Friday, October 12, 2012

Surat Tentang Kiamat

Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang


Hari Kiamat,

apakah hari Kiamat itu?

Tahukah kamu apakah hari Kiamat itu?

Pada hari itu manusia adalah seperti anai-anai yang bertebaran,

dan gunung-gunung adalah seperti kapas yang terbusar.

Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan)nya,

maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan.

Dan adapun orang-orang yang ringan timbangannya,

maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah.

Tahukah kamu apakah neraka Hawiyah itu?

(Yaitu) api yang sangat panas.

 

 

Surat ini dinamakan dengan Al Qaari’ah karena dimulai dengan kata Al Qaari’ah untuk membuat mengerikan dan memberi rasa takut sebagaimana surat Al Haqqah dan Al Ghasyiyah di awali dengan kedua kata itu. Karena surat ini mengetuk hati dengan keras hingga mengagetkannya dengan keadaan mengerikan.

Tatkala surat Al Adiyat ditutup dengan gambaran hari kiamat pada firman Allah Ta’ala :

“maka apakah Dia tidak mengetahui jika dibangkitkan apa yang di dalam kubur. Dan dilahirkan apa yang ada di dalam dada. Sesungguhnya Tuhan mereka pada hari itu Maha Mengetahui tentang diri mereka”

Surat ini termasuk Makkiyyah. Temanya adalah pemberitahuan tentang sebagian kejadian hari kiamat yang mengerikan yang mengerikan dan membuat takut pada kejadian itu.

 

Penjelasan kosa kata


“Al Qaari’ah”

Al Qari’ah merupakan salah satu nama hari kiamat, karena dia mengetuk dengan keras hati dan pendengaran dengan kejadiannya yang mengerikan dan mengagetkan. Dari kata Qara’ yang berarti memukul dengan keras.

“Tahukah kamu apakah Al Qaari’ah itu”

Pertanyaan ini untuk membuat takut, karena ia adalah sesuatu yang tidak diketahui keadaanya. Allah Ta’ala mengulangi pertanyaan seperti itu sebagai tambahan tentang teramat sangatnya rasa takut saat itu.

Pada hari itu manusia adalah seperti  “Anai – anai yang bertebaran”

Ia adalah binatang terbang yang bodoh yang (sengaja datang dan) berjatuhan ke dalam api

 

“Bertebaran”

Yang tersebar terpisah – terpisah dalam jumlah yang banyak, ke sana-sini, dalam keadaan hina, saling menabrak, mereka saling berlari dan saling menginjak karena bingung.

 

“Dan gunung – gunung seperti kapas yang terbusar”

Dalam keadaannya yang sangat mudah diterbangkan dan berhamburan menjadi rata dengan tanah.

 

Dan adapun orang-orang yang “berat timbangannya”  (kebaikan)nya

Lebih berat kebaikannya dibandingkan dengan keburukannya.

 

“Maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan”

Yang di sukai olehnya penghuninya yaitu surga

 

Dan adapun orang-orang yang “ringan timbangannya”

Dimana keburukannya lebih berat dari kebaikannya.

 

“Maka tempat kembalinya adalah Hawiyah”

Maka rumah dan tempat tinggal yang dia tempati adalah neraka jahannam.

 

“Dan tahukah kamu”

Apa yang engkau ketahui..? pertanyaan ini untuk membuat takut.

 

“Apakah Hawiyah itu”

Salah satu nama neraka jahannam

 

“Dia adalah api yang sangat panas”

Telah tersebut di dalam sunnah, hadist – hadist tentang sifat neraka. Diantaranya hadist oleh Bukhary, Muslim, Malik, dan sebagainya :

Dari Abu Hurairah bahwa nabi bersabda :

“Sesungguhnya api manusia yang kalian nyalakan hanya satu dari tujuh puluh bagian api neraka. Para shahabat berkata : ‘wahai Rasulullah ! andaikan itupun (api dunia yang sepertujuh puluh), maka juga sudah cukup’. Maka Rasul menegaskan : ‘ dia (api neraka) melebihnya (api dunia) sebanyak enampuluh sembilan kali lipat’ “

Imam At Turmudzy dan Ibnu Majah meriwayatkan dari hadist Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasul bersabda :

“ Neraka dinyalakan seribu tahun hingga merah, lalu dinyalakan seribu tahun hingga putih, lalu dinyalakan seribu tahun hingga hitam, dia (neraka) itu hitam gelap”.

 

Makna Surat Al Qaari’ah

Surat ini mengandung akidah (keyakinan) tentang kebangkitan dan balasan yang didustakan dan sangat diingkari oleh kaum musyrikin. Maka Allah mengabarkan kepada kita tentang hari kiamat yang mengagetkan manusia dengan kejadiannya yang mengerikan dan dahsyat yang berlangsung ketika itu. Dimana manusia bagai anai – anai yang bertebaran dalam satu gabungan yang saling menginjak dan tidak mengetahui jalan.

Dan gunung – gunung walau begitu kokoh, tinggi dan besarnya namun ia berbagaikan kapas yang dibusar dengan pembusar terbang kesana kesini secara berhamburan. Setelah Kiamat selesai, mereka dibawa hingga berada di hadapan Rabbnya untuk perhitungan dan pembalasan amal mereka.

 

Maka barang siapa yang lebih berat kebaikannya atas keburukanya, maka dia selamat dari api neraka dan berada dalam kehidupan yang memuaskan. Namun begitu juga sebaliknya, akan lemparkan ke neraka Hawiyah dengan posisi kepala berada di bawah. Hawiyah adalah api yang sangat panas yang tidak lebih panas darinya. Dia (Hawiyah) adalah tempat kebinasaan dan kerugian. Semoga Allah Ta’ala memelihara kita.

 

Faedah

1. Penetapan akidah tentang kebangkitan dan balasan dengan menyebutkan sebagian gambarannya.

2. Peringatan dari kejadian mengerikan pada hari kiamat dan adzab Allah yang ada padannya.

3. Penetapan akidah tentang penimbangan amal shaleh dan keburukan serta balasannya.

4. Penetapan bahwa manusia pada hari kiamat terbagi menjadi dua kelompok di neraka sesuai dengan perbuatan mereka. Satu kelompok di surga dan satu kelompok di neraka.

 

 

Sumber :
Buku dengan judul Asli : Syarhu Ad-Durusi Al-Muhimmati Li ‘Ammati Al-Ummati
Penulis : Al-Allamah as-Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz
Penerbitan Asli : Daru As-Shami’i lin Nasyri wa At-Tauzi’l, Riyadh
Penerjemah : Muhammad Qawwam, Lc
Murajaah : Ust. Qomar Suaidi
Cetakan : Cetakan ketiga, Dzulqa’idah 1430 H / Mopember 2009 M

Thursday, October 11, 2012

Mereka Menyangka Telah Banyak Berbuat Amalan Kebaikan

Allah subhanahu wata’ala berfirman,

“Orang-orang kafir, amal-amal mereka laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi apabila didatangi ‘air’ itu, dia tidak mendapati apa pun. Dan didapatinya (ketetapan) Allah di sisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya. Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap gulita yang tindih-bertindih. Apabila dia mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya, (dan) barang siapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah, tiadalah dia mempunyai cahaya sedikit pun.” (an-Nur: 39—40)

 

Dua Permisalan : Fatamorgana dan Kegelapan Lautan Dalam Yang Berlapis-lapis

Allah subhanahu wata’ala menyebutkan dua permisalan untuk orang-orang kafir, permisalan fatamorgana dan permisalan kegelapan yang bertumpuk-tumpuk. Ini karena orang-orang yang berpaling dari petunjuk dan kebenaran itu ada dua macam. Salah satunya adalah seseorang yang mengira bahwa dirinya di atas suatu kebenaran, lalu menjadi jelas baginya saat terbukti hakikatnya berbeda dengan apa yang dia kira. Inilah kondisi orang-orang yang bodoh dan kondisi para pengikut bid’ah. Mereka mengira bahwa mereka berada di atas petunjuk dan ilmu. Ketika hakikatnya tersingkap, menjadi jelas bagi mereka 

 

bahwa ternyata mereka tidak berada di atas petunjuk. Mereka juga tahu, keyakinan dan amal mereka yang berasal dari ilmu mereka, hanya fatamorgana yang berada di tanah datar, yang terlihat oleh mata yang memandangnya sebagai air padahal tiada nyatanya.

 

Amalan (yang mereka sangka) Sebagai Kebaikan

Demikian pula amalan-amalan yang bukan karena Allah subhanahu wata’ala dan tidak berlandaskan perintah-Nya. Si pelaku menyangkanya bermanfaat baginya, padahal tidak demikian. Amalan inilah yang dikatakan oleh Allah subhanahu wata’ala, 

“Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan.” 

(al-Furqan: 23)

 

Coba perhatikan, bagaimana Allah subhanahu wata’ala menjadikan fatamorgana itu di atas tanah yang datar lagi kosong, tidak ada bangunan, pepohonan, dan tumbuhan. Di situlah tempat terjadinya fatamorgana: tanah yang kosong, tidak ada sesuatu. Memang, fatamorgana itu sesuatu yang tidak ada nyatanya. Permisalan ini sesuai dengan amalan dan kalbu mereka yang kosong dari iman dan hidayah.

Perhatikanlah firman-Nya,

“Orang yang dahaga menyangkanya air….”

Artinya, ketika orang yang sangat dahaga melihat fatamorgana, mengiranya sebagai air sehingga ia mengejarnya. Tetapi, ternyata ia tidak mendapatkan apa-apa. Fatamorgana itu menipunya di saat ia sangat membutuhkan air. Demikian juga keadaan mereka. Ketika amal mereka bukan karena taat kepada Rasul shalallahu ‘alaihi wassalam dan bukan karena Allah subhanahu wata’ala, amal mereka dijadikan laksana fatamorgana. Amalan itu akan ditampakkan kepada mereka saat mereka sangat kehausan dan sangat membutuhkannya, namun mereka tidak mendapatkan apa-apa. Mereka justru mendapati Allah subhanahu wata’ala yang akan membalasi amal mereka dan akan memenuhi hisab mereka.

 

Dalam sebuah hadits tentang hari kiamat dalam kitab ash-Shahih, dari hadits sahabat Abu Sa’id al-Khudri z, dari Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam,

“Lalu didatangkan Jahannam dan ditampakkan laksana fatamorgana. Dikatakan kepada Yahudi, ‘Apa yang kalian sembah?’ Mereka mengatakan ‘Kami dahulu menyembah Uzair, putra Allah.’ Lantas dikatakan kepada mereka, ‘Kalian berdusta. Allah tidak memiliki istri dan anak, lantas apa yang kalian maukan sekarang?’ Mereka menjawab, ‘Kami menginginkan Engkau beri kami minum.’ Dikatakan kepada mereka, ‘Minumlah!’ Akhirnya mereka berjatuhan di Jahannam. Kemudian dikatakan kepada orang-orang Nasrani, ‘Apa yang kalian sembah?’ Mereka menjawab, ‘Kami menyembah al-Masih, putra Allah.’ Dikatakan kepada mereka, ‘Kalian dusta. Allah subhanahu wata’ala tidak memiliki istri atau anak, lantas apa yang kalian inginkan?’ Mereka menjawab, ‘Kami menginginkan Engkau memberi kami minum.’ Dikatakan kepada mereka, ‘Minumlah!’ Akhirnya mereka berjatuhan….”

Inilah kondisi setiap pelaku kebatilan. “Amalan (yang disangka) Kebaikan” mereka akan mengkhianati mereka saat mereka sangat membutuhkannya, karena kebatilan itu tidak ada nyatanya. Sama dengan namanya, batil (yang dalam bahasa Arab berarti ‘sesuatu yang akan lenyap’), jika sebuah keyakinan tidak sesuai dengan (tuntunan) dan tidak benar, yang terkait dengannya juga batil.

 

Demikian pula jika tujuan sebuah amalan itu batil, seperti beramal karena selain Allah subhanahu wata’ala atau tidak di atas perintah-Nya, amalnya batil dengan sebab kebatilan tujuannya. Pelakunya akan merasa celaka karena sia-sianya amal tersebut. Ia justru akan mendapatkan kebalikan dari apa yang dia angan-angankan… Ia tersiksa dengan lenyapnya manfaat amalannya dan perolehan yang sebaliknya. Oleh karena itu, Allah subhanahu wata’ala berfirman,

“Dan didapatinya (ketetapan) Allah di sisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya.” (an-Nur: 39)

Inilah permisalan seseorang yang dia mengira dirinya berada di atas petunjuk.

 

Amalan Sesat Bagai Kegelapan Yang Bertumpuk-tumpuk

Macam yang kedua, adalah pemilik permisalan kegelapan yang bertumpuk-tumpuk. Mereka adalah orang-orang yang mengetahui kebenaran dan petunjuk, namun lebih mengutamakan kegelapan kebatilan dan kesesatan daripada kebenaran tersebut. Akhirnya, menumpuklah kegelapan tabiatnya, kegelapan jiwanya, kegelapan kebodohannya, dan kegelapan kesesatan serta hawa nafsu, yang mereka tidak mengamalkan ilmu mereka sehingga mereka menjadi bodoh.

Keadaan mereka laksana seseorang yang berada di lautan yang dalam lagi tidak bertepi, sementara itu ombak meliputinya. Di atas ombak itu ada ombak lagi. Di atasnya lagi ada awan yang gelap. Jadilah ia berada di kegelapan lautan, kegelapan ombak, dan kegelapan awan. Ini seperti kegelapan yang ia berada padanya. Kegelapan yang Allah subhanahu wata’ala tidak mengeluarkannya darinya menuju cahaya iman.

 

Dua permisalan ini, permisalan fatamorgana yang dia kira sumber kehidupan, yaitu air, dan permisalan kegelapan-kegelapan yang berlawanan dengan cahaya, mirip dengan permisalan orang-orang munafik dan orang-orang mukmin, yaitu permisalan air dan api. Allah subhanahu wata’ala menjadikan bagian bagi mukminin dari keduanya adalah kehidupan dan cahayanya, sedangkan bagian untuk munafik adalah kegelapan yang merupakan lawan dari cahaya dan kematian yang merupakan lawan dari kehidupan.

Demikian juga orang-orang kafir dalam dua permisalan ini. Bagian mereka hanyalah fatamorgana yang menipu orang yang melihatnya—sesuatu yang tidak ada kenyataannya—dan bagian mereka adalah kegelapan-kegelapan yang berlapis-lapis.

 

Bisa jadi, maksud ayat ini adalah keadaan salah satu dari kelompok-kelompok orang kafir. Mereka kehilangan sumber kehidupan dan cahaya karena mereka berpaling dari wahyu. Oleh karena itu, dua permisalan ini adalah untuk satu golongan.

Namun, bisa jadi pula, maksudnya adalah macam-macam keadaan orang kafir. Permisalan pertama adalah mereka yang beramal tanpa ilmu, hanya dengan kebodohan dan baik sangka terhadap para pendahulu (nenek moyangnya). Mereka mengira telah berbuat baik. Adapun permisalan kedua adalah bagi yang lebih menyukai kesesatan daripada petunjuk dan mendahulukan yang batil daripada yang haq. Mereka buta padahal sebelumnya melihatnya. Mereka pun mengingkari padahal sebelumnya mengetahui. Inilah keadaan orang-orang yang dimurkai. Adapun yang pertama adalah keadaan orang-orang yang sesat.

 

 

Sumber :
(diterjemahkan dan disusun oleh Ustadz Qomar Suaidi dari beberapa buku karya  Ibnu Qayyim al-Jauziyah,)
Amalan Tanpa Ilmu Laksana Fatamorgana,  Majalah AsySyariah Edisi 080

Wednesday, October 10, 2012

Cara Meningkatkan Ketakwaan

Hanya dengan ketakwaan seseorang akan mulia disisi Allah, sebagaimana telah Allah azza wa jalla jelaskan dalam Al-Qur’an (yang artinya): “Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kalian disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kalian. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Al-Hujurat: 13)

 

 

Para pembaca rahimakumullah semoga Allah menerima amalan-amalan kita dan mengampuni dosa-dosa kita dengan ibadah puasa Ramadhan yang telah kita laksanakan serta mengabulkan doa-doa kita. Takwa, suatu istilah yang pendengaran kita kerap mendengarnya, karena kata takwa merupakan istilah yang pendek akan tetapi sangat besar kandungannya dan orang yang bertakwa akan meraih kebaikan dunia dan akhirat. Untuk lebih memahami kandungannya mari kita ikuti pembahasan berikut ini.

 

Makna Takwa Para ulama telah banyak yang memberikan pengertian tentang takwa diantaranya adalah perkataan Thalq bin Habib rahimahullah, beliau mengatakan: “Takwa yaitu melakukan ketaatan kepada Allah berdasarkan ilmu yang datang dari Allah semata-mata mengharap pahala dari-Nya. Dan meninggalkan kemaksiatan kepada Allah berdasarkan ilmu yang datang dari Allah karena takut akan adzab-Nya.”

Jika demikian, begitu tingginya nilai ketakwaan disisi  Allah ‘azza wa jalla. Bahkan tujuan diwajibkannya puasa Ramadhan yang baru saja kaum muslimin melaksanakannya adalah agar mereka bertakwa kepada Allah ‘azza wa jalla, sebagaimana firman-Nya (yang artinya): “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” (Al-Baqarah: 183)

 

Ketakwaan yang dimaksud bukan hanya di bulan Ramadhan saja namun juga di selain bulan Ramadhan. Oleh karenanya, tidak benar anggapan bahwa bertakwa kepada Allah cukup di bulan Ramadhan, sementara setelah keluar dari bulan itu merasa bebas sehingga kembali melakukan berbagai dosa dan kemaksiatan dengan anggapan dosanya akan diampuni dengan melaksanakan puasa Ramadhan di tahun yang akan datang. Hal ini karena Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:

“Barangsiapa puasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala hanya dari Allah, niscaya akan diampuni dosanya yang lalu.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

 

Perlu diketahui bahwa ampunan yang dimaksud dalam hadits di atas adalah ampunan bagi dosa-dosa kecil, bukan dosa besar. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam:

“Shalat lima waktu, Jum’at ke Jum’at berikutnya, Ramadhan ke Ramadhan berikutnya sebagai penebus dosa yang terjadi diantara keduanya apabila dijauhi dosa-dosa besar.” (HR. Muslim no.233) Sedangkan dosa besar tidak akan diampuni, kecuali pelakunya bertaubat dengan taubat yang tulus (taubatan nashuhan).

 

Perintah untuk bertakwa kepada Allah azza wa jalla sangat banyak dalam Al-Qur’an. Diantaranya firman Allah azza wa jalla (yang artinya): “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kalian mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (Ali ‘Imran: 102)

 

Dan juga firman-Nya (yang artinya): “Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Rabb-kalian yang telah menciptakan kalian dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kalian saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kalian.” (An-Nisa’: 1)

 

Dan firman-Nya pula (yang artinya): “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki amalan-amalan kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (Al-Ahzab: 70-71)

 

Para pembaca yang semoga dirahmati Allah, ketiga ayat di atas sering dibaca Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam pembukaan khuthbahnya yang dikenal dengan KHUTHBATUL HAAJAH. Hal ini menunjukkan pentingnya takwa sehingga beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam sering kali mengingatkan kaum muslimin untuk senantiasa bertakwa kepada Allah azza wa jalla.

 

 

Kedudukan Takwa

Takwa adalah sebaik-sebaik bekal Para pembaca rahimakumullah, ketahuilah! Bekal yang terbaik bagi seorang hamba untuk meraih kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat kelak adalah bekal ketakwaan kepada Allah. Sebagaimana telah Allah azza wa jalla jelaskan dalam firman-Nya (yang artinya): “Dan Sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku Hai orang-orang yang berakal.” (Al-Baqaroh: 197)

 

Al-Imam As-Sa’di rahimahullah ketika menafsirkan ayat tersebut mengatakan: “Adapun bekal yang sebenarnya yang manfaatnya terus berlanjut bagi pelakunya di dunia maupun di akhirat adalah bekal ketakwaan (kepada Allah azza wa jalla), yaitu bekal untuk kampung akhirat yang kekal yang mengantarkan kepada kelezatan yang sempurna dan kepada kenikmatan yang terus-menerus.

Barangsiapa yang meninggalkan bekal ini, maka dia akan terputus dengannya yang berarti ini menjadi peluang bagi setiap kejelekan (untuk menjangkitinya), dan dia tercegah untuk sampai ke kampung orang-orang yang bertakwa (Al-Jannah/surga–red). Ini adalah pujian bagi sifat takwa.” (lihat Taisiru Al-Karimi Ar-Rahman, halaman 91) –

 

Kemuliaan hanya akan dapat diraih dengan ketakwaan Para pembaca semoga Allah memuliakan kita semua, setiap orang pasti menginginkan kemuliaan dan tidak menyukai kehinaan. Lalu dengan apa seseorang menjadi mulia? Kemuliaan hanya dapat diraih dengan ketakwaan yang sebenar-benarnya, dan bukan dengan banyaknya harta atau dengan tingginya kedudukan.

Hanya dengan ketakwaan seseorang akan mulia disisi Allah, sebagaimana telah Allah azza wa jalla jelaskan dalam Al-Qur’an (yang artinya): “Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kalian disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kalian. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Al-Hujurat: 13)

 

Kapan dan dimana kita bertakwa?

Saudaraku, ketahuilah! bahwa Allah azza wa jalla Maha Mengetahui dan Maha Melihat, baik yang kecil maupun yang besar, yang jauh maupun yang dekat, yang tampak maupun yang tersembunyi. Semua itu dilihat dan diketahui oleh Allah azza wa jalla. Diantara sifat-sifat-Nya yang lain adalah bahwa Allah azza wa jalla Maha Mendengar, baik suara itu pelan ataupun keras. Allah azza wa jalla berfiman (yang artinya): “Dan jika kamu mengeraskan ucapanmu, Maka Sesungguhnya Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi.” (Thaha: 7)

Bahkan Allah azza wa jalla Mengetahui apa yang terlintas dalam hati seseorang, sebagaimana firman-Nya (yang artinya): “Sesungguhnya Allah mengetahui yang tersembunyi di langit dan di bumi. Sesungguhnya Dia Maha mengetahui segala isi hati.” (Faathir: 38)

 

Oleh karena itu, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam berwasiat agar kita bertakwa kepada Allah azza wa jalla dimanapun dan kapanpun kita berada. Beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Bertakwalah engkau kepada Allah dimana saja kamu berada, ikutilah kejelekan dengan kebaikan, niscaya kebaikan (amal sholih) tersebut akan menghapuskannya (perbuatan jelek–red); dan bergaullah dengan orang lain dengan akhlak yang baik.” (HR. At-Tirmidzi no.1987)

Kita diperintahkan untuk bertakwa kepada Allah dimana saja kita berada, baik dalam keadaan sendirian ataupun ditengah orang banyak, karena Allah azza wa jalla Melihat dan Mengawasi kita dimana dan kapanpun kita berada.

 

Janji Allah Bagi Orang Yang Bertakwa

Allah azza wa jalla telah banyak menyebutkan janji-janji-Nya dalam Al-Qur’an bagi orang-orang yang bertakwa, dan Allah azza wa jalla tidak akan pernah mengingkari janji-Nya.

Diantara janji-janji-Nya adalah:

1.   Akan diberi jalan keluar dari kesulitan yang dia alami dan diberi rizki dari arah yang tidak disangka-sangka.

Allah azza wa jalla berfirman (yang artinya): “Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan (Dia akan) memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (Ath-Thalaq: 2-3)

 

2.  Akan dimudahkan segala urusannya.

Hal tersebut sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Allah azza wa jalla dalam firman-Nya (yang artinya): “Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (Ath-Thalaq: 4)

 

3.   Akan diampuni dosanya dan diberi pahala yang besar.

Sebagaimana firman Allah azza wa jalla (yang artinya): “Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipat gandakan pahala baginya.” (Ath-Thalaq: 5)

 

4.    Akan dimasukkan ke dalam surga yang penuh dengan kenikmatan dan kelezatan serta penuh dengan ampunan.

Allah azza wa jalla telah menjelaskan dalam firman-Nya (yang artinya): “(Apakah) perumpamaan (penghuni) jannah yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tiada berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tidak berubah rasanya, sungai-sungai dari khamar yang lezat rasanya bagi peminumnya dan sungai-sungai dari madu yang disaring; dan mereka memperoleh di dalamnya segala macam buah-buahan dan ampunan dari Rabb mereka sama dengan orang yang kekal dalam Jahannam dan diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong-motong ususnya?” (Muhammad: 15)

 

(TAMBAHAN REDAKSI / dari sumber lain :)

 5.  Termasuk buah dari bertakwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala adalah bahwa orang-orang yang bertakwa akan dikaruniai furqan, yaitu pertolongan dari Allah subhanahu wa ta’ala baik berupa ilmu atau yang lainnya, sehingga dengannya seseorang akan mengetahui mana yang benar dan mana yang salah, serta mana yang bermanfaat dan mana yang berbahaya bagi dirinya. Disamping itu juga akan dibersihkan jiwanya dari kesalahan-kesalahan yang dilakukannya dengan diberi kemudahan untuk beramal shalih sehingga akan menghapus kesalahan-kesalahannya. Begitu pula akan diampuni dosa-dosanya dengan diberi taufiq untuk senantiasa beristighfar dan bertaubat dari dosa yang dilakukannya.

 

Hal ini sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya:

“Wahai orang-orang beriman, jika kalian bertakwa kepada Allah, maka Allah akan memberikan kepada kalian furqan dan Allah akan menghilangkan diri-diri kalian dari kesalahan-kesalahan kalian dan mengampuni (dosa-dosa) kalian dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (Al-Anfal: 29)

(tambahan ini bersumber dari http://asysyariah.com/taqwa-dan-keutamaannya.html)

 

Penutup

Para pengunjung blog cahaya menuju surga, semoga Allah senantiasa mencurahkan rahmat-Nya bagi kita semua. Itulah sekilas pembahasan tentang takwa. Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat bagi kita semua, dan semoga dapat mendorong kita untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah azza wa jalla. Semoga Allah azza wa jalla memberi kemampuan kepada kita untuk melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya, serta menggolongkan kita ke dalam golongan orang-orang yang bertakwa yang akan meraih Al-Jannah (surga) yang penuh dengan kenikmatan. 


Amiin Ya Rabbal ‘alamiin.




Sumber :
Meningkatkan Ketakwaaan kepada Allah ‘azza wa jalla, Buletin Islam AL ILMU Edisi: 37/X/VIII/1431

Tuesday, October 9, 2012

Arti Takwa


Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu berkata :

Takwa adalah (keadaan dimana) Allah subhanahu wa ta’ala ditaati dan tidak didurhakai, diingat dan tidak dilupakan, disyukuri (kenikmatan-Nya) dan tidak diingkari.

 

Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata :

Beliau ditanya tentang takwa (taqwa), maka beliau menjawab, “Apakah kamu pernah menginjak jalan yang berduri?”

“Ya,” jawab penanya.

“Lalu apa yang kamu lakukan?” tanya Abu Hurairah.

Dia berkata, “Jika aku melihat duri maka aku menghindarinya, atau aku lewati atau aku memagarinya.”

Abu Hurairah berkata, “Itulah takwa.”

 

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu anhu   berkata :

Orang yang bertakwa adalah orang-orang yang takut 

 

 

kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan siksa-Nya ketika ia meninggalkan petunjuk yang diketahui, serta mengharap rahmat-Nya ketika membenarkan wahyu yang Dia turunkan.

 

‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz rahimahumullah berkata  :

Takwa bukanlah hanya dengan puasa di siang hari, shalat malam, dan menggabungkan dua amalan ini. Namun takwa adalah meninggalkan apa yang diharamkan Allah subhanahu wa ta’ala dan menunaikan kewajiban-Nya. Barang siapa yang diberi karunia kebaikan setelahnya, itu adalah kebaikan di atas kebaikan.

 

Thalq bin Habib rahimahumullah berkata :

Takwa adalah taat kepada Allah subhanahu wa ta’ala di atas cahaya-Nya (karena memahami ilmu mengenai sifat diri-Nya sebagai penguasa hari akhirat, red) dengan mengharap pahala-Nya serta meninggalkan maksiat di atas cahaya Allah subhanahu wa ta’ala karena takut akan siksa-Nya.

(Dinukil dari Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, Ibnu Rajab, hlm. 244—245)




Sumber :
Majalah AsySyariah Edisi 003

Monday, October 8, 2012

Malu itu Mulia !

Ingar-bingar kehidupan remaja kita yang tercermin dari tata pergaulannya sudah sampai pada taraf yang sangat memprihatinkan. Rasa malu seakan memunah sementara ‘keberanian’ merambati perilaku mereka.

 

Di sudut sebuah sekolah, seorang gadis kecil berseragam sekolah melenggang, diiringi langkahnya dengan sejumlah teman laki-lakinya. Tak canggung dia melempar senyum, tertawa, dan bercanda dengan mereka. Di dalam kelas, suatu yang lazim murid laki-laki duduk bersama dan berdiskusi dengan murid perempuan. Justru suatu pemandangan yang ‘aneh’ bila ada seorang murid yang merasa malu melakukan semua itu. Gelaran ‘kuper’, ‘kutu buku’, ‘sok alim’, ‘anak kampungan’, atau yang lainnya bakal segera menghampirinya.

Belum lagi di tempat lainnya yang lazim dikunjungi anak-anak ‘baru gede’ seusai sekolah atau di waktu senggang mereka. Dengan sedikit memoles bibir dengan lipstik, disertai busana yang sedikit ‘berani’, mereka pun menjelajahi mal-mal. Entah benar-benar untuk berbelanja atau sekedar nampang. Tak sedikit pun rasa canggung menghampiri hati mereka.

 

Allahul musta’an … Hanya kepada Allah subhanahu wata’ala sajalah kita mengadukan segala kepahitan ini. 

 

 

Di kala rasa malu dalam jiwa anak-anak sudah terkikis. Mereka tak sungkan lagi melakukan segala sesuatu yang dianggap aib oleh syariat. Benarlah apa yang pernah dikatakan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam yang disampaikan pada kita oleh Abu Mas’ud ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu anhu:

 

 

“Sesungguhnya di antara apa yang didapati manusia dari ucapan nabi-nabi yang terdahulu adalah ‘Apabila engkau tidak malu, maka lakukan apa pun yang engkau mau’.” (HR. Al-Bukhari no. 6120)

 

Al-Imam Al-Khaththabi v mengatakan –sebagaimana dinukil oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar v–, “Yang dapat mencegah seseorang terjatuh dalam kejelekan adalah rasa malu.Sehingga bila dia tinggalkan rasa malu itu, seolah-olah dia diperintah secara tabiat untuk melakukan segala macam kejelekan.” (Fathul Bari, 10/643)

Sebenarnya apa malu itu? Para ulama menjelaskan, malu hakikatnya adalah akhlak yang dapat membawa seseorang untuk meninggalkan perbuatan tercela dan mencegahnya dari mengurangi hak yang lainnya. Demikian dikatakan oleh Al-Imam An-Nawawi t dalam kitab beliau Riyadhush Shalihin, Kitabul Adab Bab Al-Haya` wa Fadhluhu wal Hatstsu ‘alat Takhalluqi bihi.

 

Malu yang ada pada diri manusia ada dua macam:

Pertama, malu yang berasal dari tabiat dasar seseorang. Ada sebagian orang yang Allah subhanahu wata’ala anugerahi sifat malu, sehingga kita dapati orang itu pemalu sejak kecil. Tidak berbicara kecuali pada sesuatu yang penting, dan tidak melakukan suatu perbuatan kecuali ketika ada kepentingan, karena dia pemalu.

Kedua, malu yang diupayakan dari latihan, bukan pembawaan. Artinya, seseorang tadinya bukan seorang pemalu. Dia cakap dalam berbicara dan tangkas berbuat apa pun. Lalu dia bergaul dengan orang-orang yang memiliki sifat malu dan baik sehingga dia memperoleh sifat itu dari mereka. Malu yang bersifat pembawaan itu lebih utama daripada yang kedua ini. (Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyah, Ibnu ‘Utsaimin , hal. 234)

Al-Hafizh v menukilkan dari Ar-Raghib bahwa malu adalah menahan diri dari perbuatan jelek. Dan ini merupakan kekhususan yang dimiliki manusia agar dia dapat berhenti dari berbuat apa saja yang dia inginkan, sehingga dia tidak akan seperti hewan. (Fathul Bari, 1/102)

 

Sifat malu ini mendapatkan pujian dalam syariat Islam. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam menyatakan demikian dalam sabdanya yang disampaikan oleh ‘Imran bin Hushain z:

“Malu itu tidaklah datang kecuali dengan membawa kebaikan.” (HR. Al-Bukhari no. 6117 dan Muslim no. 37)

Bahkan Beliau shalallahu ‘alaihi wassalam melarang seorang sahabat yang mencela temannya karena rasa malu yang dimilikinya. Dikisahkan oleh Abdullah bin ‘Umar c:

Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam pernah menjumpai seseorang yang sedang mencela saudaranya karena malu. Dia mengatakan, “Kamu ini merasa malu,” sampai dia katakan, “Rasa malu itu telah memudaratkanmu!” Maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam pun berkata, “Biarkan dia, karena malu itu termasuk keimanan.” (HR. Al-Bukhari no. 6118 dan Muslim no. 36)

 

Abu Hurairah radhiyallahu anhu pernah pula mengatakan bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

“Iman itu ada tujuh puluh sekian1 cabang. Cabang yang paling utama adalah ucapan ‘tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah’, yang paling rendah menghilangkan gangguan dari jalan, dan malu itu salah satu cabang keimanan.” (HR. Al-Bukhari no. 48 dan Muslim no. 35)

Al-Qadhi ‘Iyadh v dan ulama yang lain menjelaskan, “Sesungguhnya malu termasuk keimanan walaupun malu itu berupa sifat pembawaan. Karena, malu itu terkadang merupakan akhlak yang disandang atau hasil usaha seseorang seperti halnya amalan kebaikan lainnya, dan terkadang pula merupakan sifat pembawaan. Namun pelaksanaannya di atas aturan syariat membutuhkan upaya, niat, dan ilmu. Dengan ini, malu termasuk keimanan. Juga karena malu dapat mendorong seseorang untuk melakukan kebaikan dan mencegahnya dari kemaksiatan.” (Syarh Shahih Muslim, 2/4)

 

Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu anhu pernah mengatakan:

“Malu dan iman itu senantiasa ada bersama-sama. Bila hilang salah satu dari keduanya, hilang pula yang lainnya.” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad no. 1313, dikatakan oleh Asy-Syaikh Al-Albani v dalam Shahih Al-Adabil Mufrad: shahih)

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam sendiri adalah seorang yang memiliki sifat sangat pemalu. Digambarkan oleh Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu anhu sifat malu Beliau shalallahu ‘alaihi wassalam:

“Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam lebih pemalu daripada seorang gadis dalam pingitannya. Bila beliau tidak menyukai sesuatu, kami bisa mengetahuinya pada wajah beliau.” (HR. Al-Bukhari no. 6119 dan Muslim no. 2320)

 

‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu anhu  adalah seorang sahabat yang terkenal memiliki sifat pemalu, hingga Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam pun malu kepadanya. Dikisahkan oleh Aisyah radhiyalahu anha:

“Suatu ketika, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam pernah berbaring di rumahku dalam keadaan tersingkap dua paha atau dua betis beliau. Kemudian Abu Bakr meminta izin menemui beliau. Beliau mengizinkannya masuk, sementara beliau masih dalam keadaannya. Lalu Abu Bakr bercakap-cakap dengan beliau. Kemudian ‘Umar datang meminta izin untuk masuk. Beliau mengizinkannya masuk, sementara beliau tetap demikian keadaannya. Mereka pun berbincang-bincang. Kemudian ‘Utsman datang minta izin untuk menemui beliau. Beliau pun langsung duduk dan membenahi pakaiannya –Muhammad2 berkata: Aku tidak mengatakan bahwa hal ini terjadi dalam satu hari– ‘Utsman pun masuk dan berbincang-bincang. Ketika ‘Utsman pulang, Aisyah bertanya, “Abu Bakr masuk menemuimu, namun engkau tidak bersiap menyambut dan tidak memedulikannya. Begitu pula ‘Umar masuk menemuimu, engkau juga tidak bersiap menyambut dan tidak memedulikannya pula. Kemudian ketika ‘Utsman masuk, engkau segera duduk dan membenahi pakaianmu!” Rasulullah menjawab, “Tidakkah aku merasa malu kepada seseorang yang malaikat pun merasa malu kepadanya?” (HR. Muslim no. 2401)

 

Dalam riwayat yang lainnya dari ‘Aisyah dan ‘Utsman radhiyallahu anhu, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam mengatakan:

“Sesungguhnya ‘Utsman itu orang yang pemalu. Aku khawatir, jika aku mengizinkan dia masuk dalam keadaan seperti tadi, dia tidak akan bisa menyampaikan keperluannya kepadaku.” (HR. Muslim no. 2402)

Ini menunjukkan bahwa malu adalah sifat yang terpuji dan termasuk sifat yang dimiliki oleh para malaikat. (Syarh Shahih Muslim, 15/168)

 

Tetapi, ke mana perginya rasa malu yang dipuji oleh Allah subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya itu dari jiwa sebagian kaum muslimin sekarang ini?

Anak-anak kita tidak lagi merasa malu menonton tayangan yang tidak layak dilihat.

Anak-anak gadis kita sekarang tidak lagi merasa malu bertemu dengan laki-laki yang tak seharusnya ditemui.

Begitu pula anak laki-laki kita, tidak merasa malu pergi bermain dengan memakai celana pendek. Dia justru merasa malu bila harus berlatih memakai celana yang menutupi auratnya, karena akan berbeda dengan teman-teman sepermainannya.

 

Anak-anak merasa malu jika tak mengenal mode atau tren terkini.

Atau, justru orangtualah yang merasa malu jika anak-anaknya harus menghabiskan waktu untuk menghafal Al-Qur’an atau menempuh pendidikan agama. Tidak ada sederet gelar yang akan melekat di depan nama bila hanya belajar agama, begitu yang ada dalam pikiran.

Mereka pun akan malu jika anak mereka ‘kuper’ karena tidak mau bergaul dengan lawan jenisnya. Allahul musta’an …. Keadaan telah berbalik.

Malu merupakan sifat yang terpuji, kecuali bila justru mencegah pemiliknya dari melaksanakan kewajiban atau menjatuhkannya pada keharaman. (Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyah, hal. 234)

 

Jika rasa malu pada diri seseorang menghalanginya melakukan kebaikan atau mendorongnya berbuat kemaksiatan, atau menghalanginya untuk menyampaikan kebenaran kepada seseorang yang dia hormati atau dia cintai, maka pada hakikatnya ini bukanlah malu, melainkan sikap lemah.

Ibnu Rajab Al-Hambali v ketika menjelaskan hadits ‘Imran bin Hushain radhiyallahu anhu tentang malu, mengatakan bahwa malu yang dipuji dalam ucapan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam adalah akhlak yang bisa mendorong seseorang melakukan kebaikan dan meninggalkan kejelekan. Sedangkan rasa lemah yang menyebabkan seseorang mengurangi hak Allah subhanahu wata’ala ataupun hak hamba-Nya bukan termasuk malu. Tetapi ini adalah kelemahan, ketidakmampuan, dan kehinaan. (Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, 1/502)

 

Di antara perkara yang tidak pantas malu padanya adalah menuntut ilmu. Demikian yang ada dalam kehidupan para sahabat nabi. Jadi, belajar agama yang benar tidak boleh dipandang sebagai sesuatu yang ‘tidak bergengsi’ sehingga orang harus malu melakukannya.

Tidak layak pula malu bertanya tentang sesuatu hal yang penting untuk diamalkan dalam agama ini, walaupun nampaknya hal itu adalah sesuatu yang ‘tabu’. Seperti Ummu Sulaim radhiyalahu anha yang bertanya kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam tentang mandi janabah bagi wanita yang ihtilam. Ummu Sulaim memulai pertanyaannya dengan ucapan yang begitu bermakna:

“Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah tidaklah malu pada perkara yang benar…” (HR. Al-Bukhari no. 6121)

 

Abdullah bin ‘Umar radhiyalahu anhu pernah merasa malu dalam suatu majelis ilmu, ketika Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam melontarkan pertanyaan kepada para sahabat yang ada di majelis itu. Abdullah bin ‘Umar radhiyalahu anha  ingin memberikan jawaban, namun rasa malu begitu menguasainya. Ketika mengetahui hal itu, ‘Umar ibnul Khaththab radhiyallahu anhu pun mencela perbuatan putranya.

 

Berikut kisahnya:

Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam pernah bersabda, “Perumpamaan seorang mukmin itu seperti sebuah pohon yang hijau yang tak pernah berguguran daunnya.” Para sahabat pun menjawab, “Itu adalah pohon ini, pohon itu.” Aku ingin mengatakan bahwa itu adalah pohon kurma, sementara aku ini anak kecil sehingga aku pun merasa malu. Lalu Beliau shalallahu ‘alaihi wassalam mengatakan, “Itu pohon kurma.”

Di dalam riwayat yang lain ada tambahan:

Kuceritakan kejadian itu kepada ayahku, ‘Umar, maka dia berkata, “Seandainya engkau tadi menjawab, itu lebih kusukai daripada memiliki ini dan itu.” (HR. Al-Bukhari no. 6122)

 

Betapa jauh keadaan kita dengan para sahabat. Mereka berhias dengan rasa malu yang hakiki, yang dapat menahan diri mereka dari kehinaan. Mereka buang jauh-jauh sifat lemah yang menyebabkan seseorang segan melakukan kebaikan. Mulai sekarang mestinya, kita berbenah diri dan membenahi anak-anak kita agar memiliki rasa malu.

Rasa malu itu akan menuntun kita dan anak-anak kita menuju kebaikan sehingga kelak akan sampai di surga. Benarlah sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam yang dinukilkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu anhu:

“Malu itu termasuk keimanan, dan keimanan itu tempatnya di surga, sementara kekejian (3) itu termasuk kekerasan (4), dan kekerasan itu tempatnya di neraka.” (HR. At-Tirmidzi no. 2009, dishahihkan Syaikh Al-Albani v dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi)

 

Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab.

 


1 Al-bidh’u adalah hitungan antara tiga sampai sembilan.
2 Salah seorang perawi hadits ini.

Sumber :
Berhiaslah dengan Rasa Malu, (ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu ‘Abdirrahman bintu ‘Imran),  Majalah AsySyariah Edisi 032

Sunday, October 7, 2012

Mewaspadai Berkembangnya Akhlak Iblis

Mengejar syahwat dan menolak kebenaran adalah akhlak iblis. Menipu dan menebarkan syubhat (kerancuan) adalah akhlak iblis. Candu bermaksiat, menghalangi orang dari jalan Allah subhaanahu wa ta’aalaa, meremehkan orang lain, rakus, tamak, sombong, angkuh, dan sebagainya, itulah akhlak iblis. Seluruh perkara yang merupakan perbuatan maksiat kepada Allah subhaanahu wa ta’aalaa baik dengan ucapan maupun perbuatan, itulah akhlak iblis.

 

Setiap orang bercita-cita untuk mendapatkan yang terbaik dan yang paling membahagiakan, mendapatkan keselamatan dunia dan akhirat. Akan tetapi sedikit dari mereka yang mengetahui jalannya. Seorang pencuri, pezina, dan pemabuk bisa mengatakan dirinya yang paling bahagia dan tenteram, serta mengklaim orang sholeh yang menjaga dirinya dari bermaksiat kepada Allah subhaanahu wa ta’ala sebagai seorang yang sok suci dan bersih, mengklaimnya sebagai seorang yang kolot dan kuno. Demikianlah hawa nafsu apabila telah mencapai apa yang diinginkan. Rintangan demi rintangan bukan sebagai badai yang menghempas bahtera nafsunya. Nasihat dan peringatan bukan lagi sebagai pengetuk gendang telinga dan mata hatinya.

 

Prinsipnya adalah “semua rintangan akan dihadapi serta semua nasihat akan ditepis dan dibantah, setelah itu menjadi kepingan-kepingan besi yang telah berkarat dan tidak berarti.” Demikianlah hawa nafsu yang 

 

 

telah naik meninggi ke angkasa. Sulit melihat diri dan keselamatannya. Dia juga akan berprinsip “tidak peduli”: biarlah anjing menggonggong kafilah tetap berlalu. Dia pun akan berkata, “No problem” walaupun Allah subhaanahu wa ta’aalaa menurunkan utusan-utusan-Nya dari langit. Demikianlah hawa nafsu yang sudah bergulung dalam kenistaan hidup, yang karenanya lawan akan bisa menjadi teman dan kawan akan bisa menjadi lawan, yang ma’ruf akan bisa menjadi mungkar dan mungkar karenanya akan bisa menjadi ma’ruf. Inilah yang dikhawatirkan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam di dalam sabda beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam:

“Sesungguhnya dari perkara-perkara yang aku khawatirkan menimpa kalian setelahku adalah permasalahan perut-perut kalian (kerakusan), kemaluan-kemaluan kalian (syahwat), dan hawa nafsu-hawa nafsu yang menyesatkan.” (HR. al-Imam Ahmad, ath-Thabarani, Ibnu Abi ‘Ashim di dalam as-Sunnah, dan disahihkan oleh asy-Syaikh al-Albani rahimahullah di dalam kitab Zhilal al-Jannah, hlm. 30, dari sahabat Abu Barzah al-Aslami radhiyallaahu ‘anhu)


Kerakusanlah yang menjadi mesin pendorong nafsunya untuk mencapai keinginannya dan menabrak segala penghadang di jalannya. Meski yang menghadangnya adalah kobaran api yang menjadi wujud lampu merah dari Allah subhaanahu wa ta’aalaa dan Rasul-Nya Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan:

“Seandainya anak Adam memiliki satu lembah emas, dia akan berkeinginan untuk mendapatkan dua lembah, dan tidak ada yang akan memenuhi mulutnya melainkan tanah dan Allah subhaanahu wa ta’aalaa akan menerima taubat orang-orang yang bertaubat.” (HR. al-Bukhari no. 5958, Muslim no. 1049, serta al-Imam Ahmad, 1/370 dan 3/122, dari sahabat Abdullah bin ‘Abbas dan Anas bin Malik radhiyallaahu ‘anhu)

 

Bagaimanakah Akhlak Iblis?

Mengejar syahwat dan menolak kebenaran adalah akhlak iblis. Menipu dan menebarkan syubhat (kerancuan) adalah akhlak iblis. Candu bermaksiat, menghalangi orang dari jalan Allah subhaanahu wa ta’aalaa, meremehkan orang lain, rakus, tamak, sombong, angkuh, dan sebagainya, itulah akhlak iblis. Seluruh perkara yang merupakan perbuatan maksiat kepada Allah subhaanahu wa ta’aalaa baik dengan ucapan maupun perbuatan, itulah akhlak iblis.

 

Peringatan Allah subhaanahu wa ta’aalaa dari Akhlak Iblis

Allah subhaanahu wa ta’aalaa berfirman di dalam Al-Qur’an:

“Wahai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah setan yang pandai menipu memperdayakan kamu tentang Allah. Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagi kalian, maka jadikanlah dia musuh karena sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (Fathir: 5-6)

 

“Wahai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dan apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan karena sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi kalian. Sesungguhnya setan itu hanya menyuruh kalian berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kalian ketahui.” (al-Baqarah: 168-169)

 

“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kalian turuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi kalian.” (al-Baqarah: 208)

 

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Barang siapa yang mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya setan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan mungkar.” (an-Nur: 21)

Ibnu Katsir rahimahullah dalam Tafsir-nya (1/209), mengatakan, “Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi kalian, (di sini) ada peringatan untuk menjauh darinya (setan).”

Al-Imam Qatadah dan as-Suddi rahimahumallah mengatakan, “‘Janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan’, artinya segala bentuk kemaksiatan kepada Allah subhaanahu wa ta’aalaa, maka itulah langkah-langkah setan.” (Tafsir Ibnu Katsir, 1/209)


Ibnul Jauzi rahimahullah mengatakan, “Ketahuilah bahwa tatkala Adam ‘alaihis salaam diciptakan, diberikan kepadanya hawa nafsu dan syahwat untuk mendapatkan apa yang bermanfaat baginya, serta diberikan sifat marah untuk menolak apa yang akan mengganggunya, dan diberikan akal seolah-olah bagaikan pendidik yang dia menyeru untuk melakukan keadilan dalam segala perkara yang harus diraih dan ditinggalkan. Dan Allah subhaanahu wa ta’aalaa menciptakan setan, membangkitkan untuk melampaui batas dalam meraih dan meninggalkannya. Maka kewajiban atas orang yang berakal adalah berhati-hati dari musuh ini, yang telah memproklamirkan permusuhannya semenjak Nabi Adam ‘alaihis salaam, serta telah menghabiskan umur dan dirinya untuk melakukan kerusakan di tengah-tengah Bani Adam.” (al-Muntaqa an-Nafis, hlm. 51)

 

Beliau juga mengatakan, “Maka kapan saja setan menggoda seseorang terhadap satu perkara maka hendaklah dia berhati-hati dengan sangat. Hendaklah dia berkata kepadanya (setan) ketika dia menyuruh untuk bermaksiat, ‘Sesungguhnya kamu hanya memerintahkan diriku untuk mencapai syahwat birahiku, lalu bagaimana tampak kebenaran suatu nasihat bagi seseorang yang tidak bisa menasihati dirinya sendiri? Pergilah kamu! Kamu tidak menemukan celah pada diriku’.” (al-Muntaqa an-Nafis, hlm. 53)

 

Merasa Paling Tinggi Adalah Akhlak Iblis

Menyukai hal itu adalah suatu penyakit kronis yang harus segera ditangani dengan penuh saksama dan terus-menerus. Setan akan membisikkan kepadamu bahwa engkau adalah orang alim, ahli ibadah, orang zuhud, qana’ah, dan orang dermawan. Coba lihat teman-temanmu, mereka tidak ada artinya di hadapanmu. Mereka jauh darimu dan mereka tidak akan menyamaimu walaupun seujung kuku kaki atau tanganmu.

Dengarkan bantahan iblis terhadap perintah Allah subhaanahu wa ta’aalaa:

“Apa yang menghalangimu untuk sujud kepada apa yang aku telah menciptakannya dengan kedua tangan-Ku, apakah kamu telah menyombongkan diri atau kamu termasuk orang-orang yang lebih tinggi?” Iblis menjawab, “Aku lebih baik darinya, aku Engkau ciptakan dari api, sedangkan Adam Engkau ciptakan dari tanah.” (Shad: 75-76)

Iblis juga berkata,

“Dia berkata, ‘Terangkanlah kepadaku, inikah orang yang engkau muliakan atas diriku?’” (al-Isra: 62)

Ibnul Jauzi rahimahullah mengatakan bahwa maknanya adalah, “Beritakanlah kepadaku apa alasannya Engkau memuliakan dia di atasku?” (al-Muntaqa, hlm. 53)

 

Cinta untuk selalu di atas akan menghalangi seseorang dari ilmu dan akan menggagalkan perjuangan. Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Seseorang yang takabur (sombong) tidak mungkin akan mendapatkan ilmu, karena ilmu itu memerangi kesombongan tersebut seperti mata air yang menghempaskan tempat yang tinggi. Karena tempat yang tinggi akan selalu digoyang oleh air ke kanan dan ke kiri sehingga air itu tidak diam. Begitu juga ilmu. Dia tidak akan tinggal bersama kesombongan dan sifat yang suka ketinggian, yang pada akhirnya ilmu tersebut dicabut darinya.” (al-’Ilmu, hlm. 80)

 

Cinta untuk selalu menjadi orang yang berada di atas adalah satu wujud kemaksiatan kepada Allah subhaanahu wa ta’aalaa. Bila demikian keadaannya maka akan melahirkan kemaksiatan yang baru. Ibnu Abil ‘Izzi al-Hanafi rahimahullah mengatakan, “Suatu dosa akan menghasilkan dosa baru, karena balasan perbuatan jahat adalah kejelekan setelahnya.” (Syarah al-‘Aqidah ath-Thahawiyyah, hlm. 440)

 

Apabila seseorang memiliki penyakit yang demikian maka akan melahirkan penyakit yang lain. Di antaranya:

Pertama, apabila dia melihat orang lain lebih dari dirinya maka dia akan hasad kepada orang tersebut, sampai kelebihan/keutamaan itu hilang dari orang tersebut.

Kedua, apabila dia sampai kepada apa yang dicintainya (diinginkannya) maka dia akan meremehkan orang lain, bahkan meremehkan gurunya sendiri.

Ketiga, apabila dia beramal satu amalan yang tidak bisa dilakukan oleh orang lain maka akan bermunculan penyakit-penyakit kronis lainnya:

a. Angkuh (ujub) terhadap dirinya, menganggap dirinyalah yang paling baik,

b. Muncul sifat riya’ (ingin pamer) di dalam beramal supaya orang lain memujinya,

c.    Muncul sifat sum’ah (ingin memperdengarkan amalannya) supaya orang lain memuji-mujinya.

Keempat, apabila datang cercaan kepadanya maka dia menganggap yang demikian itu adalah azab.

 

Demikianlah sebagian akhlak iblis yang akan menjauhkan seseorang dari Allah subhaanahu wa ta’aalaa. Berhati-hatilah dari akhlak tersebut dengan cara mempelajari perjalanan hidup Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat beliau, yang telah berjuang di atas perjuangan kita ini dan mereka lebih dari segala-galanya. Kiaskan perjuangan dirimu dengan perjuangan mereka maka kamu akan menemukan dirimu jauh dari mereka. Oleh karena itu, untuk apakah kamu mengangkat dirimu?

 

Wallahu a’lam.



Sumber:  Akhlak Iblis, Majalah Asy-Syari’ah edisi 05, ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyah

Saturday, October 6, 2012

Mengaku Sama-sama Berpedoman pada Sunnah dan Qur’an, Tapi Mengapa Masih Tersesat?

Mengapa mereka tersesat?

Padahal mayoritas kelompok atau aliran tersebut menyatakan bahwa mereka berada di atas Al-Qur’an dan As-Sunnah. Lalu apa yang menyebabkan mereka jatuh pada penyimpangan dan kesesatan?


Ini karena mereka hendak memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah tidak dengan apa yang diajarkan dan diamalkan oleh generasi salaf (generasi shahabat Nabi dan selanjutnya, red).  Masing-masing kelompok memiliki pemahaman (penafsiran) yang berbeda terhadap nash-nash Al-Qur’an dan Al-Hadits serta cenderung bertabrakan satu sama lain sesuai dengan kepentingan kelompoknya masing-masing.

Tiap-tiap kelompok menggunakan (menafsirkan, red) nash-nash Al-Qur’an dan Al-Hadits sebagai tameng (sesuai kemauan dan hawa nafsu, red) untuk melindungi penyimpangan dan kesesatan mereka. Dengan cara meletakkannya tidak pada tempatnya, tidak sesuai dengan apa yang telah dipahami, disampaikan dan diamalkan oleh generasi as-salafush shalih (generasi orang-orang sholeh terdahulu, red) .


Padahal Rasulullah shalallahu alaihi wasalam sebagai junjungan dan penuntun kita, ketika menjelaskan akan munculnya perpecahan yang akan menimpa umat ini menjadi 73 kelompok, dan beliau ditanya tentang ciri-ciri serta kriteria satu-satunya kelompok yang selamat, dengan tegas beliau menjawab:

“Mereka (kelompok yang selamat itu) adalah orang-orang yang kondisinya berada di atas apa yang aku dan para shahabatku berada di atasnya pada hari ini.” [HR. Ath-Thabarani]

 

Begitu pula ketika beliau mengabarkan kepada para shahabatnya bahwa mereka akan menyaksikan perselisihan yang banyak, dengan tegas beliau memerintahkan para shahabatnya untuk berpegang pada prinsip/manhaj para Al-Khulafa‘ur Rasyidun bersamaan dengan prinsip/manhaj beliau. Dengan tegas pula beliau shalallahu alaihi wasalam memperingatkan para shahabatnya dari bahaya bid’ah (bahaya logika, ra’yu, cara, atau paham yang diada-adakan).

 

 Rasulullah shalallahu alaihi wasalam bersabda:

“Sesungguhnya barangsiapa di antara kalian yang hidup (setelahku) akan mendapati perselisihan yang sangat banyak. Maka (dalam kondisi seperti itu) wajib atas kalian untuk berpegang teguh dengan sunnah-ku dan sunnah para Al-Khulafa‘ur Rasyidun yang telah mendapatkan petunjuk setelahku. Gigitlah sunnah tersebut dengan gigi-gigi geraham. Jauhilah oleh kalian perkara-perkara baru yang diada-adakan (dalam masalah agama), karena sesungguhnya setiap perkara baru yang diada-adakan itu adalah bid’ah, dan setiap bid’ah itu sesat. [dalam riwayat lain]: dan setiap kesesatan itu (tempatnya) di neraka. [HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad]

 

 

Namun hawa nafsu hizbiyyah (semangat kekelompokan) yang membutakan telah menghalangi mereka dari mengikuti jejak generasi yang telah dipuji oleh Rasulullah dan dijadikan sebagai barometer kebenaran dalam memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Sikap seperti itu menggiring mereka untuk terus lebih mengedepankan logika dan cara pandang kelompoknya dibanding pemahamanan generasi as-salafush shalih. Sehingga mereka terus berada dalam kungkungan perpecahan dan sikap ‘ashabiyyah (sikap membela kelompok secara membabi buta).



Sumber :
Mengapa berbagai paham dan aliran sempalan itu tersesat? – Menebar Dusta Membela Teroris Khawarij hal. 35-36,  http://merekaadalahteroris.com/mengapa-m-t.HTM

Mengapa Sebagian Orang Melupakan, Meremehkan atau Menolak Al-Qur’an?

 


Allah subhanahu wata’ala berfirman:

“Berkatalah Rasul: ‘Ya Rabbku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur`an ini (mahjuran) suatu yang tidak dihiraukan.’” (Al-Furqan: 30)

Ibnu Katsir t menjelaskan: “Hal itu dikarenakan dahulu kaum musyrikin tidak mendengarkan Al-Qur`an. Mereka, bila dibacakan Al-Qur`an, jutru membikin keributan dan berbicara hal lain supaya tidak mendengarnya. Inilah (makna) menjadikan Al-Qur`an (mahjuran) suatu yang tidak dihiraukan.” (Tafsir Ibnu Katsir:3/329)

 

Ibnul Qayyim rahimahumullah menjelaskan juga bahwa sikap tak acuh terhadap Al-Qur`an ada beberapa macam, yaitu :

1. Tidak mau mendengarkan dan beriman pada Al Qur’an.

2.  Meninggalkan pengamalannya dan tidak memperhatikan halal-haramnya meskipun membaca dan beriman dengannya.

3. Tidak mau memutuskan hukum atau berhukum dengannya baik dalam prinsip-prinsip agama maupun cabang-cabangnya. Serta meyakini bahwa Al-Qur`an tidak memberikan sesuatu yang yakin dan dalil-dalil Al-Qur`an hanyalah berupa lafadz-lafadz, tidak menghasilkan ilmu yang yakin.

4. Tidak men-tadabburi dan memahaminya serta tidak berusaha mengetahui apa yang dimaukan oleh Yang  (Allah ‘Azza wa Jalla) berbicara dengannya.

5. Tidak mau mencari kesembuhan atas segala penyakit qalbu darinya (Al-Qur’an) atau berobat dengannya, sehingga mencari kesembuhan dari selainnya.

6. Berpaling kepada selainnya baik berupa syair, perkataan orang, nyanyian, omong kosong, atau metode yang diambil dari selainnya.1

 

Semua itu masuk dalam firman Allah subhanahu wata’ala:

“Berkatalah Rasul: ‘Ya Rabbku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur`an ini (mahjuran) suatu yang tidak diacuhkan.’” (Al-Furqan: 30)

 Walaupun sebagian bentuk ketidakacuhan lebih ringan dari yang lain.

 

 

Keberatan Terhadap Al-Qur`an

Demikian pula rasa berat yang ada di dalam dada manusia terhadap Al-Qur`an:

 

a. Terkadang keberatan itu terhadap turunnya Al-Qur`an dan bahwa (tidak yakin bahwa Al-Qur`an)  itu kebenaran (yang berasal) dari Allah subhanahu wata’ala.  (meragukan Al Qur’an sebagai kalam/perkataan Allah, dan menganggapnya karya manusia atau karya Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam,  red)

 

b. Terkadang keberatan pada (keyakinan) bahwa (apakah memang benar) Allah subhanahu wata’ala yang berbicara dengannya.

 

c. Terkadang keberatan pada cukup atau tidaknya Al-Qur`an, sehingga (menurutnya) Al-Qur`an tidak memadai bagi manusia. Dan mereka membutuhkan teori-teori rasionalis, analogi maupun ide serta gagasan (di luar Al-Qur’an).

 

d. Terkadang keberatan pada sisi kandungan dalil Al-Qur`an dan esensi yang dimaukannya, yang bisa dipahami dari ungkapannya. Sehingga (memberikan kemungkinan), bahwa yang dimaukan dengannya adalah makna yang menyimpang dari makna asli dan hakikat kandungannya, berupa penafsiran-penafsiran yang jelek (penafsiran Qur’an yang didasarkan hawa nafsu manusia sesuai kebutuhannya atau didasari kesombongan manusia akan akalnya, red).

 

e. Terkadang menganggap bahwa hakikat isi Al-Qur`an, walaupun itu memang yang dimaksudkan, tapi sebenarnya itu sudah ada (walaupun tanpa penjelasan / keberadaan Al-Qur`an), atau mengesankan bahwa apa yang dimaukan Al-Qur`an itu hanya demi maslahat/kepentingan tertentu saja.

 

Mereka semua (yang memiliki perasaan seperti itu) memiliki rasa berat atas Al-Qur`an dalam qalbu mereka, dan mereka mengetahui hal itu pada diri-diri mereka serta mendapati hal itu dalam dada-dada mereka. Dan engkau akan dapati di setiap qalbu ahli bid’ah (yaitu orang yang gemar menambah-nambah dan berimprovisasi dalam cara beragama/ibadah) akan ada rasa berat atas banyaknya ayat yang menyelisihi bid’ah mereka.

Sebagaimana engkau dapati di setiap dada/qalbu orang yang dzalim dan jahat akan ada keberatan terhadap ayat-ayat yang menjadi penghalang antara dia dengan apa yang ia (hawa nafsunya) inginkan.


Renungilah makna ini dan pilihlah apa yang engkau suka untuk dirimu sesuai kehendakmu.

(Diterjemahkan dan diringkas dari kitab Al-Fawa`id, karya Ibnul Qayyim, hal. 94)

Catatan Kaki:

1 Untuk poin ini penulis tambahkan dari penjelasan Ibnu Katsir.

 

 

Sumber :

Qalbu yang merasa Berat dengan Al-Qur’an, (ditulis oleh: Al-Ustadz Qomar ZA Lc.), Majalah AsySyariah Edisi 023

(beberapa tulisan yang berada dalam tanda kurung merupakan tambahan dari redaksi untuk memudahkan / menyederhanakan bahasa)

 

Kemerdekaan Menurut Islam

Salah satu hak setiap bangsa, golongan, masyarakat atau pribadi yaitu hak mendapatkan kemerdekaan lahir batin. Lalu, ba...