CAHAYA MENUJU SURGA

بِسْــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم Tujuan Manusia Hidup Adalah Kembali Ke Jalan Allah SWT. Maka kerjakanlah sholat,ibadah,zikir,sedekah,amal,zakat,puasa dan kebaikan menurut firman2 Allah yg terkandung di dalam kitab suci Al,Quran, hadits2, riwayat2 tuntunan nabi-nabi dan rasullulloh. Laksanakan dalam kehidupan sehari-hari dengan hati sabar,tawakal dan istiqomah. Terima kasih kepada semua pihak dan sumber yang terkait dgn artikel/gambar ini "Jazakallahu khairan" Oleh: Wedha Kencana

Thursday, October 25, 2012

Idul Adha 2012 Jatuh Pada Tanggal 26 Oktober Hari Jumat

Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Agama, telah menetapkan bahwa Idul Adha atau Hari Raya Kurban, jatuh pada hari Jumat, tanggal 26 Oktober 2012. Penetapan ini dicetuskan setelah diadakannya sidang isbat untuk menentukan awal Dzulhijjah 1433 H.

 

 

Hari Raya Idul Adha atau Idul Qurban, akan dirayakan seluruh umat Islam di Indonesia pada Jumat, 26 Oktober 2012. Pemerintah, melalui Kementerian Agama, memutuskan hal ini setelah mengadakan Sidang Isbat Penentuan awal bulan Dzulhijjah 144 Hijriyah. Sidang ini sendiri digelar pada Senin petang, 15 Oktober 2012 lalu. Sebagai pimpinan sidang, adalah Wakil Menteri Agama, Nasaruddin Umar.

 

Keputusan ini diambil setelah Direktur Urusan Agama Islam dan Syarih, Muhtar Ali, melaporkan hasil pemantauan hilal di berbagai daerah pada Senin petang tersebut. 

 

 

Pemantauan hilal ini berlangsung di 31 wilayah. Dipastikan bahwa bulan masih tak terlihat, masih di bawah ufuk.Peserta sidang isbat sendiri setuju pada hasil pemantauan tersebut.

 

Dengan demikian, Selasa, 16 Oktober belum terhitung sebagai 1 Dzulhijjah. Barulah keesokan harinya, Rabu, 17 Oktober, dihitung sebagai 1 Dzulhijjah 1433 Hijriyah.

 

Penetapan tanggal 1 Dzulhijjah 1433 Hijriyah sendiri tertuang dalam Surat Keputusan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 159 Tahun 2012. Surat Keputusan ini dapat diunduh di situs resmi Kementerian Agama.

 

Dengan ditetapkannya Rabu, 17 Oktober sebagai tanggal 1 Dzulhijjah, maka tanggal 10 Dzulhijjah, atau Hari Raya Idul Adha, akan jatuh pada Jumat, 26 Oktober 2012.

 

Penyembelihan hewan pada Hari Raya Kurban (atau dalam rentang tiga hari setelahnya yang disebut Hari Tasyrik) tidak hanya ditujukan untuk memperingati dan mengingat keikhlasan Nabi Ibrahim yang diperintahkan Allah untuk menyembelih putra beliau, Nabi Ismail. Tetapi juga, sebagai bentuk rasa syukur seorang muslim sekaligus bentuk kepedulian terhadap sesama manusia, dengan berbagi rezeki yang dianugerahkan Allah.



Sumber:  
http://forum.kompas.com

at October 25, 2012 No comments:
Email ThisBlogThis!Share to XShare to FacebookShare to Pinterest

Wednesday, October 24, 2012

Keutamaan Puasa Arafah

3 Keutamaan Puasa Arafah | Besok, Kamis 25 Oktober 2012, bertepatan dengan 9 Dzulhijjah 1433 H merupakan hari Arafah. Pada hari itu, jamaah haji melakukan wukuf di Arafah yang merupakan rukun inti dari haji. Sedangkan bagi kaum Muslimin yang tidak sedang menjalankan ibadah haji, disunnahkan untuk melakukan puasa Arafah. 

 

Puasa Arafah merupakan puasa sunnah yang sangat dianjurkan, sunnah muakad. Puasa Arafah memiliki keutamaan yang luar biasa. Sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut:
سُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ فَقَالَ يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ

Rasulullah SAW pernah ditanya tentang puasa hari Arafah, beliau menjawab, “Puasa itu menghapus dosa satu tahun yang lalu dan satu tahun berikutnya.” (HR. Muslim)


 

Demikianlah keutamaan puasa Arafah: ia dapat menghapuskan dosa selama dua tahun. Yakni dosa satu tahun sebelumnya dan satu tahun sesudahnya.


Diantara keutamaan hari Arafah adalah pembebasan dari api neraka. Sebagian ulama menjelaskan bahwa pembebasan dari neraka pada hari Arafah diberikan Allah bukan hanya kepada jamaah haji yang sedang wukuf, melainkan juga untuk kaum muslimin yang tidak sedang menjalankan haji. Terlimpahkannya ampunan Allah terhadap dosa selama dua tahun melalui puasa Arafah sangat terkait dengan keutamaan kedua ini.

مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يُعْتِقَ اللَّهُ فِيهِ عَبْدًا مِنَ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ وَإِنَّهُ لَيَدْنُو ثُمَّ يُبَاهِى بِهِمُ الْمَلاَئِكَةَ فَيَقُولُ مَا أَرَادَ هَؤُلاَءِ

“Di antara hari yang Allah banyak membebaskan seseorang dari neraka adalah hari Arofah. Dia akan mendekati mereka lalu akan menampakkan keutamaan mereka pada para malaikat. Kemudian Allah berfirman: Apa yang diinginkan oleh mereka?” (HR. Muslim)

 


Keutamaan lain puasa Arafah adalah ke-mustajab-an doa. Secara umum doa orang yang berpuasa akan dikabulkan oleh Allah. Ditambah lagi dengan keutamaan waktu hari Arafah yang merupakan sebaik-baik doa pada waktu itu, maka semakin kuatlah keutamaan terkabulnya doa orang yang berpuasa Arafah pada hari itu.

خَيْرُ الدُّعَاءِ دُعَاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ وَخَيْرُ مَا قُلْتُ أَنَا وَالنَّبِيُّونَ مِنْ قَبْلِى لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ

“Sebaik-baik do’a adalah do’a pada hari Arafah. Dan sebaik-baik yang kuucapkan, begitu pula diucapkan oleh para Nabi sebelumku adalah ucapan “Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku walahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qadiir (Tidak ada Ilah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. MilikNyalah segala kerajaan dan segala pujian, Allah Maha Menguasai segala sesuatu).” (HR. Tirmidzi, hasan)


Demikian 3 Keutamaan Puasa Arafah, semoga semakin menguatkan motivasi kita untuk menjalankan Puasa Arafah pada 9 Dzulhijjah 1433 H yang jatuh pada esok hari.

Selamat menunaikan ibadah puasa arafah, semoga Allah Swt. menghapus semua dosa-dosa kita yang lampau maupun yang akan datang. Amin ya rabb..

 

Sumber:
http://www.bersamadakwah.com/2012/10/3-keutamaan-puasa-arafah.html 
at October 24, 2012 No comments:
Email ThisBlogThis!Share to XShare to FacebookShare to Pinterest

Do'a Niat Puasa Bulan Dzulhijjah (Tarwiyah dan Arafah)

Tak terasa hari ini sudah memasuki tanggal 8 bulan dzulhijjah, dimana semua umat islam di sunahkan berpuasa menyambut datangnya idhul adha.


Puasa sunah untuk bulan Dzulhijjah (dalam kalender Islam), dilaksanakan 2 hari sebelum tanggal 10 Dzulhijjah (Idul Adha) atau biasa dikenal dengan lebaran haji yaitu tanggal 8 dan 9 Dzulhijjah. Tanggal 8 Dzulhijah dinamakan puasa Tarwiyah dan tanggal 9 Dzulhijah dinamakan puasa Arafah. Puasa sunah Tarwiyah dan Arafah sangat dianjurkan, agar kita dapat turut merasakan nikmatnya seperti yang dirasakan oleh para jama'ah haji. 

 

 

Puasa Arafah adalah puasa yang dilaksanakan pada hari Arafah yakni pada tanggal 9 Dzulhijjah yaitu hari pada saat jama'ah haji melakukan wukuf di padang Arafah.

Puasa Tarwiyah adalah puasa yang dilaksanakan pada hari tarwiyah yakni 8 Dzulhijjah, hari sebelum hari wukuf.

 

Adapun keutamaan puasa sunah Tarwiyah (8 Dzulhijjah) dan 'arafah (9 Dzulhijjah) berdasarkan beberapa hadist adalah:

1. Puasa Tarwiyah dapat menghapus dosa satu tahun silam yang telah terlewati.

2. Sedangkan puasa hari 'arafah memiliki keutamaan yaitu dapat menghapus dosa dua tahun (1 tahun lalu dan 1 tahun yang akan datang)

 

 

DO'A NIAT PUASA TARWIYAH

نويت صوم ترويه سنة لله تعالى

NAWAITU SAUMA TARWIYAH SUNNATAN LILLAHI TA'ALAH

“ Saya niat puasa Tarwiyah, sunnah karena Allah ta’ala.” 

 

DO'A NIAT PUASA ARAFAH

نويت صوم عرفة سنة لله تعالى

NAWAITU SAUMA ARAFAH SUNNATAN LILLAHI TA'ALAH

“ Saya niat puasa Arafah , sunnah karena Allah ta’ala.” 

 

Selamat menunaikan ibadah puasa di bulan dzulhijjah bagi yang menjalankan.

Semoga Allah Swt. menghapus semua dosa-dosa kita. amin..

 

at October 24, 2012 No comments:
Email ThisBlogThis!Share to XShare to FacebookShare to Pinterest

Tuesday, October 23, 2012

Menggugurkan Dosa-dosa Dengan Amalan-amalan Bulan Dzulhijjah

Sepuluh hari pertama bulan Dzul Hijjah untuk tahun 2012 ini dimulai dari tanggal 17 Oktober hingga 26 Oktober 2012. Insya Allah, idul adha akan tiba pada tanggal 26 Oktober 2012.  Begitu banyak pahala dan ampunan yang dapat kita raih selama 10 hari ini. 

 

Jangan terlewatkan wahai saudaraku..

Berikut dibawah ini penjelasan mengenai keutamaan 10 hari pertama bulan Dzul Hijjah.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:  “Tidaklah ada hari yang amal shalih di dalamnya lebih dicintai oleh Allah dari hari-hari tersebut (yaitu sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah).” Para sahabat pun bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah jihad di jalan Allah tidak lebih utama?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Tidaklah jihad lebih utama (dari beramal di hari-hari tersebut), kecuali orang yang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya, kemudian tidak kembali dengan keduanya (karena mati syahid).” (HR. Al-Bukhari)

 

Perbanyak Dzikir

Pada sepuluh hari yang pertama ini, kita juga disyariatkan untuk banyak berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, baik itu berupa ucapan takbir, tahmid, maupun tahlil. Hal ini sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:  “Dan supaya mereka berdzikir menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan.” (Al-Hajj: 28)

 

Diterangkan oleh para ulama bahwa hari-hari yang ditentukan pada ayat tersebut adalah sepuluh hari awal bulan Dzulhijjah. Maka hadits dan ayat tadi menunjukkan keutamaan hari-hari tersebut dan betapa besarnya rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada hamba-hamba-Nya. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala masih memberikan kesempatan bagi orang yang belum mampu menjalankan ibadah haji untuk mendapatkan keutamaan yang besar pula, yaitu beramal shalih pada sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah. Sehingga sudah semestinya kaum muslimin memanfaatkan sepuluh hari pertama ini dengan berbagai amalan ibadah, seperti berdoa, dzikir, sedekah, dan sebagainya.

 

Perbanyak Puasa Sunnah dan Keutamaan Puasa Arafah

Termasuk amal ibadah yang disyariatkan untuk dikerjakan pada hari-hari tersebut kecuali hari yang kesepuluh– adalah puasa.

Apalagi ketika menjumpai hari Arafah, yaitu hari kesembilan di bulan Dzulhijjah, sangat ditekankan bagi kaum muslimin untuk berpuasa yang dikenal dengan istilah puasa Arafah, kecuali bagi jamaah haji yang sedang wukuf di Arafah. Hal ini sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika ditanya tentang puasa hari Arafah, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:   “Puasa Arafah menghapus dosa-dosa setahun yang lalu dan yang akan datang.” (HR. Muslim)

 

Adapun bagi para jamaah haji, mereka tidak diperbolehkan untuk berpuasa, karena pada hari itu mereka harus melakukan wukuf. Karena mereka memerlukan cukup kekuatan untuk memperbanyak dzikir dan doa pada saat wukuf di Arafah. Sehingga pada hari tersebut kita semua berharap untuk mendapatkan keutamaan yang sangat besar serta ampunan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan bahwa hari itu adalah hari pengampunan dosa-dosa dan hari dibebaskannya hamba-hamba yang Allah Subhanahu wa Ta’ala kehendaki dari api neraka. Sebagaimana dalam sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam:  “Tidak ada hari yang Allah membebaskan hamba-hamba dari api neraka, lebih banyak daripada di hari Arafah.” (HR. Muslim)

 

Amalan Sekitar Hari-hari Mina (Hari Nahr dan Hari Tasyrik)

Pada bulan Dzulhijjah juga ada hari yang sangat istimewa yang dikenal dengan istilah hari nahr. Yaitu hari kesepuluh di bulan tersebut, di saat kaum muslimin merayakan Idul Adha dan menjalankan shalat Id serta memulai ibadah penyembelihan qurbannya, sementara para jamaah haji menyempurnakan amalan hajinya. Begitu pula hari-hari yang datang setelahnya, yang dikenal dengan istilah hari tasyriq, yaitu hari yang kesebelas, keduabelas, dan ketigabelas. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengkhususkan hari-hari tersebut sebagai hari-hari untuk makan, minum, dan berdzikir.

 

 

Dan hari-hari itulah yang menurut keterangan para ulama adalah hari yang disebutkan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:  “Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang berbilang.” (Al-Baqarah: 203)

Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menyebutkan tentang hari-hari tersebut:

“Hari-hari Mina (hari nahr dan tasyriq) adalah hari-hari makan dan minum serta berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (HR. Muslim)

 

Dzikir Pada Hari Tasyrik

Berkaitan dengan dzikir yang Allah Subhanahu wa Ta’ala perintahkan kaum muslimin untuk banyak mengucapkannya pada hari-hari tasyriq dan hari-hari sebelumnya di awal bulan Dzulhijjah, para ulama dalam Al-Lajnah Ad-Da`imah menyebutkan fatwa sebagai berikut:

 

“Disyariatkan pada Idul Adha takbir mutlak dan takbir muqayyad. Adapun takbir mutlak maka (disyariatkan untuk dilakukan) pada seluruh waktu dari mulai awal masuknya bulan Dzulhijjah sampai hari yang terakhir dari hari-hari tasyriq. Sedangkan takbir muqayyad (disyariatkan untuk dilakukan) pada setiap selesai shalat wajib mulai dari setelah selesai shalat subuh pada hari Arafah sampai setelah shalat ‘Ashr pada akhir hari tasyriq. Dan pensyariatkan hal tersebut ditunjukkan oleh ijma’ dan perbuatan para shahabat radhiyallahu ‘anhum.”

 

Sebagaimana ibadah lainnya, dzikir juga merupakan suatu amalan yang tata caranya tidak boleh menyimpang dari petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga para ulama juga memberikan peringatan dari dilakukannya takbir secara jama’i, karena hal itu tidak pernah dilakukan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Al-Khulafa` Ar-Rasyidin.   Yang dimaksud (peringatan untuk dijauhi,  red) disini adalah takbir yang diucapkan secara bersama-sama dengan satu suara dan dipimpin oleh seseorang. Hal ini sebagaimana tersebut dalam fatwa para ulama dalam Al-Lajnah Ad-Da`imah yang isinya:  “(Yang benar) adalah setiap orang melakukan takbir sendiri-sendiri dengan suara keras. Karena sesungguhnya takbir dengan cara bersama-sama (dengan satu suara yang dipimpin oleh seseorang) tidak pernah dilakukan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 

Dan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:  “Barangsiapa yang mengamalkan amalan yang tidak ada syariatnya dari kami maka amalan tersebut ditolak.” (HR. Al-Bukhari Muslim)

Akhirnya, marilah kita berusaha memanfaatkan hari-hari yang penuh dengan keutamaan untuk menambah dan meningkatkan amal shalih kita. Begitu pula kita manfaatkan waktu yang ada untuk memperbanyak dzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sehingga kita akan menjadi orang yang mendapatkan kelapangan hati, senantiasa takut kepada-Nya dan terjaga dari gangguan setan, serta faedah lainnya dari amalan berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.




Sumber :
Diringkas dari khutbah Al-Ustadz Saifuddin Zuhri, Lc, selengkapnya silahkan baca di
http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=581
at October 23, 2012 No comments:
Email ThisBlogThis!Share to XShare to FacebookShare to Pinterest

Monday, October 22, 2012

Energi Penyembuh dalam Al-Qur'an: Antara Sains dan Keyakinan

Ada banyak pasien yang sembuh setiap hari karena membaca al-Qur'an. Kita tidak bisa menolaknya, karena kesembuhan itu benar-benar terjadi. Ini juga terjadi pada diri saya saat membaca ayat-ayat tertentu untuk penyakit tertentu, dan penyakit tersebut pun sembuh!


Setelah melakukan riset, maka salah satu hasil terpenting dari riset yang berlangsung selama beberapa tahun ini adalah: Dalam setiap ayat al-Qur'an Allah meletakkan daya penyembuh untuk penyakit tertentu apabila ayat-ayat ini dibaca dengan bilangan (pengulangan) tertentu.

 Pada dasarnya, ketika kita mengamati alam di sekitar kita, maka kita menyadari bahwa setiap satuan atom itu bergetar dalam frekuensi tertentu, apakah atom itu adalah bagian dari metal, air, sel, atau apapun. Ini adalah fakta ilmiah.



Struktur dasar alam semesta ini adalah atom, dan struktur dasar tubuh kita adalah sel. Setiap sel terbuat dari jutaan atom, dan setiap atom terbentuk dari nukleus positif dan elektron negatif yang mengelilinginya. Karena rotasi ini, medan elektromagnetik dihasilkan, sama seperti medan-medan yang dihasilkan oleh suatu mesin. Gambar: Atom merupakan struktur dasar pada alam semesta dan juga pada tubuh kita. Ia bergetar secara konstan, dan itu berarti setiap benda itu bergetar dengan sistem yang seksama. Sel-sel juga bergetar dengan sistem yang seksama, dan setiap getaran di sekitar kita memengaruhi sel-sel kita. Rahasia yang membuat otak ini berpikir adalah sebuah program akurat di dalam sel-sel otak kita.  
Program ini berada di setiap sel yang melakukan pekerjaannya secara seksama. Penyimpangan terkecil pada pekerjaannya dapat mengakibatkan ketidak-seimbangan dan kekacauan pada sebagian organ tubuh. Terapi terbaik terhadap ketidak-seimbangan ini adalah merestorasi keseimbangan kepada tubuh. Para ilmuwan menemukan bahwa sel-sel tubuh itu terpengaruh oleh bermacam-macam gelombang seperti gelombang sinar, gelombang radio, gelombang suara, dan lain-lain. Tetapi, suara apa? 



Gambar: Masing-masing sel di tubuh kita bergetar dengan sistem yang seksama, dan perubahan sekecil apapun pada getaran itu akan mengakibatkan sakit pada sebagian organ tubuh. Itulah kenapa sel-sel yang rusak itu harus digetarkan untuk mengembalikan keseimbangan padanya. Kita tahu bahwa suara itu terbentuk dari gelombang atau getaran yang bergerak di udara dengan kecepatan 340 m/detik. Setiap suara memiliki frekuensi sendiri, dan manusia bisa mendengar suara dengan frekuensi antara 20/detik hingga 20.000/detik.  
Gelombang-gelombang tersebut menyebar di udara lalu ditangkap telinga, lalu ia berubah menjadi sinyal-sinyal elektrik, dan bergerak melalui syaraf suara menuju acoustic bark di dalam otak. Sel-sel tersebut menyesuaikan diri dengan gelombang, lalu gelombang tersebut bergerak ke berbagai bagian otak, khususnya bagian depan. Semua organ itu bekerja secara bersama sesuai seirama dengan sinyal-sinyal tersebut, dan menerjemahkannya ke dalam bahasa yang dipahami manusia. Lalu, otak menganalisa sinyal-sinyal itu dan memberikan perintahnya kepada berbagai organ tubuh untuk menyesuaikan dengan sinyal-sinyal tersebut.
Suara terdiri dari getaran-getaran mekanik yang sampai ke telinga lalu ke sel-sel otak yang menyesuaikan dengan getaran-getaran tersebut, dan mengubah getarannya sendiri. Itulah mengapa suara itu dianggap sebagai energi obat yang efektif, tergantung pada sifat suara itu dan frekuensinya. Kita menemukan energi penyembuh di dalam al-Qur'an karena ia merupakan Kitab Allah.
Dari sinilah muncul terapi suara: Suara adalah getaran, dan sel-sel tubuh itu selalu bergetar, lalu suara memengaruhi sel-sel tersebut. Inilah yang ditemukan para peneliti akhir-akhir ini. Di akhir abad 21 di Washington University, para ilmuwan menemukan bahwa kerja sel otak bukan hanya mentransfer informasi. Masing-masing sel adalah komputer kecil yang bekerja untuk mengumpulkan informasi, memprosesnya, dan memberikan perintah secara konstan. Ellen Covey, peneliti pada Washington University, mengatakan, ‘Untuk pertama kalinya kita menyadari bahwa otak tidak bekerja layaknya satu komputer besar, melainkan berisi sekian banyak komputer yang bekerja secara kooperatif. Ada komputer kecil dalam setiap sel, dan komputer-komputer tersebut dapat terpengaruhi oleh getaran di sekitarnya, khususnya suara. 


Gambar: Berbagai eksperimen menunjukkan bahwa di dalam tiap-tiap sel dalam otak terdapat komputer supermini di mana Allah menginstal program akurat yang mengatur sel dan mengontrol kerjanya. Eksperimen juga menunjukkan bahwa suara dapat memengaruhi sel. Ini adalah gambar sel yang terpengaruh oleh suara, dan medan elektromagnetik terbentuk di sekitarnya.  
Jadi, dapat kami katakan bahwa sel-sel tiap organ tubuh itu bergetar dalam frekuensi tertentu, dan membentuk sistem yang kompleks dan koordinatif, yang dapat terpengaruh oleh suara di sekitarnya. Penyakit yang menjangkiti suatu organ tubuh itu dapat mengakibatkan perubahan pada getaran sel-sel organ tersebut, dan pada kelanjutannya membuatnya menyimpang dari sistem tubuh secara umum. Itulah mengapa ketika tubuh dihadapkan pada suara tertentu, maka suara itu memengaruhi getaran sistem tubuh, khususnya pada organ yang tidak normal. Organ ini akan merespon suara tertentu untuk mengembalikan sistem getarannya yang orisinal, atau dengan kata lain, mengembalikan kondisi kesehatannya. Para ilmuwan menemukan hasil-hasil tersebut belakang ini.


Kronologi Terapi Suara:
Alfred Tomatis, seorang dokter warga negara Prancis, membuat eksperimen-eksperimen selama lima puluh tahun mengenai indera manusia, dan ia membuat kesimpulan bahwa indera pendengaran merupakan indera yang paling penting! Ia menemukan bahwa pendengaran mengontrol seluruh tubuh, mengatur operasi-operasi vitalnya, keseimbangan, dan koordinasi gerakan-gerakannya. Ia juga menemukan bahwa telinga mengontrol sistem syaraf!
Selama eksperimennya, ia menemukan bahwa syaraf pendengaran terhubung dengan seluruh otot tubuh, dan ini adalah alasan mengapa keseimbangan dan fleksibilitas tubuh, serta indera penglihatan itu terpengaruh oleh suara. Telinga bagian dalam terhubung dengan seluruh organ tubuh seperti jantung, paru-paru, hati, perut, dan usus. Hal ini menjelaskan mengapa frekuensi-frekuensi suara itu memengaruhi seluruh tubuh.
Pada tahun 1960, ilmuwan Swiss yang bernama Hans Jenny menemukan bahwa suara dapat memengaruhi berbagai Artikelal dan membentuk partikular-partikularnya, dan bahwa masing-masing sel tubuh itu memiliki suaranya sendiri, dapat terpengaruh oleh suara, dan menyusun ulang Artikelal di dalamnya. Pada tahun 1974, peneliti Fabien Maman dan Sternheimer mengumumkan penemuan mengejutkan.
Mereka menemukan bahwa setiap organ tubuh itu memiliki sistem vibrasinya sendiri, sesuai dengan hukum fisika. Beberapa tahun kemudian, Fabien dan Grimal serta peneliti lain mengungkapkan bahwa suara dapat memengaruhi sel-sel, khususnya sel kanker, dan bahwa suara-suara tertentu memiliki efek yang lebih kuat. Hal ajaib yang ditemukan dua peneliti itu adalah bahwa suara yang memiliki efek paling kuat pada sel-sel tubuh adalah suara manusia itu sendiri! 


Gambar: suara bergerak dari telinga ke otak dan memengaruhi sel-sel otak. Akhir-akhir ini para ilmuwan menemukan bahwa suara memiliki daya penyembuh yang ajaib dan afek mengagumkan terhadap sel-sel otak, dimana ia bekerja untuk mengembalikan keseimbangan ke seluruh tubuh! Bacaan al-Qur'an memiliki efek luar biasa terhadap sel-sel dan dapat mengembalikan keseimbangan. Otak merupakan organ yang mengontrol tubuh, dan darinya muncul perintah untuk relaksasi organ-organ tubuh, khususnya sistem kekebalan tubuh. 
Fabian, seorang peneliti sekaligus musisi, meletakkan sel-sel darah dari tubuh yang sehat dan menghadapkannya pada berbagai macam suara. Ia menemukan bahwa setiap not skala musik dapat memengaruhi medan elektromagnetik sel. Ketika ia memotret sel ini dengan kamera Kirlian, ia menemukan bahwa bentuk dan nilai medan elektromagnetik sel itu berubah sesuai dengan frekuensi-frekuensi suara dan tipe suara orang yang membaca. Kemudian ia membuat eksperimen lain dengan meletakkan darah orang sakit, memonitornya dengan kamera Kirlian, dan meminta pasien untuk membuat berbagai macam suara. Ia menemukan, sesudah memproses gambar, bahwa not tertentu dapat mengakibatkan perubahan pada medan elektromagnetiknya dan menggetarkannya secara seutuhnya dengan merespon suara pemiliknya.
Akhirnya ia menyimpulkan bahwa ada not-not tertentu yang bisa memengaruhi sel-sel dan membuatnya lebih vital dan aktif, bahkan meregenerasinya. Ia menarik suatu hasil yang penting: suara manusia memiliki pengaruh yang kuat dan unik terhadap sel-sel tubuh; pengaruh ini tidak ditemukan pada instrumen lain.
Peneliti ini menyatakan, ‘Suara manusia memiliki nada spiritual khusus yang membuatnya menjadi sarana pengobatan yang paling kuat.' Fabien menemukan bahwa beberapa suara dapat menghancurkan sel-sel kanker, dan pada waktu yang sama dapat mengaktifkan sel-sel yang sehat. 


 Gambar: Sel kanker hancur hanya dengan frekuensi-frekuensi suara! Itulah mengapa bacaan al-Qur'an memiliki pengaruh yang besar terhadap kanker yang paling berbahaya dan penyakit yang sangat akut! 
Tetapi, apakah pengaruh ini hanya terbatas pada sel-sel? Jelas bahwa suara dapat memengaruhi segala sesuatu di sekitar kita. Inilah yang dibuktikan Masaru Emoto, ilmuwan Jepang, dalam eksperimennya terhadap air. Ia menemukan bahwa medan elektromagnetik pada molekul-molekul air itu sangat terpengaruh oleh suara, dan ada suara-suara tertentu yang memengaruhi molekul dan membuatnya lebih teratur.
Apabila kita mengingat bahwa 70% tubuh manusia itu adalah air, maka suara yang didengar manusia itu memengaruhi keteraturan molekul-molekul air pada sel-sel tubuh, dan juga memengaruhi molekul-molekul itu bergetar, sehingga dapat memengaruhi kesehatannya.
Para peneliti lain mengonfirmasi bahwa suara manusia dapat mengobati banyak macam penyakit termasuk kanker. Para terapis juga menyetujui bahwa ada suara-suara tertentu yang lebih efektif dan memiliki kekuatan penyembuh, khususnya dalam meningkatkan sistem kekebatan tubuh. 


Gambar: bentuk molekul air berubah ketika dihadapkan pada suara. Jadi, suara itu berpengaruh sangat besar terhadap air yang kita minum. Apabila Anda membacakan al-Qur'an pada air, maka karakteristiknya akan berubah dan air itu akan mentransfer efek-efek al-Qur'an itu kepada setiap sel dalam tubuh, sehingga mengakibatkannya sembuh. Dalam gambar kita melihat molekul air yang didinginkan. Medan elektromagnetik di sekitar molekul ini berubah secara kontinu disebabkan efek suara. 

Bagaimana al-Qur'an mengobati?
Sekarang, mari kita jawab pertanyaan penting: apa yang terjadi pada sel-sel tubuh dan bagaimana suara itu bisa mengobati? Bagaimana suara ini berpengaruh pada sel-sel yang rusak dan mengembalikan keseimbangannya? Dengan kata lain, bagaimana mekanisme pengobatannya?
Para dokter selalu mencari jalan untuk menghancurkan beberapa virus. Apabila kita berbicara tentang mekanisme virus ini, apa yang membuatnya bergerak dan menemukan jalannya kepada sel? Siapa yang memberi virus itu informasi sehingga bisa menyerang sel dan berkembang biak di dalamnya? Apa yang menggerakkan sel-sel untuk menyerang virus agar menghancurkannya, sementara ia lemah terhadap virus lain? 


Gambar: Virus dan kuman juga bergetar dan sangat terpengaruh oleh vibrasi suara, khususnya suara bacaan al-Qur'an. Suara al-Qur'an dapat menghentikan mereka, dan pada waktu yang sama meningkatkan aktivitas sel-sel sehat dan membangkitkan program yang terkacaukan di dalamnya agar siap bertempur melawan virus dan kuman. 
Bacaan al-Qur'an itu terdiri dari sekumpulan frekuensi yang sampai ke telinga, lalu bergerak ke sel-sel otak, dan memengaruhinya melalui medan elektronik, lalu frekuensi-frekuensi tersebut mengaktifkan sel-sel. Sel-sel akan merespon medan itu dan memodifikasi vibrasi-vibrasinya. Perubahan pada vibrasi inilah yang kita rasakan dan pahami sesudah mengalami dan mengulangi.
Ini merupakan sistem alamiah yang diberikan Allah pada sel-sel otak. Ini merupakan sistem keseimbangan yang natural. Inilah yang difirmankan Allah kepada kita di dalam al-Qur'an al-Karim, ‘Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.' (ar-Rum: 30)


Gambar: Gambaran riil sel darah yang dihadapkan pada suara sehingga medan elektromagnetik di sekitarnya berubah. Suara bacaan al-Qur'an membuat sel menjadi lebih kuat untuk melawan virus dan kerusakan akibat penyakit menular. 

Ayat-Ayat Obat
Setiap ayat dalam al-Qur'an memiliki daya penyembuh untuk penyakit tertentu. Tetapi yang ditekankan Rasulullah saw adalah beberapa surat dan ayat tertentu, seperti membaca al-Fatihah 7 kali, membaca ayat Kursi, dua ayat terakhir surat surat al-Baqarah, dan tiga surat terakhir al-Qur'an.
Anda juga memilih ayat-ayat yang sesuai untuk mengobati penyakit Anda. Sebagai contoh, jika anda merasa gelisah, maka fokuskan pada bacaan surat asy-Syarh. Dan jika Anda sakit kepala, maka bacalah ayat: ‘alau sekiranya Kami menurunkan Al Qur'an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berpikir.' (al-Hasyr: 21)
Nabi saw membaca ta'awudz ratusan kali setiap hari. Beliau memohon kepada Allah untuk melindunginya dari berbagai hal buruk, termasuk penyakit. Kita juga sangat dianjurkan untuk membaca surat al-Falaq dan an-Nas setiap hari. Semoga Allah menjadikan al-Qur'an sebagai obat bagi kita dari setiap penyakit, lahir dan batin.



sumber:
http://www.eramuslim.com/syariah/quran-sunnah/energi-penyembuh-dalam-al-qur-an-antara-sain-dan-keyakinan-2.htm

at October 22, 2012 No comments:
Email ThisBlogThis!Share to XShare to FacebookShare to Pinterest

Sunday, October 21, 2012

Sebab Kerasnya Kalbu

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk kalbu mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu kalbu mereka menjadi keras.”

(QS, al-Hadid: 16)

 

Makna Ayat

 

Ibnu Katsir t dalam mukadimah Tafsir-nya mengatakan, para ulama wajib menyingkap makna-makna yang tertera dalam kalamullah (al-Qur’an) dan tafsirnya, mencarinya pada sumbernya, mempelajari, dan mengajarkannya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah mencela orang-orang sebelum kita dari kalangan ahlul kitab karena mereka berpaling dari Kitabullah yang diturunkan kepada mereka, lantas mereka mendatangi, mendekat, dan mengumpulkan urusan dunia. Mereka tersibukkan dari Kitabullah oleh urusan yang mereka tidak diperintahkan untuk mengikutinya.

 

 

Maka dari itu, wajib atas kita semua—kaum muslimin—untuk berhenti dan tidak melakukan perbuatan yang menjadi sebab Allah Subhanahu Wa Ta’ala mencela mereka. Kita wajib mengikuti apa saja yang telah diperintahkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yakni mempelajari Kitabullah, mengajarkan, memahami, dan memahamkannya.

 

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,  “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk kalbu mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya setelah diturunkan al-Kitab kepadanya. Kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu kalbu mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik. Ketahuilah olehmu bahwa sesungguhnya Allah menghidupkan bumi sesudah matinya. Kami telah menjelaskan kepadamu tanda-tanda kebenaran (Kami) supaya kamu memikirkannya.” (al-Hadid: 16—17)

Penyebutan ayat ini setelah ayat sebelumnya mengandung peringatan bahwa sebagaimana Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menghidupkan bumi sesudah matinya, demikian pula Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan melunakkan kalbu dengan sebab iman dan petunjuk, yang sebelumnya keras karena dosa dan kemaksiatan.

 

Beliau juga menyebutkan ucapan Qatadah t, bahwa Syaddad bin Aus z pernah meriwayatkan dari Rasulullah n, Beliau Shallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda (yang artinya), “Yang pertama kali akan diangkat dari diri manusia adalah khusyuk.”

Dalam ayat ini, Allah Subhanahu Wa Ta’ala melarang orang-orang mukmin menyerupai orang-orang sebelum mereka yang membawa al-Kitab dari kalangan Yahudi dan Nasrani. Tatkala berlalu atas mereka masa yang panjang, mereka mengganti Kitabullah yang ada di tangan mereka dengan cara menukarnya dengan harga yang sedikit. Mereka melemparkannya ke belakang punggung mereka, memiliki pendapat/ucapan yang berbeda-beda, bertaklid kepada pendapat orang dalam urusan agama Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan menjadikan orang-orang alim mereka sebagai Rabb selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Di saat itulah kalbu mereka menjadi keras. Mereka tidak bisa menerima nasihat. Kalbu mereka tidak bisa menjadi lunak, baik oleh janji maupun ancaman.

 

Asy-Syaikh as-Sa’di t mengatakan bahwa ketika Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyebutkan (pada ayat sebelumnya) tentang keadaan orang-orang mukmin—baik pria maupun wanita—dan orang-orang munafik—baik pria maupun wanita—kelak di hari akhir, hal itu termasuk perkara yang seharusnya mendorong kalbu untuk tunduk kepada Rabbnya dan tenang/tenteram karena keagungan-Nya. Namun, tatkala keadaan mereka tidak sebagaimana yang dimaksud, Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberikan teguran kepada orang-orang mukmin. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,  “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk kalbu mereka mengingat Allah….”

 

Maknanya, belumkah datang waktu yang (al-Qur’an) menjadikan kalbu mereka lunak dan tunduk untuk mengingat Allah Subhanahu Wa Ta’ala, patuh kepada perintah dan larangan-Nya, serta kepada kebenaran yang telah turun, yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallahu ‘Alaihi Wassalam? Hal ini mendorong orang-orang yang beriman untuk berusaha dengan sungguh-sungguh menundukkan kalbu mengingat Allah Subhanahu Wa Ta’ala, tunduk kepada al-Qur’an dan al-Hikmah (as-Sunnah), mengingat berbagai peringatan dan hukum syariat-Nya setiap waktu, serta melakukan muhasabah (introspeksi) diri tentang hal-hal tersebut.

 

Selanjutnya, Allah Subhanahu Wa Ta’ala melarang orang-orang mukmin menyerupai orang-orang yang telah diturunkan al-Kitab kepada mereka. Kitab itu mengharuskan kekhusyukan kalbu dan ketundukan yang sempurna. Akan tetapi, mereka tidak menetapi dan tidak mengerjakan apa yang ada pada al-Kitab. Berlalu atas mereka masa yang panjang dalam keadaan kelalaian terus-menerus ada pada diri mereka. Akhirnya, hilanglah keimanan mereka dan sirnalah keyakinan mereka. Karena itulah, kalbu mereka menjadi keras.

 

Maka dari itu, setiap waktu kalbu sangat butuh untuk mengingat kepada kebenaran yang telah diturunkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan berbicara dengan hikmah. Tidak sepantasnya kalbu lalai dari hal tersebut karena akan dapat menyebabkan kerasnya kalbu dan keringnya air mata.

 

Mengenal Hakikat Kalbu

Termasuk prinsip agama dan landasan bagi para penempuh kebaikan adalah mengenal kalbu dan sifat-sifatnya. Karena, barang siapa mengetahui hakikat kalbunya, ia akan mengetahui hakikat Rabb-nya. Akan tetapi, kebanyakan manusia tidak mengetahui hakikat kalbu dan jiwanya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,  “Ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan kalbunya.” (al-Anfal: 24)

Maksudnya, dengan menghalangi manusia dari mengetahui hakikatnya dan dari merasa terawasi oleh-Nya.

Kalbu (jantung, Ind.) adalah organ tubuh yang sangat penting. Ia memiliki berbagai jenis. Ada kalbu yang sakit (berpenyakit) dan ada yang sehat (selamat). Ada yang lunak (lembut dan khusyuk), ada pula yang keras (kering dan kasar).

Ayat yang disebutkan dalam pembahasan tafsir kali ini menjelaskan bahwa seorang mukmin hendaknya melunakkan kalbunya dengan cara tunduk mengingat Allah Subhanahu Wa Ta’ala, patuh kepada perintah dan larangan-Nya. Seorang mukmin tidak boleh menjadikan kalbunya keras, dengan cara tidak meniru perbuatan orang-orang ahlul kitab sebelumnya.

 

Penyebab Kerasnya Kalbu

Al-Alusi t mengatakan bahwa kata “kerasnya kalbu” berasal dari kata “kering dan keras”. Ibrahim bin as-Sari t menyatakan, kata qasat bermakna ghilzhah, yaitu kasar dan keras. Jadi, kerasnya kalbu bermakna hilangnya kelembutan, kasih sayang, dan kekhusyukan darinya.

 

Berikut ini beberapa hal yang menjadi penyebab kerasnya kalbu.

 

1. Melanggar janji (berkhianat)

Hal ini sebagaimana yang terjadi pada Bani Israil. Mereka suka mengubah kalam (Allah Subhanahu Wa Ta’ala), dengan cara mengubah arti kata, tempat, atau menambah dan menguranginya. Mereka sengaja melupakan sesuatu yang telah diperingatkan. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,  “(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuk mereka dan Kami jadikan kalbu mereka keras membatu.” (al-Maidah: 13)

 

2. Berlalunya masa yang panjang (terus-menerus dalam kelalaian, red).

Hal ini seperti yang terjadi pada ahlul kitab. Allah Subhanahu Wa Ta’ala menurunkan kepada mereka al-Kitab, yang mengharuskan khusyuknya kalbu dan ketundukan yang sempurna. Akan tetapi, mereka tidak menetapi dan tidak mengerjakan apa yang ada pada al-Kitab, hingga berlalu atas mereka masa yang panjang dalam keadaan kelalaian terus-menerus ada pada mereka. Akhirnya, hilanglah keimanan mereka dan sirnalah keyakinan mereka. Oleh sebab itulah, kalbu mereka menjadi keras.

Maka dari itu, Allah Subhanahu Wa Ta’ala melarang orang-orang mukmin menyerupai mereka.

 

3. Dosa dan kemaksiatan.

Sebagaimana Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menghidupkan bumi sesudah matinya, maka demikian pula Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan melunakkan kalbu dengan sebab iman dan petunjuk, setelah kalbu menjadi keras karena dosa dan kemaksiatan.

Ibnul Qayyim t mengatakan bahwa di antara perkara yang harus diketahui, dosa dan kemaksiatan itu berbahaya (berdampak buruk). Pengaruh buruknya kepada kalbu layaknya pengaruh racun terhadap badan, dengan tingkatan yang tidak sama. Apa pun keburukan dan penyakit yang ada di dunia dan akhirat, tiada lain penyebabnya adalah dosa dan kemaksiatan.

 

Tingkatan Kerasnya Kalbu

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfiman,  “Kemudian setelah itu kalbumu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal di antara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai darinya, di antaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air darinya, dan di antaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah. Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan.” (al-Baqarah: 74)

 

Al-Alusi t mengatakan, ayat di atas mengandung isyarat perbedaan (tingkat) kerasnya kalbu, sebagaimana halnya perbedaan tingkat kerasnya batu. Para ulama tafsir menyebutkan ucapan Ibnu Abbas c dan Mujahid t dalam hal ini.

Ibnu Abbas l mengatakan, “Sesungguhnya, di antara batu itu ada yang lebih lunak daripada kalbu kalian dengan sebab seruan kebenaran yang tertuju kepadanya.”

Mujahid t berkata, “Setiap batu yang mengalir sungai darinya, yang terbelah lantas keluar mata air darinya, dan yang meluncur jatuh dari puncak gunung adalah karena takut kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.”

 

Tercelanya Kalbu yang Membatu

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,  “Maka apakah orang-orang yang dibukakan oleh Allah kalbunya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Rabbnya (sama dengan orang yang membatu kalbunya)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu kalbunya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.” (az-Zumar: 22)

 

Abu Ja’far ibnu Jarir ath-Thabari t mengatakan, “Apakah sama orang yang dilapangkan kalbunya oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala untuk mengenal-Nya, menetapkan keesaan-Nya, mengakui rububiyah-Nya, tunduk karena ketaatan kepada-Nya, ‘ia selalu mendapat cahaya dari Rabb-Nya’, yaitu di atas hujah dan keyakinan yang nyata pada urusan yang ia berada padanya, dengan cahaya kebenaran yang ada di kalbunya—yang dengan sebab itu ia mengikuti perintah Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan tidak melanggar larangan-Nya—dengan orang yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjadikan kalbunya keras dan kosong dari mengingat-Nya, sempit dari mendengar kebenaran dan berbuat yang benar, serta mengikuti hawa nafsunya?”

Tentu tidak sama.

 

Berbolak-Baliknya Kalbu

Sebagai akhir pembahasan rubrik ini, kami mengingatkan pribadi kami dan segenap kaum muslimin bahwa kalbu yang ada dalam diri kita bukan kita yang mampu mengendalikannya. Seperti pada ayat di atas, Allah Subhanahu Wa Ta’ala membatasi antara manusia dan kalbunya. Selain itu, kalbu dapat berbolak-balik dengan cepat sehingga seseorang tidak boleh merasa aman dengan keadaannya sekarang. Hendaknya ia sering berdoa dan memohon kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala untuk ditetapkan serta diteguhkan kalbunya di atas kebaikan dan kebenaran. Lebih-lebih, kita berada pada masa yang jauh dari diturunkannya al-Kitab yang merupakan kebenaran, dan keadaan yang semakin buruk.

 

Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda,  “Sesungguhnya kalbu-kalbu manusia seluruhnya berada di antara dua jari dari jari-jemari ar-Rahman seperti kalbu yang satu, Ia ubah (bolak-balikkan) sebagaimana yang Ia kehendaki.” Lantas Rasulullah shalallahu alaihi wassalam berdoa, “Ya Allah, Dzat yang membolak-balikkan kalbu, palingkanlah kalbu kami untuk senantiasa berada di atas ketaatanmu.” (HR. Muslim, dari Abdullah bin Amr c)

Beliau Shallahu ‘Alaihi Wassalam juga bersabda,  “Perumpamaan kalbu itu seperti bulu yang berada di padang sahara, yang dibolak-balikkan oleh angin.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah dari Abu Musa al-Asy’ari z)

 

Ketahuilah, dalam hal tetapnya dalam kebaikan/keburukan atau kebimbangan, kalbu terbagi tiga.

1. Kalbu yang terisi oleh ketakwaan, disucikan dengan ibadah dan akhlak yang mulia, dibersihkan dari keburukan akhlak, dibukakan bisikan yang telah menetap di kalbu berupa kebaikan, dan para malaikat pun membentangkan hidayah baginya.

2. Kalbu yang lalai, dipenuhi oleh hawa nafsu, dikotori oleh kejelekan, dilumuri oleh akhlak yang tercela.

Menguatlah kekuasaan setan untuk memperluas wilayahnya, sebaliknya kekuasaan iman melemah. Kalbu penuh kejelekan hawa nafsu, cahayanya sirna sehingga berubah seperti mata yang tertutupi oleh asap, tidak mungkin dapat melihat. Larangan dan nasihat tidak kagi berpengaruh baginya.

3. Kalbu yang membuka bisikan hawa nafsu, lalu mengajaknya pada keburukan. Namun, bisikan iman menyusulnya dan mengajaknya pada kebaikan. (dinukil dari Mukhtashar Minhajil Qashidin)

Wallahul muwaffiq.

 

Catatan :

Penjelasan Mufradat Ayat (al-Hadid: 16),

(penjelasan ini aslinya ada di paragraf depan, dipindahkan khusus bagi yang memerlukan detailnya, bila terjadi kesalahan tulis bahasa arab dikarenakan teknis keterbatasan program computer kami, red)

Mayoritas ulama membacanya أَلَمْ, sedangkan al-Hasan dan Abu Simak rahimahumallah membacanya dengan أَلَمَّا.

Al-Qurthubi t mengatakan bahwa يَأْنِ berasal dari kata آنَ dengan mad (memanjangkan alif) yang bermakna حَانَ, yaitu telah dekat dan tiba waktunya.

Ibnu Qutaibah t mengatakan bahwa kata ini berasal dari أَنَى yang bermakna حَانَ الشَّيْءُ, artinya telah dekat atau tiba waktunya.

Asy-Syinqithi t mengungkapkan bahwa setiap fi’il mudhari’ yang majzum dengan lam yang tertera dalam al-Qur’an, apabila didahului oleh hamzah istifham, mengandung dua sisi penafsiran.

Makna mudhari’ (yang berarti “sedang” atau “akan”) diubah menjadi makna madhi (yang berarti “telah lampau/berlalu”). Adapun nafi (peniadaan) diubah maknanya menjadi itsbat (penetapan), dan hamzam istifham di sini bermakna istifham inkari.

Dengan demikian, makna kalimat tersebut adalah الْمَاضِي الْمُثْبَتُ (yang telah lalu yang ditetapkan). Jadi, makna ﮯ ﮰ ﮱ ﯓ adalah آنَ لِلَّذِينَ آمَنُوا. Artinya, telah dekat/tiba waktunya bagi orang-orang yang beriman.

Apa pun bentuknya, apakah berasal dari kata آنَ seperti بَاعَ-يَبِيْعُ, atau dari kata أَنَى seperti رَمَى-يَرْمِي, keduanya bermakna حَانَ, yaitu telah dekat/tiba waktunya.

Kata khusyu’ secara bahasa berasal dari kata yang bermakna ketenangan, ketenteraman, dan kerendahan (tawadhu’). 

Hal ini seperti yang tertera dalam ayat,  “Dan merendahlah semua suara kepada Rabb Yang Maha Pemurah.” (Thaha: 108)

Demikian pula bumi yang kering, tandus, rendah, tidak tampak hijaunya tumbuh-tumbuhan dan tanam-tanaman, disebut bumi yang khusyu’. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

“Di antara tanda-tanda (kekuasaan)-Nya, kamu melihat bumi itu kering tandus, maka apabila Kami turunkan air di atasnya, niscaya ia bergerak dan subur.” (Fushshilat: 39)

Adapun menurut istilah syariat, khusyu’ adalah rasa takut karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang merasuk dalam kalbu dan membekas, hingga terlihat tanda kerendahan dan ketenangan pada anggota badan, seperti keadaan orang yang takut.

Yang dimaksud dengan al-haq disini adalah al-Qur’an.

Maksudnya, berlalu atas mereka masa, zaman, dan rentang waktu yang panjang.

 

 

Sumber :
Sebab Kerasnya Kalbu
Kategori: Majalah AsySyariah Edisi 079
(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Ubaidah Syafruddin)
http://asysyariah.com/sebab-kerasnya-kalbu.html
at October 21, 2012 No comments:
Email ThisBlogThis!Share to XShare to FacebookShare to Pinterest

Saturday, October 20, 2012

Menjaga Keselamatan Kalbu Dengan Cara Menjaga Kesucian Jiwa

Kalbu, yang sebenarnya bermakna jantung (dalam bahasa Inggris: heart), adalah motor dari gerak langkah anggota badan. Ada yang mengatakan bahwa kalbu adalah raja bagi anggota badan. Anggota badan adalah tentaranya yang senantiasa patuh kepadanya, langsung bergerak karena taat kepadanya dalam rangka menjalankan perintahnya, tidak pernah durhaka atas perintahnya sedikit pun. Dengan demikian, apabila sang raja baik, tentaranya akan baik. Sebaliknya, apabila sang raja rusak, tentaranya juga akan rusak. (Jami’ul Ulum wal Hikam)

 

 

Permisalan itu adalah kandungan hadits Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam,

“Ketahuilah, dalam jasad ada segumpal daging. Apabila ia baik, akan menjadi baik pula seluruh jasadnya. Apabila daging itu rusak, akan menjadi rusak juga seluruh jasadnya. Ketahuilah bahwa daging itu adalah kalbu.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)


Ibnu Rajab t mengatakan, “Hadits di atas menerangkan bahwa kebaikan perilaku seorang hamba pada anggota badannya, jauhnya dia dari hal-hal yang haram dan syubhat, adalah seukuran/sebanding dengan kebaikan gerakan kalbunya.”

“Tidaklah iman seorang hamba akan istiqamah hingga kalbunya istiqamah. Dan kalbunya tidak akan istiqamah hingga lisannya istiqamah.” (Sahih, HR. Ahmad, lihat ash-Shahihah no. 2841)

 

 

 

Istiqamahnya iman artinya istiqamahnya amalan anggota badan, sementara itu anggota badan tidak akan istiqamah selain dengan keistiqamahan kalbu. Adapun makna keistiqamahan kalbu adalah dipenuhinya kalbu itu dengan rasa cinta kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, mencintai ketaatan kepada-Nya, dan benci kepada kemaksiatan terhadap-Nya. Demikian keterangan Ibnu Rajab t.

 

Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam telah menggambarkan akibat kebaikan kalbu atau kerusakannya dalam sebuah hadits,

“Godaan-godaan dosa ditawarkan kepada kalbu-kalbu seperti (anyaman) tikar, sehelai demi sehelai. Kalbu mana pun yang menyerapnya, maka akan tertitik padanya sebuah noktah hitam. Adapun kalbu mana pun yang menolaknya, maka akan tertitik padanya titik putih. Akhirnya, akan menjadi dua macam kalbu, ada yang putih bagaikan batu yang halus (tidak ada kotoran yang hinggap, -pen.) sehingga tidak mencelakakannya godaan-godaan apa pun selama langit dan bumi ada. Sementara itu, kalbu yang lain hitam kelabu (dan) bagaikan gelas yang terbalik. Ia tidak mengenal hal yang baik dan tidak mengingkari hal yang mungkar. Ia tidak mengetahui selain apa yang diserap oleh hawa nafsunya.” (Sahih, HR. Muslim)

 

Sedemikian rupa bahayanya kalbu ketika rusak, benar-benar membuat rusak amalan. Begitu pula ketika kalbu itu baik, benar-benar membuat baik segala amalan.

Lantas, apa yang memengaruhi kalbu sehingga menjadi baik atau menjadi jelek? Jiwa, itulah yang memengaruhinya. Ketika jiwa baik, kalbu akan baik. Ketika jiwa buruk, kalbu pun akan menjadi buruk.

Ibnul Qayyim t menjelaskan, “Sesungguhnya seluruh penyakit kalbu itu muncul dari arah jiwa. Segala benih rusak tertuang padanya. Darinya, merebaklah kepada anggota badan. Yang pertama terkena adalah kalbu….” (Ighatsatul Lahafan hlm. 82)

 

Karena pengaruh jiwa ini, kalbu terbagi menjadi tiga.

1. Kalbu yang selamat, hidup sehat.

2. Kalbu yang sakit, hidup namun sakit.

3. Kalbu yang mati.

 

Kalbu yang hidup sehat disebut juga al-qalbu as-salim, kalbu yang selamat. Ia adalah kalbu yang selamat dari segala nafsu yang menyelisihi perintah dan larangan Allah Subhanahu wa ta’ala, selamat dari segala syubhat (kesamaran) yang bertentangan dengan berita-Nya, sehingga selamat dari peribadahan kepada selain-Nya dan selamat dari berhukum kepada selain Rasulullah  Shalallahu ‘Alaihi Wassalam….

 

Ibadahnya murni untuk Allah Subhanahu wa ta’ala. Niat, cinta, tawakal, taubat, tunduk, takut, berharap, dan amalnya pun hanya untuk-Nya. Apabila ia mencintai, ia cinta karena Allah Subhanahu wa ta’ala. Apabila ia benci, benci pun karena Allah Subhanahu wa ta’ala. Apabila memberi, ia memberi karena-Nya, dan apabila tidak memberi, ia juga tidak memberi karena-Nya. Bahkan, tidak hanya ini, sampai dia selamat dari mematuhi dan berhukum kepada siapa saja selain Rasulullah  Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, sehingga kalbunya meyakini bersamanya sebuah keyakinan yang kokoh untuk berteladan hanya kepadanya saja, tidak kepada selainnya, siapa pun dia baik dalam hal berkata maupun beramal….

 

Kalbu yang sakit, adalah kalbu yang memiliki kehidupan, namun berpenyakit. Dia memiliki dua unsur. Sesekali, unsur kehidupan yang mengisinya, dan pada kesempatan yang lain unsur penyakit yang mengisinya. Kalbu tersebut tergantung kepada unsur mana yang dominan menguasainya. Ada padanya rasa cinta kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, keimanan terhadap-Nya, dan keikhlasan kepada-Nya, serta tawakal kepada-Nya. Ini menjadi unsur kehidupannya. Akan tetapi, ada juga padanya cinta syahwat, mendahulukannya, serta semangat untuk memperolehnya. Ada pula padanya, dengki, sombong, bangga diri, senang unggul (merendahkan yang lain), merusak di bumi dengan kepemimpinannya, yang itu semua adalah unsur kehancurannya.

Jadi, kalbu ini diuji di antara dua penyeru: penyeru pertama mengajaknya kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya serta negeri akhirat; penyeru kedua mengajaknya kepada dunia. Ia akan menyambut seruan yang pintunya paling dekat kepadanya dan yang lebih dekat bertetangga dengannya. (Diringkas dari keterangan Ibnul Qayyim t)

 

Tentang kalbu yang mati, Ibnul Qayyim menyebutnya kering dan mati. Ia adalah kalbu yang tiada kehidupan padanya. Ia tidak mengenal Rabbnya, tidak mengibadahi-Nya dengan perintah-Nya, hal-hal yang dicintai-Nya dan diridhai-Nya. Ia justru senantiasa berdampingan dengan nafsunya dan kelezatannya walaupun mengandung kemurkaan dan kemarahan Rabbnya. Dia tidak akan peduli selama syahwat dan bagiannya terpenuhi. Allah Subhanahu wa ta’ala ridha atau murka (ia tidak peduli). Dia telah menghambakan dirinya kepada selain Allah Subhanahu wa ta’ala dengan cinta, takut, harap, ridha, marah, pengagungan dan penghinaan dirinya.

 

Kalau dia mencintai, maka cinta itu demi nafsunya. Kalau dia membenci, benci itu demi nafsunya pula. Kalau ia memberi, ia memberi demi nafsunya, sedangkan kalau ia tidak memberi, pun karena nafsunya. Hawa nafsunya lebih ia utamakan dan lebih ia cintai daripada Rabbnya. Hawa nafsu menjadi pemimpinnya. Syahwat menjadi pemandunya. Kebodohan menjadi pengemudinya. Kelalaian menjadi tunggangannya. Pikirannya terbenam dalam usaha memperoleh kepentingan-kepentingan duniawinya, tertutup oleh mabuk cinta nafsu dan dunia.

 

Dari jauh ia diseru menuju Allah Subhanahu wa ta’ala dan negeri akhirat, namun tidak mau menyambut seruan sang penasihat yang berkeinginan baik. Ia justru mengekor di belakang setiap setan yang durhaka. Dunialah yang membuatnya cinta atau benci. Nafsulah yang membuatnya tuli dan buta selain kepada kebatilan….

Berbaur dengan pemilik kalbu ini adalah penyakit. Bergaul dengannya adalah racun. Duduk-duduk bersamanya adalah kebinasaan. (Ighatsatul Lahafan)

 

Pemilik kalbu ini tidak akan selamat. Pemilik kalbu yang sakit dekat kepada kehancuran. Tidak ada yang benar-benar selamat di hari kiamat selain pemilik kalbu yang salim, yang datang kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dengannya,

“(Yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, melainkan orang-orang yang menghadap Allah dengan kalbu yang bersih.” (asy-Syu’ara: 88—89)

 

Oleh karena itu, Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam berdoa,

“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kekokohan dalam agama ini, dan agar bertekad untuk selalu terbimbing. Aku juga memohon untuk bersyukur atas nikmat-Mu, kebaikan dalam ibadah kepada-Mu. Aku memohon kepada-Mu kalbu yang selamat dan lisan yang jujur. Aku memohon kepada-Mu dari kebaikan yang Engkau ketahui, serta berlindung kepada-Mu dari kejelekan yang Engkau ketahui, dan aku memohon ampunan atas dosa yang Engkau ketahui.” (Sahih, HR. an-Nasa’i, lihat ash-Shahihah no. 3228)

 

Tentu sangat pantas bagi kita untuk senantiasa memanjatkan doa ini. Al-Hasan t mengatakan,

“Obatilah kalbumu. Sesungguhnya, kebutuhan Allah Subhanahu wa ta’ala kepada hamba-Nya itu dalam hal kebaikan kalbunya.” (Jami’ul Ulum wal Hikam)

 

Macam-Macam Jiwa

“Sesungguhnya, jiwa itu satu. Akan tetapi, jiwa tersebut memiliki beberapa sifat sehingga diberi nama ditinjau dari tiap-tiap sifatnya.” (ar-Ruh, Ibnul Qayyim t)

“Allah Subhanahu wa ta’ala telah menyifati jiwa dalam al-Qur’an dengan tiga sifat: al-muthma’innah, al-ammarah bis su’, dan al-lawwamah.” (Ighatsatul Lahafan)

Firman Allah Subhanahu wa ta’ala,

“Hai jiwa yang tenang (al-muthma’innah), kembalilah kepada Rabbmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku. Masuklah ke dalam surga-Ku.” (al Fajr: 27—30)

 

Jiwa yang muthma’innah adalah yang tenteram menuju Rabbnya, tenteram dengan berzikir kepada-Nya, kembali kepada-Nya, rindu untuk berjumpa dengan-Nya, dan tenang ketika dekat dengan-Nya. Jiwa itulah yang dipanggil saat wafatnya,

“Hai jiwa yang tenang (al-muthma’innah). Kembalilah kepada Rabbmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.” (al-Fajr: 27—28)

Ibnu Abbas c menafsirkannya, “Maksudnya, yang membenarkan.”

Qatadah t mengatakan, “Jiwanya tenteram dengan janji Allah Subhanahu wa ta’ala.”

Hakikat ketenteraman adalah ketenangan dan kemapanan. Dia tenang menuju Rabbnya dan taat kepada-Nya, mengikuti perintah-Nya, dan selalu mengingat-Nya. Ia tidak merasa tenteram kepada selain-Nya, namun tenteram dengan cinta kepada-Nya, ibadah kepada-Nya, serta mengingat-Nya. Ia tenteram dengan perintah-Nya, larangan-Nya, dan berita-Nya.

 

Ia tenteram dengan perjumpaan dengan-Nya dan janji-Nya. Ia pun tenteram dengan mengimani hakikat nama-nama dan sifat-Nya, tenteram dengan ridha kepada Allah Subhanahu wa ta’ala sebagai Rabb, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai rasul. Ia tenteram dengan qadha dan qadar-Nya, tenteram dengan perlindungan dan jaminan-Nya. Jiwa tersebut tenteram dengan keyakinan-Nya bahwa Allah Subhanahu wa ta’ala adalah satu-satu-Nya Rabbnya, sesembahannya, tujuan ibadahnya, Penguasanya, yang mengurusi segala urusannya, dan ke sanalah tempat kembalinya, serta ia tidak dapat lepas darinya walau sekejap mata.

 

Adapun jiwa ammarah bis-su’, Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Rabbku. Sesungguhnya Rabbku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Yusuf: 53)

Ammarah bis-su’, yakni yang sering memerintahkan kepada yang jelek. Jadi, jiwa ini memiliki sifat yang berlawanan dengan jiwa yang muthma’innah. Jiwa ini memerintahkan pemiliknya sesuai dengan kemauan nafsunya. Nafsu yang melampaui batas, mengikuti yang batil. Ia menjadi tempat mangkal setiap kejelekan. Kalau pemiliknya tunduk kepadanya, ia akan memerintahnya kepada setiap yang jelek.

 

Adapun jiwa lawwamah, Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali dirinya sendiri (al-lawwamah).” (al-Qiyamah: 2)

Sa’id bin Jubair t pernah bertanya kepada Ibnu Abbas c, “Apa maksudnya lawwamah?” Beliau menjawab, “Yaitu jiwa yang selalu mencela dirinya.”

Mujahid t mengatakan, “Yaitu jiwa yang menyesali apa yang telah berlalu dan mencela dirinya karena itu.”

Ibnu Abbas c mengatakan juga, “Setiap jiwa akan mencela dirinya pada hari kiamat. Jiwa yang baik mencela dirinya karena tidak memperbanyak berbuat baik. Adapun jiwa yang jelek mencela dirinya karena tidak kembali dari kejelekannya.”

 

Al-Hasan t mengatakan, “Sesungguhnya, seorang mukmin—demi Allah—engkau tidak melihatnya melainkan dia mencela dirinya dalam segala kondisi. Ia menganggapnya kurang dalam segala hal yang diperbuatnya sehingga ia menyesali dan mencela dirinya. Adapun orang yang jahat, dia akan terus berlalu tanpa mencela dirinya.” (Ighatsatul Lahafan)

Ibnul Qayyim t berkata, “Bisa jadi, sebuah jiwa terkadang menjadi jiwa yang ammarah, terkadang menjadi jiwa yang lawwamah, dan terkadang menjadi jiwa yang muthma’innah. Bahkan, dalam satu waktu dan satu saat, penilaian terhadap jiwa tersebut tergantung pada apa yang dominan menguasainya. Sifat muthma’innah adalah pujian dan ammarah bis-su’ adalah sifat tercela. Adapun lawwamah mengandung sifat pujian dan celaan, tergantung kepada jiwa itu, apa yang disesali dan dicelanya? (Ighatsatul Lahafan)

 

Keutamaan Jiwa yang Suci

Memiliki jiwa yang suci adalah karunia besar dari Allah Subhanahu wa ta’ala. Jiwa itulah yang pantas meraih surga-Nya. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Rabbnya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, sesungguhnya surgalah tempat tinggal (nya). (an-Nazi’at: 40—41)

 

“(Yaitu) surga ‘Adn yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya. Itu adalah balasan bagi orang yang bersih (dari kekafiran dan kemaksiatan).” (Thaha: 76)

 

“Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (asy-Syams: 9—10)

 

“Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman), dan dia ingat nama Rabbnya, lalu dia beribadah.” (al-A’la: 14—15)

As-Sa’di t mengatakan, “Sungguh, telah menang dan beruntung seseorang yang menyucikan dan membersihkan jiwanya dari syirik, kezaliman, dan akhlak yang jelek.”

 

Kesucian yang ia upayakan keuntungannya tidak lain kembali kepada dirinya. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Barang siapa yang menyucikan dirinya, sesungguhnya ia menyucikan diri untuk kebaikan dirinya sendiri. Kepada Allah-lah kembali (mu).” (Fathir: 18)

Ibnu Katsir t mengatakan, “Maksudnya, barang siapa yang beramal saleh, manfaatnya akan kembali kepada dirinya.” (Tafsir Ibnu Katsir)

 

As-Sa’di t menafsirkan, “Barang siapa yang menyucikan dirinya dengan membersihkannya dari aib, seperti riya, sombong, dusta, curang, makar, menipu, kemunafikan, dan akhlak hina yang sejenisnya, lantas dia hiasi dirinya dengan akhlak yang indah seperti jujur, ikhlas, tawadhu’, lunak, suka menasihati sesama, bersihnya dada dari iri, dengki dan akhlak buruk selain keduanya, manfaat penyucian dirinya akan kembali kepadanya. Tujuannya akan sampai kepadanya. Amalannya tidak akan hilang sedikit pun.

 

Sementara itu, jiwa yang kotor pantasnya bertempat di neraka.

“Sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (asy-Syams: 10)

As-Sa’di t mengatakan, “Maksudnya, mengotorinya dengan akhlak yang rendah, mendekatkannya kepada aib, melakukan dosa-dosa, meninggalkan sesuatu yang menyempurnakannya dan mengembangkannya, serta melakukan sesuatu yang membuatnya jelek dan kotor.” (Tafsir as-Sa’di)

 

Lihatlah bagaimana nasib pemilik jiwa yang tidak diberi kesucian oleh Allah Subhanahu wa ta’ala.

“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Allah, yaitu al-Kitab, dan menjualnya dengan harga yang sedikit (murah). Mereka itu sebenarnya tidak memakan (tidak menelan) ke dalam perutnya kecuali api. Dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat, tidak akan menyucikan mereka, dan bagi mereka siksa yang amat pedih.” (al-Baqarah: 174)

 

Maksudnya, Allah Subhanahu wa ta’ala tidak menyucikan mereka dari akhlak yang rendah, dan mereka tidak memiliki amal saleh yang pantas untuk dipuji, diridhai, dan diberi balasan. Allah Subhanahu wa ta’ala tidak menyucikan mereka karena mereka melakukan hal-hal yang menyebabkan ketidaksucian. Di antara sebab kesucian yang terbesar adalah mengamalkan kitabullah, menelusuri bimbingannya, dan mengajak kepadanya. Akan tetapi, mereka justru menyingkirkan kitabullah, berpaling darinya, memilih kesesatan daripada petunjuk, dan memilih siksa daripada ampunan. Tidak ada yang pantas bagi mereka selain neraka. Bagaimana mereka akan bersabar di neraka dan bagaimana mereka akan sanggup menahan siksanya? (Tafsir as-Sa’di)

 

 

 

Sumber :
Hubungan Jiwa dengan Kalbu
Kategori: Majalah AsySyariah Edisi 079
(ditulis oleh: Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc)
http://asysyariah.com/hubungan-jiwa-dengan-kalbu.html


at October 20, 2012 1 comment:
Email ThisBlogThis!Share to XShare to FacebookShare to Pinterest
Newer Posts Older Posts Home
Subscribe to: Posts (Atom)

Kemerdekaan Menurut Islam

Salah satu hak setiap bangsa, golongan, masyarakat atau pribadi yaitu hak mendapatkan kemerdekaan lahir batin. Lalu, ba...

  • Azab Untuk Perempuan Tidak Menutup Aurat
    "Dan katakanlah kepada perempuan-perempuan yang beriman supaya menyekat pandangan mereka (daripada memandang yang haram), dan memeli...
  • Kemerdekaan Menurut Islam
    Salah satu hak setiap bangsa, golongan, masyarakat atau pribadi yaitu hak mendapatkan kemerdekaan lahir batin. Lalu, ba...

Search This Blog

Pages

  • Home
My photo
wedha kencana
Let Reading the Quran and understand the meaning and significance
View my complete profile

Arsip Blog Wedha Kencana

  • ▼  2017 (4)
    • ▼  August (1)
      • Kemerdekaan Menurut Islam
    • ►  May (1)
    • ►  January (2)
  • ►  2016 (2)
    • ►  July (1)
    • ►  May (1)
  • ►  2015 (14)
    • ►  December (1)
    • ►  October (1)
    • ►  September (1)
    • ►  July (5)
    • ►  June (5)
    • ►  January (1)
  • ►  2014 (5)
    • ►  November (1)
    • ►  July (1)
    • ►  March (2)
    • ►  February (1)
  • ►  2013 (90)
    • ►  December (3)
    • ►  November (2)
    • ►  October (5)
    • ►  September (3)
    • ►  August (4)
    • ►  July (9)
    • ►  June (8)
    • ►  May (11)
    • ►  April (10)
    • ►  March (8)
    • ►  February (9)
    • ►  January (18)
  • ►  2012 (144)
    • ►  December (11)
    • ►  November (10)
    • ►  October (34)
    • ►  September (26)
    • ►  August (26)
    • ►  July (25)
    • ►  June (12)

Labels

  • Musuh-musuh manusia (16)

Report Abuse

Cahaya Menuju Surga

CAHAYA MENUJU SURGA

Translate

Total Pageviews

free counters

Tamu Cahaya Menuju Surga

List archives light toward heaven

Songs of light to heaven:





Wedha Kencana @ 2013. Awesome Inc. theme. Powered by Blogger.