, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah … Di antaranya adalah: dan tidak ada yang mengetahui kapan hari kiamat kecuali Allah.”

Alhasil, tidak satu makhlukpun mengerti kapan hari kiamat terjadi. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasalam  hanya mendapatkan wahyu dari Allah bahwa kiamat terjadi pada hari Jumat, sebagaimana Allah juga mewahyukan kepada beliau tentang tanda-tandanya. Selebihnya beliau tidak tahu kepastian hari tersebut.

Asy-Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad hafizhahullah berkata: “Adalah Nabi ketika ditanya tentang hari kiamat, beliau menjawabnya dengan menyebut sebagian tandanya. Maka tidak ada seorangpun selain Allah yang mengetahui di tahun berapa kiamat itu, di bulan apa kiamat itu, dan di tanggal manakah di bulan itu. (Adapun hari), hadits Rasul  telah menetapkan bahwa hari itu adalah hari Jum’at. Beliau Shalallau ‘Alaihi Wasalam bersabda:

“Sebaik-baik hari yang matahari terbit padanya adalah hari Jumat. Di hari itu Adam diciptakan, di hari itu ia dimasukkan jannah, dan di hari itu pulalah ia dikeluarkan dari jannah. Dan tidaklah kiamat itu ditegakkan kecuali pada hari Jumat.” [5](Qathfu Al-Janad Dani Syarh Muqaddimah Risalah Ibni Abi Za’id Al-Qairawani hal. 115)

 

Nabi Muhammad  –rasul paling mulia dari kalangan manusia–, demikian pula Jibril  –rasul (utusan) paling mulia dari kalangan malaikat– keduanya tidak mengerti bilakah hari itu terjadi. Ketika Jibril datang dalam bentuk manusia yang tidak dikenal, ia bertanya kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasalam  kapankah hari kiamat? Jawaban Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasalam  ketika itu tidak melebihi ucapan beliau:

“Tidaklah yang ditanya lebih tahu dari yang bertanya.” (Yakni keduanya sama-sama tidak mengetahui). (HR. Muslim)

Jika keduanya tidak mengerti kapan hari kiamat, masuk akalkah jika kemudian ada seseorang yang mengaku tahu kapan hari itu? Subhanallah, ini adalah kedustaan yang nyata!!

 

Bahkan Israfil –malaikat peniup sangkakala yang dengan tiupannya kiamat akan ditegakkan– pun tidak mengetahui kapan Allah perintahkan dia untuk meniupkan sangkakala. Yang ia lakukan hanyalah terus menatapkan pandangannya ke arah ‘Arsy –tidak berkedip sedikitpun– menanti perintah Allah untuk meniupkannya. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasalam bersabda:

“Sesungguhnya pandangan malaikat peniup sangkakala selalu tertuju ke arah Arsy semenjak Allah tugaskan. Khawatir andai ia diperintah meniupkannya sebelum mengedipkan keduanya, seolah-olah matanya dua bintang yang memancar.”[6]


Dua Jawaban Rasulullah Atas Pertanyaan Kapankah Kiamat?

Rasulullah  tidak mengetahui kapankah kiamat. Oleh karenanya, ketika ada pertanyaan diajukan kepada beliau tentang kiamat, beliau menjawabnya dengan dua jenis jawaban.

Pertama, beliau jawab pertanyaan itu dengan menyebutkan tanda-tandanya.

Kedua, beliau arahkan penanya untuk melakukan hal yang lebih penting, yaitu mempersiapkan bekal untuk menghadapinya. Anas bin Malik  berkata:

“Seorang bertanya kepada Nabi tentang hari kiamat, ia berkata: Kapankah hari kiamat? Beliau bersabda: “Apa yang telah kau siapkan untuk menghadapi hari itu?” Dia menjawab: “Tidak banyak bekalku, tetapi aku mencintai Allah dan Rasulnya .” Bersabdalah Rasulullah kepadanya: “Engkau bersama orang yang kau cintai.”

Sabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasalam  yang mulia ini benar-benar membahagiakan para sahabat. Kebahagiaan itu terungkap dari ucapan Anas berikutnya:

“Tidaklah kita berbahagia (setelah Islam) sebagaimana bahagianya kita dengan sabda Nabi : “Engkau bersama orang yang kau cintai.” Kemudian Anas berkata: “Maka aku mencintai Nabi , Abu Bakr dan Umar; aku berharap akan bersama mereka (di jannah) dengan kecintaanku pada mereka meski aku tidak mampu beramal sebagaimana amal mereka.”[7]

 

Alangkah indahnya sabda beliau, dan betapa jujurnya sahabat Anas . Sungguh kita pun berkata: “Ya Allah aku mencintai Nabi-Mu , Abu Bakr Ash-Shiddiq, ‘Umar bin Al-Khaththab, Utsman bin ‘Affan, Ali bin Abi Thalib, Al-Hasan, Al-Husain, Ummahatul Mukminin dan seluruh sahabat-sahabat Nabi-Mu. Aku berharap kepada-Mu, ya Allah, Engkau kumpulkan diriku bersama mereka di Firdaus-Mu… Walau aku tak mampu beramal sebagaimana amalan mereka. Walau aku tak mampu bertaubat sebagaimana taubat mereka.


Hadits-Hadits Yang Menetapkan Kepastian Waktu Terjadinya Kiamat Adalah Hadits Maudhu’ (Palsu)

Semua hadits tentang penentuan hari kiamat tidak benar penyandarannya kepada Rasulullah . Demikian Ibnu Katsir  memberikan faedah penting ini dalam kitabnya An-Nihayah.[8]

Ada baiknya pada majelis ini kita simak sebuah hadits yang dinukil Ibnul Qayyim dalam kitabnya Al-Manarul Munif, sebagai contoh hadits maudhu’ (palsu) tentang hari kiamat, karena penyelisihannya yang sangat jelas terhadap Al-Kitab dan As-Sunnah.

Diriwayatkan bahwasanya Rasulullah  bersabda: “Dunia itu berusia tujuh ribu tahun, dan kini kita berada pada seribu yang ketujuh.”    Mengomentari hadits ini, berkata Ibnul Qayyim: “Ini adalah kedustaan yang sangat nyata. Andaikata hadits ini shahih, niscaya semua orang tahu bahwa kiamat akan terjadi 251 tahun mendatang.”[9] (Al-Manarul Munif Fish-Shahih Wadh-Dha’if hal. 80)

Ibnu Hazm  berkata: “Kami tidak sedikitpun memastikan hitungan tertentu. Sedangkan orang yang menyangka bahwa dunia itu berumur tujuh ribu tahun atau lebih dari itu, atau kurang darinya, sungguh dia telah berdusta dan berbicara dengan sesuatu yang tidak pernah sedikitpun Rasulullah menyabdakannya dalam lafadz shahih. Bahkan telah shahih dari beliau  apa yang menyelisihi persangkaannya.

 

Kita memastikan bahwasanya dunia itu memiliki urusan yang tidak ada seorangpun mengerti kecuali Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

“Aku tidak menghadirkan mereka untuk menyaksikan penciptaan langit dan bumi dan tidak (pula) penciptaan diri mereka sendiri…” (Al-Kahfi: 51) [Al-Fishal 2/84]

 

Ghuluw Kaum Sufi

Di antara bentuk ghuluw (sikap berlebih-lebihan, red)  adalah perkataan sebagian pengikut hawa nafsu bahwa Nabi  mengetahui ilmu ghaib, termasuk di antaranya hari kiamat. Anehnya, di antara mereka berdalil dengan hadits shahih. Tentu saja mereka pelintir maknanya menurut pemahaman dan hawa nafsu mereka. Na’udzubillah minal fitan (Kita berlindung dari godaan dan fitnah).

Sabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasalam kepada Jibril  ketika bertanya tentang kapan hari kiamat:

“Tidaklah yang ditanya lebih mengetahui dari yang bertanya.”

Mereka tafsirkan dengan penafsiran yang menyelisihi Al-Kitab dan As-Sunnah, serta menyelisihi kesepakatan umat. Kata mereka: “Makna hadits ini bahwasanya aku (Rasulullah ) dan engkau (Jibril ), sama-sama mengetahui kapan terjadinya hari kiamat.”

 

Lihatlah, wahai kaum muslimin. Bagaimana setan menipu mereka dan menghiasi kebatilan dengan angan-angan dusta yang mengantarkan kepada kebinasaan. Mereka tafsirkan hadits dengan penafsiran yang menyelisihi kesepakatan salaf umat ini dari kalangan sahabat, tabi’in, atba’ut tabi’in dan orang yang mengikuti mereka dengan baik. Bahkan menyelisihi nash (dalil yang jelas) dari Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Melengkapi pembahasan dalam Al-Manarul Munif, Ibnul Qayyim membantah pemahaman keliru dan batil akan hadits Jibril di atas dengan pembahasan yang sangat bagus. Beliau sertakan juga hadits-hadits shahih yang menunjukkan ketidaktahuan Rasulullah  terhadap perkara ghaib. Kesimpulan bantahan itu kita katakan bahwa Rasulullah  –ketika datang Jibril dalam bentuk seorang Arab badui dengan baju yang sangat putih dan rambut yang sangat hitam– beliau samasekali tidak mengetahui bahwa laki-laki itu adalah Jibril. Dalam sebuah riwayat Rasulullah bersabda:

Tidaklah Jibril datang padaku dalam suatu bentuk kecuali aku mengenalinya, kecuali bentuk ini (yakni dalam kejadian hadits Jibril).”[10]

Akankah beliau mengatakan kepada orang yang beliau sangka manusia badui biasa, dan beliau tidak tahu dia adalah Jibril dengan ucapan: “Aku dan engkau (wahai lelaki badui yang tidak aku kenal-pen) mengetahui kiamat?” Mahasuci Allah. Ini tentu sebuah kedustaan.

Terlebih lagi ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits nabawi dengan tegas menyelisihinya. Jawaban Ibnul Qayyim dan pembahasan yang sangat bermanfaat selengkapnya bisa dilihat dalam kitab tersebut hal. 81-84.

 

Pembaca rahimakumullah. Ghuluw kepada Nabi  bukan hanya perkataan mereka bahwa beliau  mengetahui hari kiamat. Lebih dari itu, mereka meyakini bahwa Rasulullah  mengetahui segala yang ghaib dan mengerti semua yang ada di Al-Lauhul Mahfuzh.

Dalam Mimiyah Al-Bushiri, yang dikenal dengan Qashidah Burdah, penulisnya Al-Bushiri[11] berkata:

“Dan di antara ilmu-ilmumu (wahai Nabi) adalah ilmu Al-Lauhil Mahfuzh dan pena (pencatat taqdir).

Sungguh, sebuah ucapan yang telah mencapai puncak kebatilan. Di mana kandungannya menetapkan bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasalam  mengetahui perkara-perkara ghaib. Perlu diketahui bahwa ucapan-ucapan serupa yang penuh dengan syirik dan kebid’ahan banyak tertera dalam Qashidah tersebut. Wal ‘iyadzubillah.

 

Dengan lancang ia selisihi Al-Qur’an dan As-Sunnah yang menunjukkan bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasalam  tidak mengetahui perkara ghaib. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

“Katakanlah (wahai Nabi): “Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib, kecuali Allah”, dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan. (An-Naml: 65)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala juga berfirman:

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Al-Lauh Al-Mahfuzh).” (Al-An’am: 59)

Wahai para penyanjung Qashidah Burdah, dan mereka yang selalu mendendangkannya. Jawablah dengan jujur. Ucapan Bushiri-kah yang benar atau firman-firman Allah dan sabda Rasul-Nya? Renungkan ayat-ayat di atas, lalu bandingkan dengan bait-bait kufur Qoshidah Burdah yang kalian dendangkan. Segeralah kembali ke jalan yang benar sebelum Allah Subhanahu Wa Ta’ala menutup pintu taubat.


Ramalan Kiamat, Upaya Mendangkalkan Aqidah Umat

Ramalan semacam isu bahwa Desember 2012 diramalkan sebagai hari H berakhirnya dunia. Ramalan ini bukan kedustaan pertama dalam peradaban manusia. Ramalan-ramalan kiamat sebenarnya telah tercatat dalam catatan panjang sejarah, namun tetap saja ramalan serupa dihembuskan ditengah-tengah manusia.

Muslim yang kokoh akidahnya akan segera melihat ramalan ini sebagai kedustaan. Akan tetapi di saat berita ini diterima oleh orang yang lemah imannya, yang tidak mengerti akidah yang benar, goncanglah jiwanya dan sempitlah dadanya.

Ada satu sisi yang ingin kita ingatkan di sini. Sesungguhnya musuh-musuh Islam terus berusaha menghembuskan berita-berita dan keyakinan yang merusak aqidah umat dengan segala media yang mereka miliki. Berita kiamat 2012 adalah sebagian kecil dari upaya musuh Islam mendangkalkan aqidah dan akhlak kaum muslimin.

Dari sini muncul sebuah pertanyaan: “Apa benteng untuk menghadapi perang pemikiran itu?”

 

Al-Kitab dan As-Sunnah Adalah Benteng Dari Kesesatan

Al-Kitab dan As-Sunnah adalah pelita di tengah kegelapan dan benteng dari kesesatan. Apapun ujian/godaan yang menimpa, ketika seorang mengembalikan kepada keduanya niscaya dia dapatkan jawaban yang membantah semua kerancuan.

Seorang mukmin yang mengenal Allah, Rasul-Nya dan agama Islam, ketika ramalan kiamat mengetuk gendang telinganya ia akan segera tersentak dan menjawab bahwa dalil-dalil Al-Kitab dan As-Sunnah secara tegas menunjukkan bahwa kiamat tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah.

Di akhir majelis, sejenak kita baca sebuah hadits di antara hadits-hadits yang membantah ramalan kiamat 2012, yaitu hadits tentang turunnya Isa bin Maryam  ke muka bumi. Beliau akan turun dan menetap di dunia selama tujuh tahun. Dalam hadits tersebut dikatakan:

“Maka Allah utus ‘Isa bin Maryam[12] … kemudian hiduplah manusia selama tujuh tahun, tidak ada permusuhan antara dua orang,[13] hingga Allah kirimkan angin dari arah Syam. Tidak ada seorangpun di muka bumi yang ada kebaikan atau iman dalam hatinya melainkan angin ini akan mewafatkannya.”[14]

Kita katakan, seandainya Nabi Isa turun di tahun ini, 2010 M, niscaya beliau akan tinggal di dunia tujuh tahun ke depan. Artinya, kita bisa pastikan bahwa 2012 bukanlah hari kiamat yang mereka sangkakan.

Kaum muslimin, rahimakumullah. Setelah hadits ini dan hadits-hadits yang demikian banyak menunjukkan kedustaan semua ramalan kiamat, akankah kemudian seorang yang beriman terusik dengan berita-berita dusta itu?

Wallahu a’lam bish-shawab. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin. Wa shallalahu ‘ala Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam.


Sumber: 
Majalah Asy Syariah, Kiamat Sudah Dekat Namun tak Seorang pun Mengerti
Oleh: Al-Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc


Catatan (Takhrij Hadits)

Dari Anas bin Malik : Rasulullah bersabda:  “Aku diutus, dan kiamat (demikian dekat) sebagaimana (dekatnya) dua jari ini.” Beliau rapatkan jari telunjuk dan jari tengah.
Hadits Anas bin Malik  dengan lafadz tersebut di atas diriwayatkan Al-Imam Muslim dalam Ash-Shahih (4/2268 no. 2951) dari jalan Abu Ghassan Al-Misma’i, dari Mu’tamir bin Sulaiman bin Tharkhan, dari bapaknya, dari Ma’bad bin Hilal Al-‘Anazi, dari Anas bin Malik .
Semua perawinya tsiqah, termasuk para perawi Ash-Shahihain, kecuali Abu Ghassan, Al-Bukhari tidak meriwayatkan haditsnya dalam Ash-Shahih.
Diriwayatkan pula oleh Al-Imam Muslim dalam Shahih-nya (4/2268 no. 2951) dan At-Tirmidzi dalam As-Sunan (4/496 no. 2214) melalui jalan Syu’bah, dari Qatadah, dari Anas .
Dalam riwayat Muslim, Syu’bah berkata:
Aku mendengar Qatadah dalam kisahnya berkata: “(Dekatnya kiamat itu) seperti perbedaan panjang keduanya.” Namun aku tidak tahu apakah Qatadah meriwayatkan dari Anas, atau ini ucapan Qatadah.
Hadits Anas  diriwayatkan pula dari sahabat Sahl bin Sa’d  dalam Ash-Shahihain dan Musnad Imam Ahmad, demikian pula dari Jabir bin Abdillah  dalam Sunan Ibnu Majah dengan keragaman lafadz.


Makna Hadits

Al-Qurthubi  berkata dalam At-Tadzkirah: Sabda beliau: “Aku diutus, dan kiamat (demikian dekat) sebagaimana (dekatnya) dua jari ini,” mengandung makna bahwasanya ‘aku’ adalah nabi terakhir. Tidak ada nabi lain sesudah’ku’. Yang datang mengiringiku adalah hari kiamat, sebagaimana jari telunjuk langsung diiringi jari tengah.
(Hadits ini juga bermakna bahwa) kiamat itu demikian dekat. dan tanda-tandanya telah berdatangan silih berganti. Sebagaimana Allah sebutkan dalam firman-Nya:
“Maka tidaklah yang mereka tunggu-tunggu melainkan hari kiamat (yaitu) kedatangannya kepada mereka dengan tiba-tiba, karena sesungguhnya telah datang tanda-tandanya…” (Muhammad: 18)
Yakni kiamat itu telah dekat, dan tanda pertamanya adalah (diutusnya) Nabi , karena beliau adalah nabi akhir zaman. Allah utus beliau dan tidak ada nabi lain sesudahnya hingga tegaknya hari kiamat…” (At-Tadzkirah Bi Ahwalil Mauta Wa Umuril Akhirah 3/1219)
Ibnu At-Tin  berkata: “Terjadi perselisihan mengenai makna sabda Rasul  Seperti dua jari ini. Sebagian berpendapat: ‘Seperti perbedaan panjang antara jari telunjuk dan tengah.’ Sebagian lagi berpendapat: ‘(Maknanya), tidak ada nabi antara beliau  dan hari kiamat.’ Demikian dinukilkan Al-Mubarakfuri dalam Tuhfatul Ahwadzi (6/73).


Catatan Kaki :

[1] Al-Bukhari no. 2268.
[2] Sebuah gunung 12 mil selatan Makkah. Lihat An-Nihayah fi Gharibil Hadits (4/88).
[3] Musnad Al-Imam Ahmad (8/176 no. 5966) dengan tahqiq Asy-Syaikh Ahmad Syakir, beliau berkata: “Sanadnya shahih.”
[4] Al-Bukhari (6/495 no. 3459)
[5] HR. Muslim dalam As-Shahih (2/585 no.854) dari Abu Hurairah, Abdurrahman bin Shakhr Ad-Dausi z.
[6] HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak (4/603). Ibnu Hajar menghasankannya dalam Al-Fath (11/447), dishahihkan Al-Albani dalam Ash-Shahihah (3/65 no. 1078).
[7] Al-Bukhari meriwayatkan hadits Anas z dalam Shahih-nya no. 3688.
[8] Lihat An-Nihayah Fil Fitan Wal Malahim (1/195).
[9] Ucapan Ibnul Qayyim menunjukkan bahwa kitab Al-Manarul Munif ditulis sekitar tahun 749 H, yaitu 251 tahun sebelum tahun 1000 H. Kini kita memasuki tahun 1431 H, kedustaan itu semakin terang. Jika berita ini benar dari Rasulullah n niscaya kiamat sudah terjadi 431 tahun silam.
[10] Musnad Imam Ahmad (1/53) dari Umar bin Al-Khaththab .
[11] Muhammad bin Sa’id Al-Bushiri, (608-695 H) berkubang dalam lumpur tashawuf, dibenci manusia lantaran kata-katanya yang kotor. Meminta-minta bahkan menjilat penguasa demi harta, adalah kebiasaannya. Menetapi tarekat Syadziliyyah dan menulis Qashidah Burdah yang dipenuhi ghuluw, bid’ah dan kesyirikan.
 [12] Yakni Allah turunkan beliau dari langit.
 [13] Di masa Isa bin Maryam As bumi penuh dengan keadilan dan keamanan bahkan disebutkan dalam riwayat bahwasannya anak-anak kecil bermain dengan ular-ular tidak ada sedikitpun bahaya. Lihat Musnad Imam Ahmad (2/406) dan dishahihkan sanadnya oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari (6/493)
 [14] HR. Imam Muslim dalam Shahih-nya no.2940


Sunday, September 2, 2012

Renungan Menghadapi Kematian

“Seandainya kematian merupakan tempat peristirahatan yang tenang dari seluruh keluh kesah hidup manusia di dunia… niscaya kematian merupakan suatu kabar gembira yang dinanti-natikan bagi setiap insan… Akan tetapi kenyataannya berbeda… setelah kematian itu ada pertanggung jawaban dan ada kehidupan…”







Kematian Adalah Kepastian
Betapa banyak berita kematian yang sampai di telinga kita, mungkin mengkhabarkan bahwa tetangga kita, kerabat kita, saudara kita atau teman kita telah meninggal dunia, menghadap Allah Ta’ala. Akan tetapi betapa sedikit dari diri kita yang mampu mengambil pelajaran dari kenyataan tersebut. Saudaraku, kita tidak memungkiri bahwa datangnya kematian itu adalah pasti. Tidak ada manusia yang hidup abadi. Realita telah membuktikannya.


Allah Ta’ala telah berfirman.
“Setiap jiwa pasti akan mengalami kematian, dan kelak pada hari kiamat saja lah balasan atas pahalamu akan disempurnakan, barang siapa yang dijauhkan oleh Allah Ta’ala dari neraka dan dimasukkan oleh Allah Ta’ala ke dalam surga, sungguh dia adalah orang yang beruntung (sukses).”  
(QS. Ali Imran : 185)


Allah Ta’ala juga telah berfirman,
“Katakanlah (wahai Muhammad) sesungguhnya kematian yang kalian lari darinya pasti akan mendatangi kalian, kemudian kalian akan dikembalikan kepada Dzat Yang Maha Mengetahui apa yang tersembunyi dan apa yang nampak, kemudian Allah Ta’ala akan memberitahukan kepada kalian setiap amalan yang dahulu kalian pernah kerjakan.” (QS. Al Jumu’ah : 8)


Saudaraku, kematian itu milik setiap manusia. Semuanya akan menjumpai kematian pada saatnya. Entah di belahan bumi mana kah manusia itu berada, entah bagaimanapun keadaanya, laki-laki atau perempuan kah, kaya atau miskin kah, tua atau muda kah, semuanya akan mati jika sudah tiba saatnya. Allah Ta’ala berfirman,
“Dan bagi tiap-tiap jiwa sudah ditetapkan waktu (kematiannya), jika telah tiba waktu kematian, tidak akan bisa mereka mengundurkannya ataupun mempercepat,meskipun hanya sesaat” (QS. Al A’raf :34)
Saudaraku, silakan berlindung di tempat manapun, tempat yang sekiranya adalah tempat paling aman menjadi persembunyian. Mungkin kita bisa lari dari kejaran musuh, selamat dari kejaran binatang buas, lolos dari kepungan bencana alam. Namun, kematian itu tetap akan menjemput diri kita, jika Allah Ta’ala sudah menetapkan. Allah Ta’ala berfirman,
“Dan dimanapun kalian berada, niscaya kematian itu akan mendatangi kalian, meskipun kalian berlindung di balik benteng yang sangat kokoh.” (QS. An Nisa : 78)



Kematian Adalah Rahasia Sang Pencipta
Kematian manusia sudah Allah Ta’ala tetapkan atas setiap hamba-Nya sejak awal penciptaan manusia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya proses penciptaan manusia di dalam perut ibu, berlangsung selama 40 hari dalam bentuk air mani, kemudian menjadi segumpal darah yang menggantung selama 40 hari, kemudian menjadi segumpal daging  selama 40 hari juga. Kemudian Allah mengutus seorang malaikat untuk meniupkan ruh pada janin tersebut, dan diperintahkan untuk mencatat empat ketetapan : rezekinya, kematiannya, amalannya, dan akhir kehidupannya, menjadi orang bahagia ataukah orang yang celaka….” (HR. Bukhari dan Muslim)

Allah Ta’ala telah berfirman,
“Sesungguhnya di sisi Allah sajalah pengetahuan tentang (kapankah) datangnya hari kiamat, dan Dia-lah yang menurunkan air hujan, dan Dia lah yang mengetahui tentang apa yang ada di dalam rahim, dan tidak ada seorang pun yang mengetahui (dengan pasti) apa yang akan dia kerjakan esok hari, dan tidak ada seorang pun yang mengetahui di bumi manakah dia akan mati..” (QS. Luqman : 34)


Saudaraku, jika kita tidak tahu di bumi manakah kita akan mati, di waktu kapan kah kita akan meninggal, dan dengan cara apakah kita akan mengakhiri kehidupan dunia ini, masih kah kita merasa aman dari intaian kematian…? Siapa yang bisa menjamin bahwa kita bisa menghirup segarnya udara pagi esok hari…? Siapa yang bisa menjamin kita bisa tertawa esok hari…? Atau…. siapa tahu sebentar lagi giliran kematian Anda wahai Saudaraku…
Di manakah saudara-saudara kita yang telah meninggal saat ini…? Yang beberapa waktu silam masih sempat tertawa dan bercanda bersama kita…Saat ini mereka sendiri di tengah gelapnya himpitan kuburan… Berbahagialah mereka yang meninggal dengan membawa amalan sholeh… dan sungguh celaka mereka yang meninggal dengan membawa dosa dan kemaksiatan…



Faidah Mengingat Kematian
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Perbanyaklah kalian mengingat pemutus kelezatan dunia”. Kemudian para shahabat bertanya. “Wahai Rasulullah apakah itu pemutus kelezatan dunia?” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Kematian” (HR. Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman, hadits dari shahabat Abu Hurairah)
Ad Daqaaq rahimahullahu mengatakan, “Barangsiapa yang banyak mengingat kematian, maka akan dianugerahi oleh Allah tiga keutamaan, [1] bersegera dalam bertaubat, [2] giat dan semangat dalam beribadah kepada Allah, [3] rasa qana’ah dalam hati (menerima setiap pemberian Allah)”(Al Qiyamah Ash Shugra, Syaikh Dr. Umar Sulaiman Al Asyqar)



Bersegera dalam Bertaubat
Sudah dapat dipastikan bahwa manusia adalah makhluk yang banyak dosa dan kemaksiatan. Seorang manusia yang banyak mengingat kematian, dirinya sadar bahwa kematian senantiasa mengintai. Dia tidak ingin menghadap Allah Ta’ala dengan membawa setumpuk dosa yang akan mendatangkan kemurkaan Allah Ta’ala. Dia akan sesegera mungkin bertaubat atas dosa dan kesalahannya, kembali kepada Allah Ta’ala. Allah telah berfirman,
“Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah bagi orang-orang yang mengerjakan keburukan dikarenakan kebodohannya, kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima taubatnya oleh Allah, dan Allah Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana” (QS. An Nisa : 17)

Maksud dari berbuat keburukan karena kebodohan dalam ayat di atas, bukanlah kebodohan seorang yang tidak mengetahui sama sekali bahwa apa yang dia kerjakan merupakan sebuah keburukan. Orang yang berbuat buruk dan tidak mengetahui sama sekali tidak akan dihukum oleh Allah. Akan tetapi yang dimaksud kebodohan di sini adalah seseorang yang mengetahui bahwa apa yang dia lakukan adalah keburukan, namun dia tetap saja melakukannya lantaran dirinya dikuasai oleh hawa nafsu. Inilah makna kebodohan dalam ayat di atas. (Syarah Qowaidul Arba’ Syaikh Sholeh Fauzan).
Allah Ta’ala berfirman, “Dan bersegeralah menuju ampunan dari Rabb kalian dan menuju surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang telah dipersiapkan (oleh Allah) bagi orang-orang yang bertaqwa” (QS. Ali Imran : 133)



Giat dan Semangat dalam Beribadah kepada Allah
Seorang yang banyak mengingat kematian, akan senantiasa memanfaatkan waktunya untuk beribadah kepada Allah Ta’ala. Suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Abdullah Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, “Jadilah engkau di dunia ini bagaikan seorang yang asing atau seorang yang sedang menempuh perjalanan yang jauh”, mendengar sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ini, lantas Abdullah ibnu Umar berkata, “Jika engkau berada di sore hari jangan engkau tunggu datangnya pagi hari, jika engkau berada di pagi hari jangan engkau tunggu datangnya sore hari, pergunakanlah waktu sehatmu (dalam ketaatan kepada Allah) sebelum datangnya waktu sakitmu, dan pergunakanlah waktu hidupmu sebelum kematian datang menjemputmu.” (HR. Bukhari)



Rasa Qana’ah di Dalam Hati
Allah Ta’ala akan menanamkan rasa qana’ah di dalam hati seseorang yang banyak mengingat kematian. Rasa qana’ah yang membuat seseorang merasa cukup terhadap setiap pemberian Allah Ta’ala, bagaimanapun dan berapa pun pemberian Allah. Suatu saat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyampaikan nasehat kepada Abu Dzar. Abu Dzar berkata,
“Kekasihku yakni Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintah tujuh perkara padaku, (di antaranya): Beliau memerintahkanku agar mencintai orang miskin dan dekat dengan mereka, dan beliau memerintahkan aku agar melihat orang yang berada di bawahku (dalam masalah harta dan dunia), juga supaya aku tidak memperhatikan orang yang berada di atasku. …” (HR. Ahmad. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih)
Seseorang yang banyak mengingat kematian, meyakini bahwa segala pemberian Allah dari perbendaharaan dunia adalah titipan dari Allah. Seluruhnya akan diambil kembali oleh Allah, dan akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah Ta’ala atas seluruh pemberian tersebut. Nas’alullaha al afiyah.



Kehidupan setelah Kematian
“Saudaraku, seandainya kematian merupakan tempat peristirahatan yang tenang dari seluruh keluh kesah hidup manusia di dunia… niscaya kematian merupakan suatu kabar gembira yang dinanti-natikan bagi setiap manusia… Akan tetapi kenyataannya berbeda… setelah kematian itu ada pertanggung jawaban dan ada kehidupan… kehidupan yang sebenarnya…”
Diantara keimanan kepada hari kiamat adalah meyakini bahwa setelah kematian ini ada kehidupan. Semuanya akan berlanjut ke alam kubur kemudian ke alam akhirat. Di sana ada pengadilan Allah Ta’ala yang Maha Adil. Semua manusia akan diadili, mempertanggungjawabkan setiap amalan yang dia perbuat. Allah Ta’ala berfirman,
“Barangsiapa yang berbuat kebaikan meskipun sekecil biji dzarah, niscaya dia akan melihat hasilnya, dan barang siapa yang berbuat keburukan meskipun sekecil biji dzarah, niscaya dia akan melihat akibatnya” (QS. Al Zalzalah: 7-8)

Terakhir Saudaraku, jadilah orang yang cerdas. Orang yang cerdas dalam memandang hakikat kehidupan di dunia ini. Abdullah Ibnu Umar dia pernah berkata, ‘Aku bersama Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu seorang laki-laki Anshar datang kepada beliau, kemudian mengucapkan salam kepada beliau, lalu dia berkata, ‘Wahai Rasulullah, manakah di antara kaum mukminin yang paling utama?’. Beliau menjawab, ‘Yang paling baik akhlaknya di antara mereka.’ Dia berkata lagi, ‘Manakah di antara kaum mukminin yang paling cerdas?’. Beliau menjawab, ‘Yang paling banyak mengingat kematian di antara mereka, dan yang paling baik persiapannya setelah kematian. Mereka itu orang-orang yang cerdas.’” (HR. Ibnu Majah)


Semoga bermanfaat. Allahul Muwaffiq ila Aqwamit Thariq


Sumber :
Renungan Menghadapi Kematian  [Hanif Nur Fauzi]

Saturday, September 1, 2012

Amalan yang Dapat Menyelamatkan Manusia dari Azab Kubur

Setelah memberitahukan dahsyatnya azab kubur dan sebab-sebab yang akan menyeret ke dalamnya, baik melalui firman-Nya ataupun melalui lisan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasalam yang mulia, dengan rahmat dan keutamaan-Nya, Allah Subhanahu Wa Ta’ala juga memberitahukan amalan-amalan yang akan menyelamatkan dari azab kubur tersebut.

 

 

 

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:

“Sebab-sebab yang akan menyelamatkan seseorang dari azab kubur terbagi menjadi dua:

 

 

 

 

 

 

 

 

1. Sebab-sebab Umum

Yaitu dengan menjauhi seluruh sebab yang akan menjerumuskan ke dalam azab kubur sebagaimana yang telah disebutkan.

 

Sebab yang paling bermanfaat adalah seorang hamba duduk beberapa saat sebelum tidur untuk mengevaluasi dirinya: apa yang telah dia lakukan, baik perkara yang merugikan maupun yang menguntungkan pada hari itu. Lalu dia senantiasa memperbarui taubatnya yang nasuha antara dirinya dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, sehingga dia tidur dalam keadaan bertaubat dan berkemauan keras untuk tidak mengulanginya bila nanti bangun dari tidurnya. Dia lakukan itu setiap malam. Maka, apabila dia mati (ketika tidurnya itu), dia mati di atas taubat. Apabila dia bangun, dia bangun tidur dalam keadaan siap untuk beramal dengan senang hati, karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala menunda ajalnya hingga dia menghadap Rabbnya dan berhasil mendapatkan segala sesuatu yang terluput. Tidak ada perkara yang lebih bermanfaat bagi seorang hamba daripada taubat ini. Terlebih lagi bila dia berzikir setelah itu dan melakukan sunnah-sunnah yang datang dari Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasalam ketika dia hendak tidur sampai benar-benar tertidur. 

 

Maka, barangsiapa yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala kehendaki kebaikan baginya, niscaya Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan berikan hidayah taufik untuk melakukan hal itu. Dan tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

 

2. Sebab-sebab Khusus

 

Di antaranya:

 

- Ribath (berjaga di pos perbatasan wilayah kaum muslimin) siang dan malam.

Dari Fadhalah bin Ubaid radiyallahu anhu, Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasalam bersabda:

“Setiap orang yang mati akan diakhiri/diputus amalannya, kecuali orang yang mati dalam keadaan ribath di jalan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Amalannya akan dikembangkan sampai datang hari kiamat dan akan diselamatkan dari fitnah kubur.” (HR. At-Tirmidzi dan Abu Dawud)

 

- Mati syahid

Dari Ubadah bin Ash-Shamit radiyallahu anhu, dari Nabi Shalallahu Alaihi Wasalam:

“Orang yang mati syahid akan mendapatkan enam keutamaan di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala: diampuni dosa-dosanya dari awal tertumpahkan darahnya, akan melihat calon tempat tinggalnya di surga, akan diselamatkan dari azab kubur, diberi keamanan dari ketakutan yang sangat besar, diberi hiasan dengan hiasan iman, dinikahkan dengan bidadari, dan akan diberi kemampuan untuk memberi syafaat kepada 70 orang kerabatnya.” 

(HR. Ahmad, At-Tirmidzi, Ibnu Majah. Al-Albani berkata dalam Ahkamul Jana’iz bahwa sanadnya hasan)

 

- Mati pada malam Jumat atau siang harinya.

Dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-’Ash c, dari Nabi Shalallahu Alaihi Wasalam, beliau bersabda:

“Tidaklah seorang muslim meninggal pada hari Jumat atau malamnya, kecuali Allah akan melindunginya dari fitnah kubur.” (HR. Ahmad dan Al-Fasawi. Asy-Syaikh Al-Albani mengatakan dalam Ahkamul Jana’iz bahwa hadits ini dengan seluruh jalur-jalurnya hasan atau shahih)

 

- Membaca surat Al-Mulk

Dari Ibnu Abbas radiyallahuanhu, Nabi Shalallahu Alaihi Wasalam bersabda:

“Dia (surat Al-Mulk) adalah penghalang, dia adalah penyelamat yang akan menyelamatkan pembacanya dari azab kubur.”  

(HR. At-Tirmidzi, lihat Ash-Shahihah no. 1140) [dinukil dari Ar-Ruh dengan sedikit perubahan]

 

- Doa 

yaitu sebagaimana yang telah lalu, bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasalam berdoa untuk berlindung dari azab kubur dan memerintahkan umatnya untuk berlindung darinya.

 

 

Nikmat Kubur

Setelah mengetahui dan meyakini adanya azab kubur yang demikian mengerikan dan menakutkan, berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah yang shahih, juga mengetahui macam-macamnya, penyebabnya, dan hal-hal yang akan menyelamatkan darinya, maka termasuk kesuksesan yang agung adalah selamat dari berbagai azab tersebut dan mendapatkan nikmat di dalamnya dengan rahmat-Nya.

 

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:  “Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih maka Rabb mereka memasukkan mereka ke dalam rahmat-Nya (surga). Itulah keberuntungan yang nyata.” (Al-Jatsiyah: 30)

 

“Katakanlah: ‘Sesungguhnya aku takut akan azab hari yang besar (hari kiamat), jika aku mendurhakai Rabbku.’ Barangsiapa yang dijauhkan azab daripadanya pada hari itu, maka sungguh Allah telah memberikan rahmat kepadanya. Dan itulah keberuntungan yang nyata.” (Al-An’am: 15-16)


Adapun nikmat kubur 

di antaranya apa yang Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasalam beritakan dalam hadits Al-Bara’ rahimahullah yang panjang:

- mendapatkan ampunan dan keridhaan-Nya.  

Sebagaimana perkataan malakul maut kepada orang yang sedang menghadapi sakaratul maut:  “Wahai jiwa yang tenang, keluarlah menuju ampunan Allah dan keridhaan-Nya.”

- dikokohkan hatinya untuk menghadapi dan menjawab fitnah kubur.

“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat.”  

(Ibrahim: 27)

- Digelarkan permadani, didandani dengan pakaian dari surga, dibukakan baginya pintu menuju surga, dilapangkan kuburnya, dan di dalamnya ditemani orang yang tampan wajahnya, bagus penampilannya,  

 

sebagaimana yang Rasulullah Shalallahu Alaihi 

Wasalam kabarkan dalam hadits Al-Bara’ yang panjang:

“Maka gelarkanlah permadani dari surga, dandanilah ia dengan pakaian dari surga. Bukakanlah baginya sebuah pintu ke surga, maka sampailah kepadanya bau wangi dan keindahannya. Dilapangkan kuburnya sejauh mata memandang, kemudian datang kepadanya seorang yang tampan wajahnya, bagus pakaiannya, wangi baunya. Lalu dia berkata: ‘Berbahagialah dengan perkara yang menyenangkanmu. Ini adalah hari yang dahulu kamu dijanjikan.’ Dia pun bertanya: ‘Siapa kamu? Wajahmu adalah wajah orang yang datang membawa kebaikan.’ Dia menjawab: ‘Aku adalah amalanmu yang shalih…” (HR. Ahmad dan Abu Dawud)

 

Mudah-mudahan Allah Subhanahu Wa Ta’ala meneguhkan hati kita di atas kalimat tauhid hingga akhir hayat kita dan menyelamatkan kita dari berbagai fitnah (ujian) dunia dan fitnah kubur, serta memasukkan kita ke dalam jannah-Nya. Amin ya Rabbal ‘alamin

 

Sumber :
Amalan yang Menyelamatkan dari Azab Kubur
(ditulis oleh: Al-Ustadz Abul Abbas Muhammad Ihsan), dalam Majalah Asy-Syariah,  (Kajian Utama edisi 51)  


Kemerdekaan Menurut Islam

Salah satu hak setiap bangsa, golongan, masyarakat atau pribadi yaitu hak mendapatkan kemerdekaan lahir batin. Lalu, ba...