بِسْــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم Tujuan Manusia Hidup Adalah Kembali Ke Jalan Allah SWT. Maka kerjakanlah sholat,ibadah,zikir,sedekah,amal,zakat,puasa dan kebaikan menurut firman2 Allah yg terkandung di dalam kitab suci Al,Quran, hadits2, riwayat2 tuntunan nabi-nabi dan rasullulloh. Laksanakan dalam kehidupan sehari-hari dengan hati sabar,tawakal dan istiqomah. Terima kasih kepada semua pihak dan sumber yang terkait dgn artikel/gambar ini "Jazakallahu khairan" Oleh: Wedha Kencana
Thursday, January 10, 2013
Sunday, January 6, 2013
Membangun Sifat Dermawan Pada Anak
Kedermawanan bukanlah semata sikap yang tumbuh dengan sendirinya pada diri seorang anak. Namun juga butuh pembiasaan sedari kecil. Ketika anak mulai memasuki usia balita, biasanya ia mulai mengerti tentang apa itu ‘milik’. Dia mulai memahami, ada barang-barang miliknya, ada barang milik orang lain.
Namun kesadaran tentang milik ini terkadang –atau malah seringnya– disertai berkembangnya sifat ‘pelit’. Ada rasa keberatan bila dia harus memberikan sebagian miliknya kepada orang lain atau barang miliknya sekadar dipegang, dipinjam atau digunakan oleh orang lain. Yang seperti ini kadangkala menjadi biang pertengkaran si anak dengan saudara atau teman sepermainannya.
Keadaan seperti ini tentu tak dapat dibiarkan, karena sifat buruk ini bisa jadi akan terus berkembang dan melekat pada pribadi anak. Tentu kita tak ingin anak kita menjadi anak yang bakhil, karena sifat ini jelas-jelas dicela oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dalam Kitab-Nya, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: ”Adapun orang yang memberikan hartanya dan bertakwa, serta membenarkan keyakinan yang benar berikut balasannya, maka akan Kami mudahkan baginya keadaan yang mudah. Adapun orang yang bakhil dan merasa dirinya tidak butuh kepada Allah, serta mendustakan keyakinan yang benar berikut balasannya, maka akan Kami mudahkan baginya keadaan yang sukar.” (Al-Lail: 5-10)
Dalam ayat yang lain Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: ”Orang-orang yang bakhil dan menyuruh orang lain untuk berbuat bakhil, serta menyembunyikan karunia yang telah Allah berikan kepada mereka, dan Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir adzab yang menghinakan.” (An Nisa`: 37)
Begitu pula Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menggambarkan bagaimana beratnya seorang yang bakhil memberikan hartanya. Al-Imam Bukhari rahimahullahu meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa dia mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Perumpamaan orang yang bakhil dan orang yang suka berinfak seperti dua orang yang memakai jubah besi yang dia masukkan dari dada hingga kerongkongannya. Adapun orang yang suka berinfak, setiap kali dia berinfak jubahnya bertambah longgar dari kulitnya, sampai akhirnya menutupi jari-jemarinya dan menghapus jejak langkahnya (karena panjangnya, pen.). Adapun orang yang bakhil, setiap kali dia akan berinfak, maka menyempitlah baju besi itu, dia ingin melonggarkannya, tapi jubah itu tetap tidak bertambah longgar.” (HR. Al-Bukhari no. 1443)
Oleh karena itu, orangtua harus melatih anak-anak untuk menghilangkan sifat bakhil ini, disertai penanaman sifat dermawan. Anak-anak harus diajarkan, bahwa segala sesuatu yang dia miliki adalah rizki dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala-lah yang memberikannya dan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang memerintahkan kita untuk bersedekah dan berbuat baik. Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberikan balasan yang lebih banyak bila kita mematuhi perintah-Nya untuk bersedekah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, infakkanlah apa yang telah Kami rezekikan kepada kalian sebelum datang suatu hari yang pada saat itu tidak ada jual beli, tidak ada hubungan kasih sayang dan tidak ada pula syafaat. Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang dzalim.” (Al-Baqarah: 254)
Di ayat yang lain, Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: “Dan apa pun yang kalian infakkan, maka Allah akan menggantinya, dan Dia adalah sebaik-baik pemberi rizki.” (Saba`: 39)
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman pula: “Maka bertakwalah kalian kepada Allah sekuat kemampuan kalian, dengar dan taatlah kalian kepada-Nya, serta infakkanlah harta yang baik bagi diri kalian, dan barangsiapa dilindungi dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (At-Taghabun: 16)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah memberikan hasungan kepada kita untuk senantiasa melapangkan diri untuk memberi. Sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak ada suatu hari yang dimasuki oleh seorang hamba, kecuali pada hari itu ada dua malaikat yang turun. Salah seorang dari mereka berdoa, ‘Ya Allah, berikan ganti pada orang yang menginfakkan hartanya.’ Yang lainnya berdoa, ‘Ya Allah, berikan kemusnahan harta pada orang yang tidak mau memberi’.” (HR. Al-Bukhari no. 1442)
Benarlah berita yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini. Sehingga sudah semestinya kita hasung anak-anak untuk memiliki sifat dermawan, dengan mengingatkan mereka akan doa malaikat bagi orang-orang yang berinfak.
Selain itu, bisa pula kita ceritakan, bagaimana kedermawanan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang kita diperintah untuk mengikuti beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling dermawan. Tak pernah beliau menolak apabila diminta. Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu mengatakan: “Tak pernah sekalipun Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam diminta sesuatu kemudian beliau mengatakan ‘tidak’.” (HR. Muslim no. 2311)
Kedermawanan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini sangat mengesankan siapa pun. Bahkan seseorang yang baru masuk Islam menjadi lunak hatinya dengan pemberian beliau ini, sehingga membuat dia mencintai Islam dan menjadi baik keislamannya. Diceritakan oleh Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu: ”Ada seseorang meminta kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kambing sebanyak antara dua bukit. Beliau pun memenuhi permintaannya. Maka orang itu mendatangi kaumnya sambil berkata, ’Wahai kaumku, masuk Islamlah kalian! Sesungguhnya Muhammad itu suka memberi dengan pemberian yang dia sendiri tidak khawatir akan fakir!’ Anas mengatakan, ’Tadinya orang itu masuk Islam karena menginginkan dunia, sampai akhirnya setelah masuk Islam, Islam lebih dia cintai daripada dunia seisinya’.” (HR. Muslim no. 2312)
Sifat dermawan pada diri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tampak lebih menonjol saat tiba bulan Ramadhan. Karena itu, kita ajarkan pula anak-anak untuk banyak berbuat kebaikan dan banyak memberi saat bulan Ramadhan tiba. ’Abdullah bin ’Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan: ”Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan lagi pada bulan Ramadhan, ketika Jibril menemui beliau. Jibril biasa menemui beliau setiap malam sepanjang bulan Ramadhan, lalu mengajari beliau Al-Qur’an. Maka ketika itulah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih dermawan untuk memberikan kebaikan daripada angin yang bertiup kencang.” (HR. Al-Bukhari no. 3220 dan Muslim no. 2308)
Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu mengatakan, hadits ini memiliki beberapa faedah, di antaranya penjelasan tentang besarnya kedermawanan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta disenanginya memperbanyak kedermawanan ini pada bulan Ramadhan. (Syarh Shahih Muslim, 15/68)
Biasanya, mengajarkan kebaikan pada anak bisa pula didukung dengan menyampaikan berbagai kisah yang benar. Mudah mereka mengingatnya dan membekas dalam hati. Demikian pula dalam hal mengajari mereka agar dermawan. Kisah-kisah tentang kedermawanan para sahabat radhiyallahu ‘anhumaperlu kita tuturkan pada mereka, seperti Abu Bakr Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu yang paling banyak menyerahkan harta dan persahabatannya untuk mendukung Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Juga seperti ’Utsman bin ’Affan radhiyallahu ‘anhu yang membeli sumur Ruumah milik seorang Yahudi dengan hartanya agar bisa diambil airnya oleh kaum muslimin. Demikian pula para sahabat lain yang menginfakkan harta mereka di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Dari kalangan wanita, ada Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha yang sangat gemar bersedekah sampai-sampai lupa menyisakan sedikit pun hartanya untuk berbuka puasa. Juga Ummul Mukminin Zainab bintu Khuzaimah radhiyallahu ‘anha yang dijuluki Ummul Masakin, ibunda kaum miskin, karena senantiasa mengulurkan bantuan kepada orang-orang miskin. Begitu pula Ummul Mukminin Zainab bintu Jahsy yang paling banyak bersedekah di antara para istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Asma` bintu Abi Bakr radhiyallahu ‘anha yang gemar membuat sesuatu kemudian hasilnya dia sedekahkan, dan masih banyak lagi.
Melalui biografi yang membeberkan kisah hidup para sahabat ini, mereka akan mengenal sosok mulia para sahabat radhiyallahu ’anhum. Di samping itu, mereka akan mendapatkan teladan dari kisah yang mereka baca. Diharapkan, mereka akan bisa meniru kedermawanan para sahabat radhiyallahu ’anhum.
Yang tak kalah pentingnya adalah teladan kita sebagai orangtua. Seorang anak yang melihat orangtuanya senantiasa memberikan kebaikan pada orang-orang yang ada di sekelilingnya, akan lebih mudah dibiasakan untuk bersifat dermawan. Diiringi pula doa kebaikan kita untuk mereka, agar Allah Subhanahu wa Ta’ala jauhkan mereka dari sifat-sifat yang yang tercela dan menghiasi mereka dengan sifat-sifat yang mulia.
Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab.
wedhakencana.blogspot.com
Sumber :
http://anakmuslim.wordpress.com/2008/06/16/kedermawanan/
Oleh: Al-Ustadzah Ummu ‘Abdirrahman Bintu ‘Imran
Saturday, January 5, 2013
Membangun Pemahaman Islam Pada Anak
Anak adalah harapan di masa yang akan datang. Kalimat ini seringkali kita dengar dan sangat lekat di benak kita. Tak ada yang memungkiri ucapan itu karena memang ia sebuah kenyataan bukan hanya sekadar ungkapan perumpamaan, benar-benar terjadi bukan sebatas khayalan belaka. Karenanya, sudah semestinya memberikan perhatian khusus dalam hal mendidiknya sehingga kelak mereka menjadi para pengaman dan pelopor masa depan umat Islam.
Lingkungan pertama yang berperan penting menjaga keberadaan anak adalah keluarganya sebagai lembaga pendidikan yang paling dominan secara mutlak, kemudian kedua orang tuanya dengan sifat-sifat yang lebih khusus. Sesungguhnya anak itu adalah amanat bagi kedua orang tuanya. Di saat hatinya masih bersih, putih, sebening kaca jika dibiasakan dengan kebaikan dan diajari hal itu maka ia pun akan tumbuh menjadi seorang yang baik, bahagia di dunia dan akhirat. Sebaliknya, jika dibiasakan dengan kejelekan dan hal-hal yang buruk serta ditelantarkan bagaikan binatang, bukan mustahil dia akan tumbuh menjadi seorang yang berkepribadian rusak dan hancur. Kerugian mana yang lebih besar yang akan dipikul kedua orang tua dan umat umumnya apabila meremehkan pendidikan anak-anaknya.
Berkata Ibnul Qoyyim rahimahullah, “Bila terlihat kerusakan pada diri anak-anak, mayoritas penyebabnya adalah bersumber dari orang tuanya.” Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan kita dengan firmanNya, “Hai orang-orang yang beriman peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS At Tahrim: 6). Berkata Amirul Mukminin Ali Radiyallahu ‘anhu, “Ajarilah diri-diri kalian dan keluarga-keluarga kalian kebaikan dan bimbinglah mereka.”.
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Setiap di antara kalian adalah pemimpin dan akan dipertanggungjawabkan, seorang imam adalah pemimpin akan diminta pertanggungjawabannya, seorang laki-laki pemimpin atas keluarganya dan akan diminta pertanggungjawabannya, seorang wanita pemimpin dalam rumah suaminya dan ia bertanggungjawab, dan seorang budak adalah pemimpin dalam hal harta tuannya dan ia bertanggungjawab. Ketahuilah bahwa kalian semua adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawabannya.” (HR Bukhari dan Muslim dari sahabat Abdullah ibnu Umar Radiyallahu ‘anhu).
Dari sahabat Anas bin Malik, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Sesungguhnya Allah Ta’ala akan mempertanyakan pada setiap pemimpin atas apa yang dipimpinnya, apakah ia menjaganya ataukah menyia-nyiakannya? Hingga seseorang akan bertanya kepada keluarganya.” (HR Ibnu Hibban, Ibnu Ady dalam Al Kamil, dan Abu Nu’aim dalam Al Hilyah dan dishahihkan oleh Al Hafizh dalam Al Fath 13/113). Demikian pula dalam Shahih Bukhari dan Muslim, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Bertaqwalah kalian kepada Allah dan berbuat adillah terhadap anak-anakmu.” Sikap adil dan kasih sayang terhadap anak adalah dengan mengajari mereka kebaikan, para orangtua menjadikan dirinya sebagai madrasah bagi mereka.
Keluarga, terlebih khusus kedua orang tua dan siapa saja yang menduduki kedudukan mereka adalah unsur-unsur yang paling berpengaruh penting dalam membangun sebuah lingkungan yang mempengaruhi kepribadian sang anak dan menanamkan tekad yang kuat dalam hatinya sejak usia dini. Seperti Zubair bin Awam, misalnya. Ia adalah salah seorang dari pasukan berkudanya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam yang dinyatakan oleh Umar ibnul Khattab, “Satu orang Zubair menandingi seribu orang laki-laki.” Ia seorang pemuda yang kokoh aqidahnya, terpuji akhlaqnya, tumbuh di bawah binaan ibunya Shafiyah binti Abdul Mutholib, bibinya Rasulullah, dan saudara perempuannya Hamzah.
Ali bin Abi Tholib sejak kecil menemani Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam, bahkan dipilih menjadi menantunya. Ia tumbuh sebagai seorang pemuda sosok teladan bagi para pemuda seusianya di bawah didikan ibunya Fathimah binti Asad dan yang menjadi mertuanya Khadijah binti Khuwailid. Begitu pula dengan Abdullah bin Ja’far, seorang bangsawan Arab yang terkenal kebaikannya, di bawah bimbingan ibunya Asma binti Umais.
Orang tua mana yang tidak gembira jika anaknya tumbuh seperti Umar ibnu Abdul Aziz. Pada usianya yang masih kecil ia menangis, kemudian ibunya bertanya, “Apa yang membuatmu menangis?” Ia menjawab, “Aku ingat mati.” – waktu itu ia telah menghafal Al Qur’an – ibunya pun menangis mendengar penuturannya. Berkat didikan dan penjagaan ibunya yang shalihah Sufyan Ats Tsauri menjadi ulama besar, amirul mukminin dalam hal hadits. Saat ia masih kecil ibunya berkata padanya, “Carilah ilmu, aku akan memenuhi kebutuhanmu dengan hasil tenunanku.” Subhanallah! Anak-anak kita rindu akan ucapan dan kasih sayang seorang ibu yang seperti ini, seorang ibu yang pandangannya jauh ke depan. Seorang ibu yang super arif dan bijaksana.
Para pembaca -semoga dirahmati Allah- lihatlah bagaimana para pendahulu kita yang shalih, mereka mengerahkan segala usaha dan waktunya dalam rangka men-tarbiyah anak-anaknya yang kelak menjadi penentu baik buruknya masa depan umat. Jangan sampai seorang pun di antara kita berprasangka mencontoh para pendahulu yang shalih adalah berarti kembali ke belakang, kembali ke zaman baheula (dianggap kuno, red).
Di saat orang-orang berlomba-lomba meraih gengsi modernisasi, ketahuilah bahwa mencontoh sebaik-baik umat yang dikeluarkan ke tengah-tengah manusia adalah berarti satu kemajuan yang pesat, teknologi canggih dalam membangun aqidah yang benar, memperbaiki moral yang bejat serta membendung semaraknya free children sehingga mengantarkan kepada apa yang telah diraih oleh generasi yang mulia yang tiada tandingannya. Meniti jalannya mereka dalam rangka men-tarbiyah/mendidik anak berarti tengah mempersiapkan konsep perbaikan umat di masa yang akan datang, dimana tidak akan pernah menjadi baik generasi akhir umat ini kecuali dengan apa yang menjadikan baik generasi umat pertama. Allah berfirman, “Sesungguhnya telah Kami turunkan kepada kamu sebuah kitab yang di dalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagimu, maka apakah kamu tiada memahaminya.” (QS Al Anbiyaa: 10).
Perhatian serius dan tarbiyah yang benar kini sangatlah dibutuhkan di zaman yang dipenuhi berbagai fitnah, fitnah syahwat dan syubhat yang terus memburu anak-anak kita dari segala arah dihembuskan oleh da’i-da’i sesat yang berada di pintu-pintu neraka jahanam. Allah berfirman, “… sedang orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya bermaksud supaya kamu berpaling sejauh-jauhnya (dari kebenaran).” (QS An Nisaa: 27).
Benarlah apa yang dikatakan dalam sebuah syair:
Siapa menggembala kambing di tempat rawan binatang buas
Kemudian lalai darinya, singa akan merebut gembalaannya.
Para pembaca -semoga dirahmati Allah- Islam sebagai agama yang universal tentu tidaklah mengesampingkan tarbiyah anak. Bahkan tarbiyah anak adalah sorotan utama dalam Islam sebab Islam adalah agama tarbiyah. Dengan posisi tarbiyah anak yang demikian pentingnya, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabadikan wasiat Luqman, seorang hamba yang shalih, kepada anaknya sebagai acuan bagi para murobbi/pendidik, begitu pula dengan sosok pribadi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wassalam sebagai seorang Rasul sekaligus menjadi imam para murobbi dunia.
Perhatian dan kecintaannya terhadap anak-anak sangatlah tinggi, terlihat saat beliau mengajari Ibnu Abbas di usianya yang muda belia sehingga tampillah Ibnu Abbas menjadi sosok pemuda yang berilmu, bertaqwa, dan memiliki keberanian yang luar biasa. Salah satu bentuk kasih sayangnya terhadap anak, beliau selalu mencium anak-anak bila berjumpa, sebagaimana dalam Shahih Bukhari dari sahabat Abu Hurairoh, ia berkata, “Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam mencium Hasan …”, juga diriwayatkan oleh Imam Bukhori dalam Shohihnya dari sahabat Aisyah radliyallahu ‘anha berkata, “Seorang badui datang menemui Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam dan berkata: Kalian selalu menciumi anak-anak, sedangkan kami tidak pernah menciuminya.” Lalu Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam berkata, “Kami menginginkan agar Allah mencabut kasih sayang dari hatimu.”, tidak ada bahan pengajaran yang paling baik dan sempurna kecuali yang bersumber dari kitab dan sunnah karena di situlah adanya ilmu yang mencakup segala bidang, seperti ungkapan Imam Syafi’i:
Ilmu itu adalah ucapan Allah dan ucapan Rasul-Nya
Sedang selain dari itu adalah bisikan-bisikan syaithan.
Alangkah baik bila penulis uraikan beberapa langkah dasar dalam mendidik anak yang disarikan dari Al-Kitab dan Sunnah.
Pertama: mengajarkan tauhid kepada anak, mengesakan Allah dalam hal beribadah kepada-Nya, menjadikannya lebih mencintai Allah daripada selain-Nya, tidak ada yang ditakutinya kecuali Allah. Ini pendidikan yang paling urgen (penting) di atas hal-hal penting lainnya.
Kedua: mengajari mereka sholat dan membiasakannya berjamaah.
Ketiga: mengajari mereka agar pandai bersyukur kepada Allah, kepada kedua orang tua, dan kepada orang lain.
Keempat: mendidik mereka agar taat kepada kedua orang tua dalam hal yang bukan maksiat, setelah ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya yang mutlak.
Kelima: menumbuhkan pada diri mereka sikap muraqabah merasa selalu diawasi Allah. Tidak meremehkan kemaksiatan sekecil apa pun dan tidak merendahkan kebaikan walau sedikit.
Keenam: memberitahu mereka akan wajibnya mengikuti sabilul mukminin al muwahhidin (jalannya mukminin yang bertauhid), salafush shalih generasi terbaik umat ini, dan memberikan loyalitas kepada mereka.
Ketujuh: mengarahkan mereka akan pentingnya ilmu Al Kitab dan Sunnah.
Kedelapan: menanamkan pada jiwa mereka sikap tawadlu, rendah hati, dan rujulah serta syaja’ah (kejantanan dan keberanian). Dan masih banyak lagi selain apa yang penulis uraikan di sini. Semoga Allah menganugerahkan kepada kita anak-anak yang sholih. Amin ya Mujiibas sailiin. Allah berfirman, “Dan orang-orang yang berkata: Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati kami dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa.” (QS Al Furqoon: 74).
Para pembaca -semoga dirahmati Allah- begitulah memang seharusnya pendidikan anak ini menjadi kewajiban nomor satu bagi para orang tua, menelantarkannya berarti menelantarkan amanat dan kepercayaan Allah, membiarkannya adalah berarti membiarkan kehancuran anak, orang tuanya, umat, bangsa, dan negara. Adapun mendidiknya adalah cahaya masa depan umat yang cerah yang berarti juga mengangkat derajat sang anak dan derajat kedua orangtuanya di surga. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Akan diangkat derajat seorang hamba yang sholih di surga. Lalu ia akan bertanya-tanya: Wahai Rabb apa yang membuatku begini?” Kemudian dikatakan padanya, “Permohonan ampun anakmu untukmu.” (HR Ahmad dari sahabat Abu Hurairah).
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Dan orang-orang yang beriman dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka, tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (QS Ath Thuur: 21).
Allah-lah yang memberi taufiq kepada apa yang dicintai-Nya dan diridlai-Nya.
Walhamdulillahi rabbil ‘alamin.
Wal Ilmu indallah.
wedhakencana.blogspot.com
(Dikutip dari tulisan Al Ustadz Abu Hamzah Al Atsari. Bulletin al Wal wal Bara Edisi ke-14 Tahun ke-1 / 21 Maret 2003 M / 18 Muharrom 1424 H. Url sumber http://.fdawj.atspace.org/awwb/th1/14.htm)
*Dengan diedit tanpa mengurangi makna.
http://anakmuslim.wordpress.com/2007/03/03/anak-dan-masa-depan-umat-islam/
Friday, January 4, 2013
Mengatasi Rasa Takut Pada Anak
“Ummi, Ahmad pingin ke kamar mandi. Anterin ya Mi…”
Ummu Ahmad (bukan nama sebenarnya) kaget ketika suatu malam Ahmad, anaknya yang sudah berumur 10 tahun tiba-tiba minta diantarkan ke kamar mandi.
“Ahmad anak shalih… kok tumben minta diantar ke kamar mandi? Biasanya berani sendiri.”
“Ahmad takut ketemu hantu Mi…” kata Ahmad dengan wajah ketakutan.
Kisah ini mungkin sangat sering kita jumpai. Tak hanya anak kecil, bahkan banyak orang dewasa yang mengaku takut terhadap hantu. Masih banyaknya budaya dan kepercayaan terhadap hal-hal mistis yang bertentangan dengan syariat, ditambah lagi maraknya cerita maupun film-film misteri di tengah masyarakat semakin memperparah kerusakan dan mengikis keimanan.
Rasa takut anak kepada hantu, bagaimanapun harus mendapat perhatian khusus dari orang tua. Karena bila ketakutan sang anak tetap terpelihara, tak hanya membentuk mental penakut pada diri anak tetapi juga dapat mengurangi kesempurnaan tauhid yang sangat kita harapkan terbentuk pada diri sang anak.
Sekilas tentang Rasa Takut (Khauf)
Sangat penting bagi orang tua untuk bisa melatih anak mengatur rasa takutnya. Bukan hanya sekedar agar anak menjadi pemberani, tetapi lebih karena rasa takut adalah bagian dari ibadah. Rasa takut adalah bagian dari rukun yang harus ada dalam ibadah, di samping rasa cinta dan harap.
Macam-macam takut
Ulama telah membagi rasa takut menjadi beberapa bagian, yaitu:
1. Takut ibadah atau disebut juga takut sirri (takut terhadap sesuatu yang ghaib).
Takut ibadah dibagi menjadi dua macam:
a. Takut kepada Allah, yaitu takut yang diiringi dengan merendahkan diri, pengagungan, dan ketundukan diri kepada Allah. Takut semacam inilah yang akan mendatangkan ketaqwaan dan ketaatan sepenuhnya kepada Allah. Oleh karena itu, rasa takut seperti ini hanya boleh ditujukan kepada Allah semata karena merupakan salah satu konsekuensi keimanan.
Allah berfirman, yang artinya, “Karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (QS. Ali Imran 175)
b. Takut kepada selain Allah, yaitu takut kepada selain Allah dalam hal sesuatu yang ditakuti itu sebenarnya tidak dapat melakukannya dan hanya Allah-lah yang dapat melakukannya. Takut semacam ini banyak terjadi pada berhala, takut pada orang mati, takutnya para penyembah kubur kepada walinya, dll. Rasa takut ini merupakan syirik akbar yang dapat mengeluarkan pelakunya dari keIslaman.
2. Takut yang haram, yaitu takut kepada selain Allah, yang bukan ibadah tetapi menyebabkan ia melakukan keharaman atau meninggalkan kewajiban. Takut semacam ini dapat mengurangi ketauhidan seseorang.
3. Takut thobi’i (normal). Yaitu takut pada hal-hal yang bisa mencelakakan kita (dengan izin dan kekuatan dari Allah). Misalnya, takut pada binatang buas, api, dll. Takut semacam ini wajar ada pada diri manusia dan dibolehkan selama tidak melampaui batas.
4. Takut wahm (khayalan), yaitu takut pada sesuatu yang sebabnya tidak jelas. Misalnya, takut pada hantu. Takut semacam ini tercela.
Seorang anak yang masih dalam fase pertumbuhan dan sedang mengalami masa belajar, ia mempunyai rasa ingin tahu yang besar dan kadang disertai pula daya imajinasi yang tinggi. Oleh karena itu, ketika ia mendengar cerita tentang berbagai macam hantu entah dari berbagai media massa, atau dari orang-orang di sekitarnya, hal tersebut bisa menimbulkan rasa takut yang berlebihan. Apalagi bila sang anak pernah mengalami trauma karena ditakut-takuti temannya atau karena pernah mengalami gangguan jin.
Rasa takut kepada hantu atau setan, bisa mengantarkan kepada syirik akbar. Jika sampai membawa pada peribadatan kepada selain Allah. Bentuknya bermacam-macam, ada yang memberi sesajian agar tidak diganggu, membaca berbagai mantera, datang kepada dukun untuk meminta jimat, dan sebagainya.
Pada anak, mungkin tak sampai separah itu. Namun tak jarang kita dapati, karena rasa takut kepada hantu atau semacamnya, anak menjadi takut keluar kamar untuk mengambil wudhu pada pagi hari. Sang anak menjadi menunda-nunda waktu shalat Subuhnya. Ini hanyalah salah satu contoh. Tetapi sekali lagi, hal ini dapat mengurangi kesempurnaan tauhid sang anak.
Ketakutan anak bisa diperparah jika orangtuanya pun tidak paham syariat sehingga demi mengatasi rasa takut anaknya sehingga membawa anak pada kesyirikan. Misalkan menggantungkan jimat pada anak sehingga sang anak terus bergantung pada jimat tersebut hingga ia dewasa.
Cara Mengatasi Rasa Takut Anak kepada Hantu
Bagi orang tua sangat penting mengetahui bagaimanakah cara mengatasi ketakutan anak dengan cara yang sesuai syariat. Antara lain:
1. Tanamkanlah pada anak tauhid dan aqidah yang benar.
Cobalah cari tahu apa yang sebenarnya ditakutkan oleh sang anak pada
saat keadaannya tenang. Rangsanglah anak dengan beberapa pertanyaan.
“Adik takut hantu ya? Memangnya hantu itu apa sih?”
Jika sang anak menjawab bahwa hantu adalah pocong, genderuwo, nyi loro
kidul, kuntilanak, atau semacamnya, jelaskan bahwa hantu-hantu semacam
itu tidak ada sama sekali sehingga tidak perlu ditakutkan. Jika yang
ditakutkan anak adalah orang mati, maka jelaskanlah bahwa orang mati
takkan bisa memberi manfaat maupun bahaya bagi orang yang masih hidup.
Adapun jika sang anak telah mengerti bahwa yang dimaksud orang-orang dengan hantu adalah penjelmaan dari setan atau jin yang hendak mengganggu manusia, maka orangtua haruslah menjelaskan kepada anak bahwa tidak ada kekuatan yang paling kuat kecuali kekuatan Allah. Seluruh makhluk, termasuk jin dan setan di bawah pengaturan Allah. Ajarkan pada anak meskipun seluruh jin dan manusia ingin mencelakakannya, akan tetapi Allah tidak menakdirkannya, maka ia takkan celaka. Begitu pula sebaliknya.
Sungguh indah contoh yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika beliau menasehati Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu yang ketika itu masih kecil.Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu bahwa ia berkata, “Pada suatu hari saya pernah membonceng di belakang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu beliau bersabda, “Wahai anak muda, sesungguhnya akan kuajarkan kepadamu beberapa kalimat. Jagalah Allah, niscaya Ia juga akan menjagamu. Jagalah Allah niscaya engkau akan mendapati-Nya ada di hadapanmu. Apabila engkau meminta sesuatu, mintalah kepada Allah. Jika engkau memohon pertolongan, mohonlah kepada Allah. Ketahuilah, andaikan saja umat seluruhnya berkumpul untuk memberikan manfaat kepadamu, mereka tidak akan bisa memberikan manfaat kepadamu kecuali sesuatu yang telah ditetapkan Allah untukmu. Dan andaikan saja mereka bersatu untuk menimpakan bahaya terhadapmu, mereka tidak akan bisa memberikan bahaya itu terhadapmu kecuali sesuatu yang Allah tetapkan atasmu. Pena telah diangkat dan lembar catatan telah kering.” (HR. Tirmidzi)
Jelaskan pada anak pada hal apakah ia harus takut (yaitu takut kepada Allah), pada hal-hal apakah ia boleh takut tetapi tidak berlebihan dan hal-hal apa yang ia tidak boleh takut sama sekali. Hendaklah orang tua mengenalkan kepada anak-anaknya kepada Allah, nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Karena dengan pengenalan kepada Allah, seorang anak akan mengetahui keagungan Allah, keMahaKayaanNya, kekuasaan-Nya. Yang harus orang tua ingat, mengajarkan rasa takut kepada Allah juga harus disertai pengajaran rasa cinta dan harap kepada Allah. Sehingga hal ini menjadikan anak ikhlas dan giat dalam beramal serta tidak mudah putus asa.
2. Ajarkan wirid dan doa yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Ada banyak wirid dan doa yang bisa diajarkan pada anak. Misalnya, wirid
pagi dan sore, doa sehari-hari seperti doa masuk WC, doa singgah di
suatu tempat, doa hendak tidur, dll. Pilihlah bacaan wirid dan doa
sesuai kapasitas kemampuan anak.
Tak hanya sekedar menghafal, tapi juga pahamkan mereka arti dari doa tersebut sehingga mereka mengamalkan doa-doa tersebut dengan penuh keyakinan akan manfaat doa bagi dirinya. Ajarkan pada anak bahwa doa dan wirid adalah senjata dan perisai bagi kaum mukmin. Karena itu, bila rasa takut menyerang, yang terbaik dilakukan adalah meminta perlindungan dan pertolongan Allah, Rabb seluruh makhluk. Sesekali ingatkan atau tanyakan pada anak arti dari doa tersebut. Sekaligus untuk mengetahui apakah sang anak sudah mengamalkan doa-doa tersebut ataukah belum.
3. Jauhkanlah anak dari hal-hal yang mendatangkan rasa takut kepada hantu.
Misalnya cerita misteri, patung dan lukisan makhluk bernyawa, dll.
Cerita misteri atau berbau mistis kadang lebih menarik bagi anak karena
imajinasi mereka yang tinggi dan masih belum terkontrol baik. Oleh
karena itu, kenalkanlah anak dengan kisah-kisah para Nabi,
sahabat-sahabat Rasulullah, maupun kisah shahih lain yang dapat
mengajarkan anak keimanan, keberanian dan akhlaq yang baik. Jangan hanya
sekedar menyediakannya buku/majalah, meskipun ini juga hal yang
penting. Sesekali ceritakanlah langsung dengan lisan anda agar hikmah
dan nilai kisah lebih mengena di hati anak. Ini juga akan lebih
mendekatkan orang tua dengan sang buah hati.
4. Ajarkan pula pada anak untuk tidak menakut-nakuti temannya meski hanya bermaksud untuk bercanda. Pahamkan pada anak untuk bercanda dengan baik.
5. Bila orang tua ternyata adalah seorang penakut, berusahalah untuk tidak menampakkan hal tersebut di depan sang anak. Sebagaimana kita tidak ingin anak menjadi penakut, maka latihlah diri sendiri untuk tetap tenang dan menghilangkan sifat penakut dari diri kita.
Jika suatu ketika sifat penakut kita diketahui oleh sang anak, tak ada salahnya melibatkan anak dalam usaha menghilangkan sifat penakut kita. “Astagfirullah, tadi Ummi kok menjerit ya pas lampu mati? Menurut adik, Ummi harusnya gimana? Iya adik benar, harusnya tetap tenang dan minta perlindungan sama Allah. Lain kali kalau Ummi menjerit lagi, adik ingatin Ummi ya….” Hal ini juga akan mengajarkan pada anak bagaimana seharusnya ia bersikap ketika ada orang lain atau temannya yang ketakutan. Jangan pula menakut-nakuti anak dengan ancaman yang tak berdasar atau bertentangan dengan syariat. Misalnya, “Jangan main dekat sungai ya! Nanti diculik genderuwo penunggu sungai lho” Hal ini sering tanpa sadar dilakukan oleh para orang tua. Maka wahai para pendidik, bekalilah diri dengan ilmu syar’i dalam mendidik anak-anak kita.
6. Berdoalah untuk kebaikan anak
Hal yang sering luput dari orang tua adalah berdoa untuk anak-anaknya.
Padahal doa merupakan salah satu pokok yang harus dipegang teguh orang
tua. Doa orang tua bagi kebaikan anaknya adalah salah satu jenis doa
yang dijanjikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam akan dikabulkan
oleh Allah (HR. Baihaqi). Termasuk di antaranya, hendaknya orang tua
mendoakan agar anak dilindungi dari gangguan setan.
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu bahwa ia berkata, “Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memintakan perlindungan untuk Hasan dan Husain dengan mengucapkan, “Aku memohon perlindungan untukmu berdua dengan kalimat Allah yang sempurna dari setiap setan dan binatang berbisa, dan juga dari setiap mata yang jahat.” Selanjutnya beliau bersabda “Adalah bapak kalian (yaitu Ibrahim) dahulu juga memohonkan perlindungan untuk kedua puteranya, Ismail dan Ishaq, dengan kalimat seperti ini.” (HR. Bukhari)
Inilah sebagian cara yang semoga bisa mengatasi rasa takut anak terhadap hantu. Orang tua hendaknya bersabar dalam membantu anak mengatasi rasa takutnya dengan tetap memprioritaskan pendidikan aqidah dan tauhid pada anak. Semoga kelak anak tumbuh menjadi sosok muslim-muslimah yang beraqidah lurus, beramal shalih dan mempunyai ketawakkalan tinggi kepada Allah. Wallahu Ta’ala a’lam. (Ummu Rumman)
wedhakencana.blogspot.com
Sumber : Penulis: Ummu Rumman
Muraja’ah: Ust. Aris Munandar
Maraji’:
Bila Anak Anda Takut Hantu, Ummu Khaulah, Majalah As Sunnah Edisi 02/Tahun VIII/1424H/2004M
Mendidik Anak Bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Muhammad Suwaid, penerbit Pustaka Arafah
Mutiara Faidah Kitab Tauhid Syaikh Muhammad At Tamimi, Abu ‘Isa Abdullah bin Salam, penerbit Divisi Bimbingan Masyarakat LBI Al Atsary Yogyakarta
Syarah Tiga Landasan Utama, Syaikh Abdullah bin Shalih al Fauzan, Pustaka At Tibyan
http://blogkuzainal.blogspot.com/2011/06/wahai-anakku-janganlah-takut-sama-hantu.html
Thursday, January 3, 2013
Cara Mendidik Anak Perempuan dalam Agama Islam
Memiliki anak-anak perempuan bukanlah sebuah kekurangan bagi seseorang. Bisa jadi, ia justru menjadi anugerah yang amat indah baginya, manakala dia bisa menunaikan segala kewajiban memelihara dan mendidik mereka.
Bagi orang tua yang dianugerahi anak-anak perempuan, pemberian Allah subhanahu wata’ala ini sebenarnya merupakan karunia yang amat besar dari-Nya. Dia bisa berharap janji Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam: “Barang siapa yang memelihara dua anak perempuan hingga dewasa, dia akan datang pada hari kiamat dalam keadaan aku dan dia (seperti ini).” Beliau menggabungkan jari-jemarinya. (HR. Muslim no. 2631)
Juga pada janji Beliau shalallahu ‘alaihi wassalam yang lainnya: “Barang siapa diuji dengan sesuatu dari anak-anak perempuannya, lalu dia berbuat baik kepada mereka, kelak mereka akan menjadi penghalang dari api neraka.” (HR. al-Bukhari no. 1418 dan Muslim no. 2629)
Kita juga mengingat penuturan ‘Aisyah radhiyallahu anha tentang seorang wanita miskin yang datang kepadanya. ‘Aisyah radhiyallahu anha mengisahkan: Seorang wanita miskin datang kepadaku membawa dua orang anak perempuannya. Kuberikan kepadanya tiga butir kurma. Ia lalu memberikan kepada setiap anaknya sebutir kurma. Sebutir yang lain ia angkat ke mulutnya untuk dia makan. Namun, kedua anak perempuannya meminta kurma itu. Lantas dibaginya kurma yang hendak dia makan itu untuk kedua anaknya. Aku pun merasa kagum terhadap perbuatannya, lalu kuceritakan apa yang dilakukannya kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam. Beliau pun berkata, ‘Sesungguhnya Allah telah menetapkan baginya surga dengan kurma yang diberikannya itu dan membebaskannya dari neraka’.” (HR. Muslim no. 2630)
Begitu pun kalau kita cermati, pendidikan terhadap anak perempuan memiliki peran yang amat strategis. Tentu saja, karena hal ini akan sangat berpengaruh terhadap kondisi masyarakat dan generasinya kelak. Bagaimana tidak! Seorang anak perempuan akan menjadi seorang istri bagi suaminya, akan menjadi ibu dan pendidik bagi anak-anaknya. Selain itu, dia akan mengemban berbagai tugas lain yang telah menanti.
Jika dia baik, dia akan menunaikan berbagai perannya ini dengan baik. Dia akan berkhidmah di balik kesibukan suaminya dengan sebaik-baiknya serta memberikan dorongan dan pengaruh yang baik bagi sang suami. Dia akan memelihara serta menjaga fisik dan psikis anak-anaknya yang kelak akan menjadi generasi pengganti, juga mengajari mereka dengan berbagai hal yang positif. Dia juga akan menjaga kehormatan diri dan keluarganya. Selanjutnya, dia pun mengerti tanggung jawab dan amanat yang harus dia tunaikan dalam setiap tugas yang diembannya. Dengan demikian, baiklah masyarakatnya—insya Allah.
Sebaliknya, anak perempuan yang tak terdidik dengan baik tidak akan bisa membantu dan mendukung kebaikan suaminya. Anak-anaknya pun telantar, tidak terurus karena dia tidak mengerti hak anak-anaknya. Tingkah laku anak-anaknya pun akan jauh dari sebutan beradab. Lebih-lebih lagi, dia akan menjadi sumber kerusakan yang bisa menghancurkan tatanan masyarakat.
Tentu kita tidak ingin memiliki anak perempuan sebagaimana gambaran terakhir ini. Kita mohon keselamatan kepada Allah subhanahu wata’ala….
Kalau begitu, kita perlu menelisik seluk-beluk mendidik anak perempuan ini—dengan terus memohon pertolongan dan kemudahan dari Allah subhanahu wata’ala—untuk mewujudkan impian dan harapan kita.
Mengajarkan Agama kepada Mereka
Bekal yang paling berharga bagi anak-anak, termasuk anak perempuan, adalah agama. Bahkan, seorang wanita dipilih karena agamanya, sebagaimana anjuran Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam: “Wanita itu dinikahi karena empat hal: bisa jadi karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Maka dari itu, pilihlah wanita yang baik agamanya. Jika tidak, engkau akan celaka.” (HR. al-Bukhari no. 5090 dan Muslim no. 3620)
Menanamkan agama kepada anak-anak tentu saja harus bertahap. Pada tahap awal, saat anak-anak mulai mengerti pembicaraan, kita bisa mengenalkan mereka pada Rabbnya. Kita tuntun mereka menunjuk ke langit sambil kita katakan, “Allah.” (Nashihati lin Nisa’, hlm. 65)
Ketika tiba saat anak dapat berbicara, mereka dituntun untuk mengucapkan kalimat tauhid: “Jadikanlah yang pertama kali mengetuk pendengarannya adalah pengenalan kepada Allah subhanahu wata’ala, pengesaan-Nya, dan bahwa Allah subhanahu wata’ala di atas ‘Arsy-Nya, Allah subhanahu wata’ala melihat dan mendengar segala ucapan mereka, Dia selalu bersama mereka di mana pun berada. (Tuhfatul Maudud, hlm. 195)
Saat berusia sekitar satu setengah tahun, ketika mereka mulai belajar bicara, kita tuntunkan mereka untuk mengucapkan basmalah sebelum makan dan minum. Kita biasakan sampai mereka terbiasa mengucapkannya sendiri setiap hendak makan dan minum. (Nashihati lin Nisaa’, hlm. 65)
Ini sebagaimana halnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam mengajarkan basmalah kepada ‘Umar bin Abi Salamah yang berada dalam asuhan beliau: “Nak, ucapkan bismillah. Makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah makanan yang dekat denganmu!” (HR. al-Bukhari no. 5376 dan Muslim no. 2022)
Ketika mereka mulai bisa memahami, kita ajari mereka rukun Islam, rukun iman, dan rukun ihsan. Pengajaran tentang hal ini tidak bisa dibatasi mulai usia tertentu, tergantung kemampuan pemahaman dan bicara anak.
Ajari serta biasakan mereka untuk berwudhu dan shalat saat berusia tujuh tahun. Pukullah mereka jika meninggalkan shalat pada usia sepuluh tahun. Pada usia ini pula, pisahkan tempat tidur antara anak laki-laki dan anak perempuan. Demikian yang diperintahkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam kepada setiap orang tua dalam sabda beliau: “Perintahlah anak-anak kalian untuk shalat ketika mereka berusia tujuh tahun dan pukullah mereka jika enggan melakukannya pada usia sepuluh tahun, dan pisahkanlah tempat tidur mereka.” (HR. Ahmad dan dikatakan oleh asy-Syaikh al-Albani t dalam Shahih al-Jami’ ash-Shaghir no. 5744, “Hadits ini hasan.”)
Jika mereka telah mampu, kita latih mereka untuk berpuasa agar terbiasa kelak ketika dewasa. Hal seperti ini telah dilakukan oleh para ibu dari kalangan shahabiyah, sebagaimana yang dituturkan oleh ar-Rubayyi’ bintu Mu’awwidz x: “Kami menyuruh puasa anak-anak kami. Kami buatkan untuk mereka mainan dari perca. Jika mereka menangis karena lapar, kami berikan mainan itu kepadanya hingga tiba waktu berbuka.” (HR. al-Bukhari dan Muslim) (Nashihati lin Nisa’, hlm. 66—67)
Kemudian diajari pula mereka akidah yang benar, sebagaimana halnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam mengajari anak pamannya, ‘Abdullah bin ‘Abbas c: “Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya engkau akan dapati Dia ada di hadapanmu. Apabila engkau meminta, mintalah kepada Allah, dan apabila engkau memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah, seandainya seluruh umat ini berkumpul untuk memberikan manfaat kepadamu, mereka tidak akan dapat memberikannya selain apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagimu. Seandainya mereka berkumpul untuk menimpakan mudarat kepadamu, mereka tidak akan dapat menimpakannya selain apa yang telah Allah tetapkan menimpamu. Telah diangkat pena, dan telah kering lembaran-lembaran.” (HR. at-Tirmidzi, dinyatakan sahih oleh al-Imam al-Albani dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi 2/2043 dan al-Misykat no. 5302)
Kita ajarkan pula hal-hal yang terkandung dalam wasiat Luqman kepada anaknya yang dikisahkan oleh Allah subhanahu wata’ala dalam al-Qur’an, Surat Luqman ayat 13—19.
Selain itu, mereka harus pula mengetahui perkara-perkara yang harus dijauhi dalam syariat sehingga mereka dapat menghindarinya. Ini telah dicontohkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam: “Al-Hasan bin ‘Ali radhiyallahu anhu memungut sebutir kurma dari kurma sedekah, lalu dia masukkan kurma itu ke mulutnya. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam pun bersabda, “Kikh, kikh1! Buang kurma itu! Apa kau tidak tahu, kita ini tidak boleh makan sedekah?” (HR. Muslim no. 1069)
Selanjutnya, seiring dengan bertambahnya usia, kita ajarkan mereka satu demi satu syariat Islam yang mulia ini—terutama hal-hal yang khusus berkenaan dengan wanita— sebagai bekal utama bagi mereka dalam menghadapi kehidupan.
Memupuk Kesadaran Mereka Sebagai Seorang Wanita
Sedari awal, anak perempuan harus diberi pengertian bahwa mereka berbeda dari anak laki-laki. Hal yang termudah untuk mengenalkan perbedaan ini adalah dari sisi pakaian. Mereka dilarang mengenakan pakaian yang biasa dipakai anak laki-laki. Selain pakaian, sikap dan perilaku pun demikian. Anak perempuan diajari sikap dan perilaku yang khas anak perempuan. Mereka harus diberi pengertian bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam melarang mereka menyerupai anak laki-laki, sebagaimana dalam hadits: “Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki. Beliau melaknat laki-laki yang berperilaku seperti wanita dan wanita yang berperilaku seperti laki-laki.” (HR. al-Bukhari no. 5885)
Difatwakan oleh Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin t, “Tasyabbuh (penyerupaan) laki-laki dengan perempuan termasuk dosa besar, demikian pula penyerupaan perempuan dengan laki-laki. Dalilnya, ‘Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki’. Di samping itu, penyerupaan seperti ini akan merusak sunnah Allah subhanahu wata’ala terhadap ciptaan-Nya, karena Allah subhanahu wata’ala telah menciptakan kekhususan tersendiri bagi wanita dan kekhususan tersendiri pula bagi laki-laki. Jika wanita menyerupai laki-laki dan laki-laki menyerupai perempuan, tentu sunnah yang telah diciptakan oleh Allah subhanahu wata’ala ini akan hilang dan sirna sehingga terjadilah sesuatu yang bertentangan dengan penciptaan dan hikmah Allah subhanahu wata’ala.” (Fatawa ‘Ulama al-Balad al-Haram, hlm. 1761—1762)
Membiasakan Mereka dengan Adab dan Akhlak Mulia
Di masa sekarang, banyak anak perempuan kaum muslimin yang kehilangan pesonanya sebagai seorang muslimah. Makan dengan tangan kiri, bersuara lantang di depan khalayak, keluyuran di pusat perbelanjaan, dan berdesakan di tengah keramaian tidak lagi dipandang sebagai aib. Bisa jadi pula, mereka bahkan terlepas dari perhatian orang tua. Rasa malu mulai tanggal dari diri mereka.
Di sisi yang lain, ada orang tua yang merasa perlu menyekolahkan anaknya di ‘sekolah etika’ agar anak perempuannya tampil anggun dan penuh etika.
Sebenarnya, seorang muslimah bisa tampil santun dan penuh pesona manakala dia berpegang dengan adab dan akhlak yang diajarkan oleh Islam. Becermin kepada pribadi Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam, ummahatul mukminin, dan para shahabiyah.
Di samping itu, sejak dini mereka harus dikenalkan dan dibiasakan dengan adab-adab yang diajarkan oleh Islam. Ini sebagaimana dikatakan oleh sahabat yang mulia, ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu : “Ajarilah mereka adab dan ajarilah mereka ilmu!”
Adab terhadap orang tua, tetangga, tamu, adab makan dan minum, adab berpakaian, adab meminta izin, dan sekian banyak adab yang diajarkan oleh Islam—hingga yang sekecil-kecilnya, seperti memotong kuku, membersihkan badan dan pakaian, serta menunaikan hajat—perlu mereka ketahui dan amalkan. Adab dan akhlak yang mulia akan menjadi perhiasan bagi mereka.
Membiasakan Mereka Berpakaian Sesuai Syariat
Tidak selayaknya kita memakaikan mereka pakaian yang jauh dari tuntunan syariat, rok mini atau hot pants misalnya. Dinasihatkan oleh Fadhilatusy Syaikh al-‘Utsaimin t, “Tidak pantas orang tua memakaikan anak perempuannya pakaian seperti ini (pakaian yang pendek, –pen.) semasa kanak-kanak. Karena jika terbiasa, hal ini akan melekat dan dianggap remeh olehnya. Apabila yang seperti ini menjadi kebiasaannya, keadaan ini akan terus dia bawa hingga dewasa. Yang saya nasihatkan kepada para saudari saya kaum muslimah, hendaknya mereka meninggalkan busana wanita asing dari kalangan musuh-musuh agama ini. Hendaknya pula mereka membiasakan anak-anak perempuan mereka untuk mengenakan pakaian yang menutup aurat dan senantiasa merasa malu karena malu itu termasuk keimanan.” (Fatawa asy-Syaikh Muhammad ash-Shalih al-’Utsaimin, 2/845—846)
Bahkan, kita harus mendorong mereka untuk menutup aurat sejak masih kanak-kanak agar mereka terbiasa ketika dewasa kelak. Sejak umur tujuh tahun, kita biasakan mereka mengenakan kain kerudung untuk menutup kepala. Ketika telah baligh, kita perintahkan untuk menutup wajahnya, mengenakan pakaian panjang dan lapang yang akan menjaga kehormatannya. “Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan seluruh wanita kaum mukminin agar mereka mengulurkan jilbab-jilbab mereka. Ini lebih layak bagi mereka untuk dikenali (sebagai wanita baik-baik) hingga mereka tidak diganggu.” (al-Ahzab: 59)
Allah subhanahu wata’ala juga telah melarang para wanita mukminah membuka wajah serta menampakkan kecantikan dan perhiasan pada selain mahramnya. Allah subhanahu wata’ala berfirman: ““Dan janganlah kalian menampakkan perhiasan sebagaimana kaum jahiliah dahulu.” (al-Ahzab: 33) (Kaifa Nurabbi Auladana, hlm. 26)
Mengajari Berbagai Keterampilan Rumah Tangga
Anak perempuan harus dibekali dan dibiasakan melakukan segala pekerjaan rumah. Hal ini nanti akan dibutuhkannya ketika mulai memasuki rumah tangga bersama suaminya. Banyak hal harus dia ketahui: cara bergaul dengan suami dan mengurus rumah tangga, seperti memasak, mengatur rumah, dan sebagainya.
Kadang ada keluarga yang kurang memerhatikan sisi ini. Anak perempuannya tidak dibekali dengan keterampilan yang memadai untuk terjun dalam rumah tangga. Tatkala si anak mulai berumah tangga, ternyata dia tak bisa memasak atau membereskan rumah. Bahkan, ia tak mengerti bagaimana bergaul dengan baik dan santun dengan suaminya. Yang lebih menyedihkan jika sang suami adalah seorang yang tak sabaran dan cepat naik pitam. Akhirnya, muncullah berbagai problem rumah tangga sejak awal perjalanannya yang terkadang harus berakhir dengan perpisahan. Kita memohon keselamatan kepada Allah subhanahu wata’ala.
Alangkah indah nasihat seorang ibu untuk putrinya yang hendak dinikahkan dengan al-Harits bin ‘Amr al-Kindi. Dia pesankan, “Wahai putriku, sesungguhnya jikalau wasiat tak lagi diberikan untuk seorang yang beradab dan bernasab mulia, tentu takkan kuberikan wasiat ini untukmu. Namun, wasiat adalah pengingat bagi orang yang berakal dan pemberi peringatan bagi orang yang lalai.
Wahai putriku, seandainya seorang anak perempuan tak lagi membutuhkan suami karena ayah bundanya telah mencukupinya, sesungguhnya engkau orang yang paling tak butuh terhadap suami. Namun, kita ini diciptakan untuk kaum laki-laki, sebagaimana pula diciptakan kaum laki-laki untuk kita.
Wahai putriku, engkau hendak berpisah dengan tanah tempat kelahiranmu, meninggalkan kehidupan yang dahulu engkau tumbuh di sana, menuju tempat yang tak kau kenal bersama teman yang asing bagimu. Dengan kepemilikannya atas dirimu, dia menjadi penguasa atasmu. Berlakulah layaknya hamba sahayanya, niscaya dia akan menjadi sahaya yang tunduk kepadamu. Jagalah sepuluh hal yang akan menjadi simpanan berharga bagimu:
1. Bergaullah dengannya dengan penuh qana’ah (selalu merasa cukup, tidak banyak menuntut, red) karena qana’ah akan melapangkan hati.
2. Dengar dan taatlah engkau dengan baik karena pada kedua hal ini ada keridhaan Rabbmu.
3. Berupayalah menjaga pandangan mata dan penciumannya, jangan sampai kedua matanya memandang sesuatu yang buruk darimu dan hidungnya mencium sesuatu darimu selain aroma yang semerbak wangi.
4. Kenakanlah selalu celak dan air karena celak adalah sebaik-baik perhiasan dan air adalah sebaik-baik wewangian.
5. Jagalah selalu waktu makannya, karena panasnya rasa lapar akan mudah membangkitkan kemarahan.
6. Ciptakan suasana tenang saat tidurnya karena tidur yang terganggu akan menimbulkan amarah.
7. Berusahalah selalu menjaga rumah dan hartanya karena mampu menjaga harta termasuk sebaik-baik kemampuan.
8. Jagalah selalu hubungan dengan keluarganya karena kemampuan menjaga hubungan dengan kerabat termasuk sebaik-baik pengaturan.
9. Jangan engkau sebarkan rahasianya karena jika engkau lakukan, niscaya engkau takkan aman dari pengkhianatannya.
10. Jangan pernah kau durhakai perintahnya, karena jika kau mendurhakai perintahnya, berarti engkau buat menggelegak dadanya.
Semakin kau agungkan dia, dia pun makin memuliakanmu. Semakin sering engkau seia-sekata dengannya, dia pun semakin baik kepadamu.
Ketahuilah, engkau takkan bisa melakukan semua ini sampai engkau utamakan keinginannya di atas keinginanmu, dan engkau utamakan keridhaannya di atas keridhaanmu, baik dalam hal-hal yang kau sukai maupun yang engkau benci.
Hati-hatilah, jangan sampai engkau bergembira di hadapannya manakala dia sedang gundah gulana, dan jangan bermuram durja di hadapannya tatkala dia sedang gembira.” (Takrimul Mar’ah fil Islam, hlm. 96—97)
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.
Catatan Kaki:
1 Ini adalah perkataan untuk memperingatkan anak-anak dari sesuatu yang kotor. Maknanya,
“Tinggalkan dan buang barang itu!”
wedhakencana.blogspot.com
Sumber :
Seluk Beluk Mendidik Anak Perempuan, (ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Abdirrahman bintu Imran), Majalah AsySyariah Edisi 075
Wednesday, January 2, 2013
Percaya Takdir Bukan Berarti Menyerah Pada Nasib
Takdir acap dituding sebagai biang yang membelenggu cara berpikir umat. Mengimani takdir hanya membuat umat mundur dan tidak mau berusaha. Bahkan dalam beberapa tulisan orientalis, kepercayaan kepada takdir dianggap sebagai salah satu faktor kejatuhan peradaban Islam.
Umat Islam yang mempercayai takdir, oleh kalangan antiislam, diibaratkan sebagai daun kering dalam embusan badai. Artinya, kaum muslimin hidup di bawah bayang-bayang kekuasaan mutlak bernama takdir yang mencengkram segala sesuatu dalam hidupnya. Mereka “dipaksa” dalam setiap perilakunya, seolah-olah mengimani takdir identik dengan tidak mau berikhtiar (tidak ada kebebasan memilih).
Pertanyaannya, kalau kepercayaan kepada takdir dianggap sebagai sebab kemunduran Islam, mengapa generasi-generasi awal Islam yang keimanan mereka kepada takdir sangat kuat justru mampu membawa Islam pada puncak keemasannya? Kalau kemiskinan dianggap kemunduran dan kesuksesan duniawi dianggap kemajuan, mengapa generasi emas Islam tersebut mayoritasnya justru orang-orang miskin?
Artinya, ada kesalahpahaman dalam memahami takdir dan ada salah kaprah dalam memahami apa itu “kemajuan”. Dalam kesejarahan Islam, memang muncul dua kutub besar dalam masalah takdir. Kutub pertama: Qadariyah, Majusi umat ini, membatasi takdir pada “kebaikan” saja sementara “keburukan” di luar takdir. Sementara itu, kutub satunya: Jabriyah (determinisme), mencabut segala bentuk kebebasan pada diri manusia.
Islam (Ahlus Sunnah) sendiri berada di pertengahan di antara dua kutub ekstrem tersebut, yakni manusia wajib mengimani takdir baik atau buruk, dengan diberi kebebasan dalam menjalani (baca: memilih) hidupnya di dunia yang telah diatur rambu-rambunya dalam Islam. Siapa yang ingin selamat, tentu memilih jalan Islam. Oleh karena itu, orang-orang yang berbuat maksiat tidak bisa menyandarkan ulahnya pada takdir dengan mengabaikan sebabnya (kehendak manusia).
Orang-orang yang bunuh diri hanya karena soal “cinta”, orang-orang stress karena gagal jadi anggota dewan atau kepala daerah, ibu-ibu yang tega membuang bahkan membunuh bayi hasil hubungan gelapnya dengan orang lain, remaja-remaja bunuh diri karena hamil di luar nikah, merekalah justru orang-orang yang dihasilkan dari cara berpikir antitakdir.
Kalau mereka mau merenungi takdir, semestinya mereka akan mencoba memetik hikmahnya, memikirkan luasnya pintu taubat, dan tumbuh keinginan untuk memperbaiki diri. Ia justru lebih bisa menatap masa depan dengan selalu berharap Allah subhanahu wata’ala akan memberikan jalan keluar atau kemudahan dari masalah yang tengah ia hadapi.
Intinya, mengimani takdir bukan berarti menyerah pada nasib. Orang yang menyerah pada nasib memang membuat malas dan lamban, serta berhenti pada titik kegagalannya. Sementara itu, orang yang beriman pada takdir justru tak akan berlarut-larut dalam kesedihan dan tak akan tenggelam dalam kegagalan. Ia akan segera bangkit. Kala ia meraih kesuksesan atau kebahagiaan, ia pun tak berbangga diri. Ia sadar bahwa apa yang ia raih semata-mata karena takdir Allah subhanahu wata’ala.
Wallahu a’lam.
wedhakencana.blogspot.com
Mengimani Takdir≠Menyerah pada Nasib, Majalah AsySyariah Edisi 071
Subscribe to:
Posts (Atom)
Kemerdekaan Menurut Islam
Salah satu hak setiap bangsa, golongan, masyarakat atau pribadi yaitu hak mendapatkan kemerdekaan lahir batin. Lalu, ba...
-
"Dan katakanlah kepada perempuan-perempuan yang beriman supaya menyekat pandangan mereka (daripada memandang yang haram), dan memeli...
-
Salah satu hak setiap bangsa, golongan, masyarakat atau pribadi yaitu hak mendapatkan kemerdekaan lahir batin. Lalu, ba...