Saturday, March 8, 2014

Mengenal Allah

Tak kenal maka tak sayang, demikian bunyi pepatah. Banyak orang mengaku mengenal Allah, tapi mereka tidak cinta kepada Allah. Buktinya, mereka banyak melanggar perintah dan larangan Allah. Sebabnya, ternyata mereka tidak mengenal Allah dengan sebenarnya. Sekilas, membahas persoalan bagaimana mengenal Allah bukan sesuatu yang asing. Bahkan mungkin ada yang mengatakan untuk apa hal yang demikian itu dibahas? Bukankah kita semua telah mengetahui dan mengenal pencipta kita? Bukankah kita telah mengakui itu semua? 


Kalau mengenal Allah sebatas di masjid, di majelis dzikir, atau di majelis ilmu atau mengenal-Nya ketika tersandung batu, ketika mendengar kematian, atau ketika mendapatkan musibah dan mendapatkan kesenangan, barangkali akan terlontar pertanyaan demikian.
Yang dimaksud dengan mengenal Allah yaitu mengenal Allah yang akan membuahkan rasa takut kepada-Nya, tawakal, berharap, menggantungkan diri, dan ketundukan hanya kepada-Nya. Sehingga kita bisa mewujudkan segala bentuk ketaatan dan menjauhi segala apa yang dilarang oleh-Nya. Yang akan menenteramkan hati ketika orang-orang mengalami gundah-gulana dalam hidup, mendapatkan rasa aman ketika orang-orang dirundung rasa takut dan akan berani menghadapi segala macam problema hidup.

Faktanya, banyak yang mengaku mengenal Allah tetapi mereka selalu bermaksiat (dan ingkar) kepada-Nya siang dan malam. Lalu apa manfaat kita mengenal Allah kalau keadaannya demikian? Dan apa artinya kita mengenal Allah sementara kita melanggar perintah dan larangan-Nya? Maka dari itu mari kita menyimak pembahasan tentang masalah ini, agar kita mengerti hakikat mengenal Allah dan bisa memetik buahnya dalam wujud amal. Mengenal Allah ada empat cara yaitu mengenal wujud Allah, mengenal Rububiyah Allah, mengenal Uluhiyah Allah, dan mengenal Nama-nama dan Sifat-sifat Allah. Keempat cara ini telah disebutkan Allah di dalam Al Qur’an dan di dalam As Sunnah baik global maupun terperinci.

Ibnul Qoyyim dalam kitab Al Fawaid hal 29, mengatakan: “Allah mengajak hamba-Nya untuk mengenal diri-Nya di dalam Al Qur’an dengan dua cara yaitu pertama, melihat segala perbuatan Allah dan yang kedua, melihat dan merenungi serta menggali tanda-tanda kebesaran Allah seperti dalam firman-Nya: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan pergantian siang dan malam terdapat (tanda-tanda kebesaran Allah) bagi orang-orang yang memiliki akal.” (QS. Ali Imran: 190). Juga dalam firman-Nya yang lain: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan pergantian malam dan siang, serta bahtera yang berjalan di lautan yang bermanfaat bagi manusia.” (QS. Al Baqarah: 164)

Mengenal Wujud Allah.
Yaitu beriman bahwa Allah itu ada. Dan adanya Allah telah diakui oleh fitrah, akal, panca indera manusia, dan ditetapkan pula oleh syari’at.
Ketika seseorang melihat makhluk ciptaan Allah yang berbeda-beda bentuk, warna, jenis dan sebagainya, akal akan menyimpulkan adanya semuanya itu tentu ada yang mengadakannya dan tidak mungkin ada dengan sendirinya. Dan panca indera kita mengakui adanya Allah di mana kita melihat ada orang yang berdoa, menyeru Allah dan meminta sesuatu, lalu Allah mengabulkannya. Adapun tentang pengakuan fitrah telah disebutkan oleh Allah di dalam Al Qur’an: “Dan ingatlah ketika Tuhanmu menurunkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman ): ‘Bukankah Aku ini Tuhanmu’ Mereka menjawab: ‘(Betul Engkau Tuhan kami) kami mempersaksikannya (Kami lakukan yang demikian itu) agar kalian pada hari kiamat tidak mengatakan: ‘Sesungguhnya kami bani Adam adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan-Mu) atau agar kamu tidak mengatakan: ‘Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu sedangkan kami ini adalah anak-anak keturunan yang datang setelah mereka.’.” (QS. Al A’raf: 172-173)

Ayat ini merupakan dalil yang sangat jelas bahwa fitrah seseorang mengakui adanya Allah dan juga menunjukkan, bahwa manusia dengan fitrahnya mengenal Rabbnya. Adapun bukti syari’at, kita menyakini bahwa syari’at Allah yang dibawa para Rasul yang mengandung maslahat bagi seluruh makhluk, menunjukkan bahwa syari’at itu datang dari sisi Dzat yang Maha Bijaksana. (Lihat Syarah Aqidah Al Wasithiyyah Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin hal 41-45)

Mengenal Rububiyah Allah
Rububiyah Allah adalah mengesakan Allah dalam tiga perkara yaitu penciptaan-Nya, kekuasaan-Nya, dan pengaturan-Nya. (Lihat Syarah Aqidah Al Wasithiyyah Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin hal 14)
Maknanya, menyakini bahwa Allah adalah Dzat yang menciptakan, menghidupkan, mematikan, memberi rizki, mendatangkan segala mamfaat dan menolak segala mudharat. Dzat yang mengawasi, mengatur, penguasa, pemilik hukum dan selainnya dari segala sesuatu yang menunjukkan kekuasaan tunggal bagi Allah.
Dari sini, seorang mukmin harus meyakini bahwa tidak ada seorangpun yang menandingi Allah dalam hal ini. Allah mengatakan: “’Katakanlah!’ Dialah Allah yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya sgala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan. Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan-Nya.” (QS. Al Ikhlash: 1-4)
Maka ketika seseorang meyakini bahwa selain Allah ada yang memiliki kemampuan untuk melakukan seperti di atas, berarti orang tersebut telah mendzalimi Allah dan menyekutukan-Nya dengan selain-Nya.

Dalam masalah rububiyah Allah sebagian orang kafir jahiliyah tidak mengingkarinya sedikitpun dan mereka meyakini bahwa yang mampu melakukan demikian hanyalah Allah semata. Mereka tidak menyakini bahwa apa yang selama ini mereka sembah dan agungkan mampu melakukan hal yang demikian itu. Lalu apa tujuan mereka menyembah Tuhan yang banyak itu? Apakah mereka tidak mengetahui jikalau ‘tuhan-tuhan’ mereka itu tidak bisa berbuat apa-apa? Dan apa yang mereka inginkan dari sesembahan itu?

Allah telah menceritakan di dalam Al Qur’an bahwa mereka memiliki dua tujuan. Pertama, mendekatkan diri mereka kepada Allah dengan sedekat-dekatnya sebagaimana firman Allah:
“Dan orang-orang yang menjadikan selain Allah sebagai penolong (mereka mengatakan): ‘Kami tidak menyembah mereka melainkan agar mereka mendekatkan kami di sisi Allah dengan sedekat-dekatnya’.” (Az Zumar: 3 )
Kedua, agar mereka memberikan syafa’at (pembelaan ) di sisi Allah. Allah berfirman:
“Dan mereka menyembah selain Allah dari apa-apa yang tidak bisa memberikan mudharat dan manfaat bagi mereka dan mereka berkata: ‘Mereka (sesembahan itu) adalah yang memberi syafa’at kami di sisi Allah’.” (QS. Yunus: 18, Lihat kitab Kasyfusy Syubuhat karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab)

Keyakinan sebagian orang kafir terhadap tauhid rububiyah Allah telah dijelaskan Allah dalam beberapa firman-Nya: “Kalau kamu bertanya kepada mereka siapakah yang menciptakan mereka? Mereka akan menjawab Allah.” (QS. Az Zukhruf: 87) “Dan kalau kamu bertanya kepada mereka siapakah yang menciptakan langit dan bumi dan yang menundukkan matahari dan bulan? Mereka akan mengatakan Allah.” (QS. Al Ankabut: 61) “Dan kalau kamu bertanya kepada mereka siapakah yang menurunkan air dari langit lalu menghidupkan bumi setelah matinya? Mereka akan menjawab Allah.” (QS. Al Ankabut: 63)

Demikianlah Allah menjelaskan tentang keyakinan mereka terhadap tauhid Rububiyah Allah. Keyakinan mereka yang demikian itu tidak menyebabkan mereka masuk ke dalam Islam dan menyebabkan halalnya darah dan harta mereka sehingga Rasulullah mengumumkan peperangan melawan mereka.
Makanya, jika kita melihat kenyataan yang terjadi di tengah-tengah kaum muslimin, kita sadari betapa besar kerusakan akidah yang melanda saudara-saudara kita. Banyak yang masih menyakini bahwa selain Allah, ada yang mampu menolak mudharat dan mendatangkan manfa’at, meluluskan dalam ujian, memberikan keberhasilan dalam usaha, dan menyembuhkan penyakit. Sehingga, mereka harus berbondong-bondong meminta-minta di kuburan orang-orang shalih, atau kuburan para wali, atau di tempat-tempat keramat.

Mereka harus pula mendatangi para dukun, tukang ramal, dan tukang tenung atau dengan istilah sekarang paranormal. Semua perbuatan dan keyakinan ini, merupakan keyakinan yang rusak dan bentuk kesyirikan kepada Allah.
Ringkasnya, tidak ada yang bisa memberi rizki, menyembuhkan segala macam penyakit, menolak segala macam marabahaya, memberikan segala macam manfaat, membahagiakan, menyengsarakan, menjadikan seseorang miskin dan kaya, yang menghidupkan, yang mematikan, yang meluluskan seseorang dari segala macam ujian, yang menaikkan dan menurunkan pangkat dan jabatan seseorang, kecuali Allah. Semuanya ini menuntut kita agar hanya meminta kepada Allah semata dan tidak kepada selain-Nya.

Mengenal Uluhiyah Allah
Uluhiyah Allah adalah mengesakan segala bentuk peribadatan bagi Allah, seperti berdo’a, meminta, tawakal, takut, berharap, menyembelih, bernadzar, cinta, dan selainnya dari jenis-jenis ibadah yang telah diajarkan Allah dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
Memperuntukkan satu jenis ibadah kepada selain Allah termasuk perbuatan dzalim yang besar di sisi-Nya yang sering diistilahkan dengan syirik kepada Allah.
Allah berfirman di dalam Al Qur’an:
“Hanya kepada-Mu ya Allah kami menyembah dan hanya kepada-Mu ya Allah kami meminta.” (QS. Al Fatihah: 5)


Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah membimbing Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu dengan sabda beliau: “Dan apabila kamu minta maka mintalah kepada Allah dan apabila kamu minta tolong maka minta tolonglah kepada Allah.” (HR. Tirmidzi)
Allah berfirman: “Dan sembahlah Allah dan jangan kalian menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun” (QS. An Nisa: 36)
Allah berfirman: “Hai sekalian manusia sembahlah Rabb kalian yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian, agar kalian menjadi orang-orang yang bertaqwa.” (QS. Al Baqarah: 21)
Dengan ayat-ayat dan hadits di atas, Allah dan Rasul-Nya telah jelas mengingatkan tentang tidak bolehnya seseorang untuk memberikan peribadatan sedikitpun kepada selain Allah karena semuanya itu hanyalah milik Allah semata.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Allah berfirman kepada ahli neraka yang paling ringan adzabnya. ‘Kalau seandainya kamu memiliki dunia dan apa yang ada di dalamnya dan sepertinya lagi, apakah kamu akan menebus dirimu? Dia menjawab ‘ya’. Allah berfirman: ‘Sungguh Aku telah menginginkan darimu lebih rendah dari ini dan ketika kamu berada di tulang rusuknya Adam tetapi kamu enggan kecuali terus menyekutukan-Ku.” ( HR. Muslim dari Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu )
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Allah berfirman dalam hadits qudsi: “Saya tidak butuh kepada sekutu-sekutu, maka barang siapa yang melakukan satu amalan dan dia menyekutukan Aku dengan selain-Ku maka Aku akan membiarkannya dan sekutunya.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu )

Contoh konkrit penyimpangan uluhiyah Allah di antaranya ketika seseorang mengalami musibah di mana ia berharap bisa terlepas dari musibah tersebut. Lalu orang tersebut datang ke makam seorang wali, atau kepada seorang dukun, atau ke tempat keramat atau ke tempat lainnya. Ia meminta di tempat itu agar penghuni tempat tersebut atau sang dukun, bisa melepaskannya dari musibah yang menimpanya. Ia begitu berharap dan takut jika tidak terpenuhi keinginannya. Ia pun mempersembahkan sesembelihan bahkan bernadzar, berjanji akan beri’tikaf di tempat tersebut jika terlepas dari musibah seperti keluar dari lilitan hutang.

Ibnul Qoyyim mengatakan: “Kesyirikan adalah penghancur tauhid rububiyah dan pelecehan terhadap tauhid uluhiyyah, dan berburuk sangka terhadap Allah.”

Mengenal Nama-nama dan Sifat-sifat Allah
Maksudnya, kita beriman bahwa Allah memiliki nama-nama yang Dia telah menamakan diri-Nya dan yang telah dinamakan oleh Rasul-Nya. Dan beriman bahwa Allah memiliki sifat-sifat yang tinggi yang telah Dia sifati diri-Nya dan yang telah disifati oleh Rasul-Nya. Allah memiliki nama-nama yang mulia dan sifat yang tinggi berdasarkan firman Allah:
“Dan Allah memiliki nama-nama yang baik.” (Qs. Al A’raf: 186)
“Dan Allah memiliki permisalan yang tinggi.” (QS. An Nahl: 60)

Dalam hal ini, kita harus beriman kepada nama-nama dan sifat-sifat Allah sesuai dengan apa yang dimaukan Allah dan Rasul-Nya dan tidak menyelewengkannya sedikitpun. Imam Syafi’i meletakkan kaidah dasar ketika berbicara tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah sebagai berikut: “Aku beriman kepada Allah dan apa-apa yang datang dari Allah dan sesuai dengan apa yang dimaukan oleh Allah. Aku beriman kepada Rasulullah dan apa-apa yang datang dari Rasulullah sesuai dengan apa yang dimaukan oleh Rasulullah” (Lihat Kitab Syarah Lum’atul I’tiqad Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin hal 36)

Ketika berbicara tentang sifat-sifat dan nama-nama Allah yang menyimpang dari yang dimaukan oleh Allah dan Rasul-Nya, maka kita telah berbicara tentang Allah tampa dasar ilmu. Tentu yang demikian itu diharamkan dan dibenci dalam agama. Allah berfirman: “Katakanlah: ‘Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tampa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah (keterangan) untuk itu dan (mengharamkan) kalian berbicara tentang Allah tampa dasar ilmu.” (QS. Al A’raf: 33)
“Dan janganlah kamu mengatakan apa yang kamu tidak memiliki ilmu padanya, sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati semuanya akan diminta pertanggungan jawaban.” (QS. Al Isra: 36)

Wallahu ‘alam


sumber : 
Ustadz Abu Usamah bin Rawiyah an Nawawi,  http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=30

Monday, February 3, 2014

Bagaimana Meyakini Keberadaan Allah Subhanahu wa Ta'ala?

Mengenai keberadaan Allah Subhanahu wa Ta’ala, bisa dipastikan dengan empat argumen yang tak terbantahkan yakni: Fitrah, logika, panca indera, dan syariat. Argumen secara syariat diletakkan pada bagian akhir, bukan karena kedudukannya tidak penting, melainkan karena argumen akal (fitrah, logika, panca indera) lebih mudah diterima oleh orang-orang yang lemah atau belum beriman pada syariat Islam. Allahul Musta’an. 




1. Argumen Secara Fitrah
Bahwa setiap makhluk telah diberi fitrah untuk beriman dengan keberadaan penciptanya tanpa harus berpikir dan diajari terlebih dahulu. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengisyaratkan tentang hal ini di dalam Al-Qur`an melalui firman-Nya: “Dan (ingatlah), ketika Rabbmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): ‘Bukankah Aku ini Rabb kalian?’ Mereka menjawab: ‘Betul (Engkau Rabb kami), kami menjadi saksi.’ (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kalian tidak mengatakan: ‘Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Allah)’.” (Al-A’raf: 172)

Ayat di atas dengan gamblang menerangkan bahwa setiap manusia secara fitrah mengimani keberadaan dan Rububiyyah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tak ada yang berpaling dari tuntutan fitrah ini melainkan karena penyimpangan yang muncul di dalam jiwanya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidaklah seorang anak dilahirkan melainkan di atas fitrah, kedua orangtuanyalah yang mengubahnya menjadi seorang Yahudi, Nashrani, atau Majusi.” (HR. Al-Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

2. Argumen Secara Logika
Bahwa seluruh makhluk yang berada di jagad raya ini pasti ada yang menciptakan. Tidak mungkin mereka menciptakan diri mereka sendiri. Karena sesuatu yang awalnya tidak ada tidak mungkin menciptakan dirinya sendiri. Demikian pula, mereka tidak mungkin tercipta secara tiba-tiba (ada dengan sendirinya) karena sesuatu yang baru tercipta pasti ada penciptanya. Bagaimana mungkin alam yang sedemikian teratur rapi dengan segala rangkaian yang sangat sesuai dan keterkaitan yang sangat erat antara sebab dengan akibat dan antara sebagian wujud dengan yang lainnya, akan dinyatakan tercipta secara tiba-tiba?

Sesuatu yang muncul secara tiba-tiba yang pada asalnya tercipta tanpa suatu keteraturan tidak mungkin dalam eksistensi dan perkembangannya akan terjadi keteraturan yang sedemikian rapi. Oleh sebab itu, Allah Yang Maha Agung mengungkap argumen yang logis ini di dalam Al-Qur`an untuk menggugah hati kaum musyrikin yang masih tertutup dari keimanan. Allah Subhanahu wa Ta’alaberfirman: “Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun (yakni secara tiba-tiba) ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? Ataukah mereka yang telah menciptakan langit dan bumi itu? Sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan). Ataukah di sisi mereka ada perbendaharaan Rabbmu atau mereka pula yang berkuasa?” (At-Thur: 35-37)

Jubair bin Muth’im radhiyallahu ‘anhu ketika masih dalam keadaan musyrik, pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat-ayat ini. Beliau radhiyallahu ‘anhu berkata: “Hampir saja hatiku terbang, itulah saat pertama keimanan menancap di dalam hatiku.” (HR. Al-Bukhari)

Diriwayatkan bahwa sekumpulan orang-orang India yang menganut aliran As-Sumaniyyah mendatangi Abu Hanifah untuk mendebatnya dalam perkara eksistensi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Beliau dikenal sebagai seorang yang sangat cerdas. Beliau menyuruh mereka agar datang kembali setelah satu atau dua hari berikutnya. Kemudian mereka berkata, “Bagaimana pendapatmu tentang hal itu?” Beliau menjawab, “Aku sedang berpikir mengenai sebuah kapal yang penuh dengan muatan berupa berbagai barang dan mata pencaharian. Kapal itu berlayar mengarungi lautan dan akhirnya berlabuh di sebuah pelabuhan, lalu menurunkan barang-barangnya kemudian pergi. Padahal tidak ada nahkoda dan para buruh yang bekerja untuk mengangkat muatannya.” Mereka berkata, “Apakah engkau berpikir demikian?” Beliau menjawab, “Iya.” Mereka pun berkata, “Kalau begitu berarti engkau tidak punya akal. Apakah masuk akal bahwa sebuah kapal bisa berlayar, berlabuh, dan pergi kembali tanpa ada nahkodanya? Ini sama sekali tidak masuk akal.” Beliau menjawab, “Bagaimana akal kalian tidak bisa menerima hal ini, namun bisa menerima bahwa langit, matahari, bulan, bintang-bintang, gunung-gunung, pepohonan, binatang-binatang melata, dan manusia secara keseluruhan tak ada Dzat yang telah menciptakannya?!”

Kisah lainnya, suatu ketika seorang Arab dusun pernah ditanya, “Bagaimana engkau mengenal Rabbmu?” Dia menjawab, “Jejak menunjukkan kepada bekas perjalanan. Tahi onta menunjukkan kepada keberadaan onta. Maka, langit yang memiliki gugusan-gugusan bintang, bumi yang memiliki lorong-lorong, dan lautan yang memiliki ombak-ombak, bukankah semua itu menunjukkan kepada Dzat Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat (yakni Allah Subhanahu wa Ta’ala)?”

3. Argumen Secara Panca Indera
Bahwasanya mengetahui keberadaan Allah Subhanahu wa Ta’ala melalui panca indera bisa ditangkap dari dua sisi: - Pengabulan doa dan pertolongan kepada orang-orang yang tertimpa kesusahan.
Kita mendengar dan menyaksikan bagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabulkan doa orang-orang yang meminta kepada-Nya dan menolong orang-orang yang menghadapi kesusahan. Semuanya menunjukkan secara pasti tentang keberadaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dan (ingatlah kisah) Nuh, sebelum itu ketika dia berdoa, dan kami mengabulkan doanya, lalu kami selamatkan dia beserta keluarganya dari bencana yang besar.” (Al-Anbiya`:76)
“(Ingatlah), ketika kalian memohon pertolongan kepada Rabbmu, lalu Dia mengabulkannya bagi kalian: ‘Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut’.” (Al-Anfal: 9)

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan: “Seorang Arab dusun datang menemui Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hari Jum’at ketika beliau tengah berkhutbah. Dia berkata,Wahai Rasulullah, segenap harta telah binasa dan para keluarga telah lapar, maka berdoalah engkau kepada Allah untuk kami.’ Beliau pun mengangkat kedua tangannya seraya berdoa. Maka menggumpallah awan-awan laksana gunung-gunung. Tidaklah beliau turun dari mimbarnya, sampai aku melihat hujan menetes di atas jenggotnya. Kemudian pada Jum’at yang kedua, orang Arab dusun itu –atau mungkin juga yang selainnya– kembali berdiri. Dia berkata, ‘Wahai Rasulullah, bangunan-bangunan telah hancur dan segenap harta telah tenggelam, maka berdoalah engkau kepada Allah untuk kami.’ Beliau pun kembali mengangkat kedua tangannya sembari berdoa, ‘Ya Allah, (alihkanlah hujan itu) di sekitar kami dan bukan pada kami.’ Tidaklah beliau menunjuk kepada satu arah melainkan telah terbuka.” (HR. Al-Bukhari)

Pengabulan doa bagi orang-orang yang meminta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa menjadi sebuah perkara yang disaksikan sampai masa kita ini, selama mereka menyandarkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sebenar-benarnya dan memenuhi syarat-syarat pengabulan doa.

- Mukjizat-mukjizat para Nabi
Manusia mendengar dan menyaksikan bagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala membela dan menolong para Nabi dan Rasul-Nya dengan pelbagai mukzijat di luar batas kemampuan manusia biasa. Semua itu adalah bukti konkret yang mengungkap keberadaan Dzat yang telah mengutus mereka dengan kebenaran. Di sana terdapat beberapa contoh nyata dan dikisahkan di dalam Al-Qur`an, di antaranya:
Yang pertama: Mukjizat Nabi Musa ‘alaihissalam ketika beliau diperintahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’alauntuk memukulkan tongkatnya ke laut. Maka lautan terbelah menjadi duabelas jalan yang kering. Sementara air berada di antara jalan-jalan itu seperti gunung yang besar. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Lalu kami wahyukan kepada Musa: ‘Pukullah lautan itu dengan tongkatmu.’ Maka terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar.” (As-Syu’ara`: 63)

Yang kedua: Mukjizat Nabi ‘Isa ‘alaihissalam ketika beliau melakukan beberapa perkara yang benar-benar di luar batas kemampuan manusia biasa. Di antaranya, beliau bisa menghidupkan kembali orang yang sudah meninggal dan mengeluarkannya dari kubur mereka dengan seizin Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dan (sebagai) Rasul kepada Bani Israil (lalu berkata kepada mereka): ‘Sesungguhnya aku telah datang kepada kalian dengan membawa suatu tanda (mukjizat) dari Rabb kalian, yaitu aku membuat untuk kalian dari tanah berbentuk burung; Kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah. Dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya dan orang yang berpenyakit sopak. Dan aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah. Dan aku kabarkan kepada kalian apa yang kalian makan dan apa yang kalian simpan di rumah kalian. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat sesuatu tanda (kebenaran kerasulanku) bagi kalian, jika kalian sungguh-sungguh beriman’.” (Ali ‘Imran: 49)

“(Ingatlah), ketika Allah mengatakan: Hai Isa putra Maryam, ingatlah nikmat-Ku kepadamu dan kepada ibumu di waktu Aku menguatkan kamu dengan Ruhul Qudus. Kamu dapat berbicara dengan manusia di waktu masih dalam buaian dan sesudah dewasa; dan (Ingatlah) di waktu Aku mengajar kamu menulis, hikmah, Taurat dan Injil, dan (ingatlah pula) di waktu kamu menjadikan dari tanah (suatu bentuk) yang berupa burung dengan ijin-Ku, Kemudian kamu meniupnya, lalu bentuk itu menjadi burung (yang sebenarnya) dengan seizin-Ku. dan (Ingatlah) di waktu kamu menyembuhkan orang yang buta sejak dalam kandungan ibu dan orang yang berpenyakit sopak dengan seizin-Ku. Dan (Ingatlah) di waktu kamu mengeluarkan orang mati dari kubur (menjadi hidup) dengan seizin-Ku, dan (Ingatlah) di waktu Aku menghalangi Bani Israil (dari keinginan mereka membunuh kamu) di kala kamu mengemukakan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, lalu orang-orang kafir di antara mereka berkata: “Ini tidak lain melainkan sihir yang nyata.” (Al-Ma`idah: 110)

Yang ketiga: Mukjizat Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau diminta oleh orang-orang Quraisy untuk mendatangkan sebuah tanda kebenaran kenabian dan kerasulannya. Maka beliau memberi isyarat ke arah bulan yang kemudian terbelah menjadi dua, dan manusia pun menyaksikannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Telah dekat datangnya hari kiamat dan telah terbelah bulan. Dan jika mereka (orang-orang musyrikin) melihat suatu tanda (mukjizat), mereka berpaling dan berkata: ‘(Ini adalah) sihir yang terus menerus’.” (Al-Qamar: 1-2)

Demikianlah tanda-tanda kebesaran Allah Subhanahu wa Ta’ala yang bisa ditangkap oleh panca indera sebagaimana tersebut di atas, yang merupakan mukjizat-mukjizat yang dengannya Allah Subhanahu wa Ta’ala membela dan menolong para Nabi dan Rasul-Nya. Sekali lagi perlu ditegaskan bahwa semua itu menunjukkan keberadaan Dzat Yang Maha Pencipta atas seantero alam ini.

4. Argumen Secara Syariat
Bahwasanya seluruh kitab samawi telah berbicara tentang keberadaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Segala hukum yang termuat di dalamnya mengandung kemaslahatan-kemaslahatan bagi para makhluk. Yang demikian ini menunjukkan bahwa kitab-kitab itu datang dari sisi Dzat Yang Maha Bijaksana lagi Mengetahui kebaikan-kebaikan bagi para hamba. Seluruh peristiwa yang diberitakan-Nya dan dipersaksikan kebenarannya oleh realita kehidupan manusia juga menunjukkan bahwa kitab-kitab itu datang dari Rabb Yang Maha Kuasa untuk mewujudkan apa saja yang telah dikabarkan-Nya.


Sumber:
(Tulisan ini telah disunting dan diringkas pada beberapa bagian dari sumbernya yaitu : tulisan Al-Ustadz Abdul Mu’thi, berjudul Tauhid Rububiyyah‎, Bukan Sekedar Pengakuan (http://mimbarislami.or.id/?module=artikel&opt=default&action=detail&arid=126) . Perubahan serta kemungkinan terjadi kesalahan makna dan tujuan dari sumber asli tulisan adalah menjadi tanggungjawab pengelola blog http://www.kebunhidayah.wordpress.com . Edit kami lakukan agar tulisan bisa lebih singkat, padat dan menggunakan bahasa yang lebih sederhana. Bila ingin membaca selengkapnya silahkan baca sumber aslinya.)


Friday, December 27, 2013

Arti Rasa Takut Kepada Allah

Takut adalah Ibadah

Dalam agama, rasa takut termasuk salah satu bentuk ibadah hati, bahkan memiliki kedudukan yang agung dan mulia. Takut adalah salah satu dari rukun ibadah dan merupakan syarat iman, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala : “Sesungguhnya mereka itu tidak lain adalah setan dengan kawan-kawannya yang menakut-nakuti (kamu), karena itu janganlah kalian takut kepada mereka tetapi takutlah kepada-Ku jika kalian benar-benar orang yang beriman.” (Ali Imran: 175)


“Maka janganlah kalian takut kepada manusia dan takutlah kalian kepada-Ku.” (Al-Maidah: 44).

 

  


Dari kedua ayat di atas dan ayat-ayat yang lain maka sungguh sangat jelas bahwa takut itu termasuk dari ibadah, bahkan ibadah yang paling mulia. Dan Allah tidak akan memerintahkan melainkan untuk suatu kemuliaan. Allah subhanahu wa ta’ala  juga memberitahukan kepada kita tentang tipu daya setan dan ketakutan palsu yang mereka tanamkan. Allah subhanahu wa ta’ala telah melarang kita untuk takut kepada setan tersebut. Maka ayat tersebut (Ali Imran: 175) menunjukkan bahwa keikhlasan untuk memiliki rasa takut kepada Allah termasuk syarat iman.

 


Dalil Mengenai Rasa Takut


Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:


“Mereka (malaikat) takut kepada Rabb mereka dan melakukan apa yang diperintahkan kepada mereka.” (An-Nahl: 50). “Orang-orang yang menyampaikan risalah Allah mereka takut kepada-Nya dan mereka tidak merasa takut kepada seorang pun selain kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai pembuat perhitungan.” (Al-Ahzab: 39).


“Maka janganlah kalian takut kepada mereka dan takutlah kalian kepada-Ku.” (Al-Baqarah: 150).


Masih banyak lagi ayat-ayat lain yang menjelaskan tentang takut. Adapun dari Sunnah Rasulullah, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:


“Tujuh golongan orang yang akan mendapatkan perlindungan pada hari yang tidak ada perlindungan kecuali perlindungan dari Allah, di antaranya seorang hamba yang “diajak” oleh seorang wanita yang memiliki kedudukan dan kecantikan, dan dia (menolak dengan) mengatakan: ‘Aku takut kepada Allah’.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no.629 dan Muslim no. 1031 dari hadits Abu Hurairah)


 


Syaddad bin Aus radiallahuanhu berkata: telah berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa Allah subhanahu wa ta’ala  berfirman:


“Demi kemuliaan dan keagunganku, aku tidak akan menghimpun pada diri hamba-hamba-Ku dua rasa aman dan dua rasa takut. Jika dia merasa aman dari-Ku di dunia, maka Aku akan beri rasa takut pada hari Aku menghimpun hamba-hamba-Ku (hari akhirat). Dan jika dia takut kepada-Ku di dunia maka Aku akan berikan rasa aman pada hari Aku menghimpun hamba-hamba-Ku (hari akhirat). ” (HR. Abu Nu’aim dan dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani di dalam Ash-Shahihah no. 742)


 


Macam-macam Takut


Para ulama telah membagi jenis takut menjadi beberapa bagian, di antara mereka ada yang membagi lima, empat, dan ada yang membagi menjadi tiga, yaitu:


Pertama, takut ibadah.


Yaitu takut yang diiringi dengan penghinaan diri, pengagungan, dan ketundukan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

 


Kedua, takut syirik.


Takut syirik yaitu memberikan takut ibadah kepada selain Allah. Barang siapa yang memberikannya kepada selain Allah maka dia telah melakukan kesyirikan yang besar, seperti takut kepada orang mati, takut kepada dukun-dukun, takut kepada wali-wali yang dianggap bisa memberikan manfaat dan mudharat, dsb. Perbuatan ini akan mengekalkan pelakunya di dalam neraka, mengeluarkannya dari Islam, dan menghalalkan darah dan hartanya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: “Janganlah kalian takut kepada manusia dan takutlah kalian kepada-Ku.” (Al-Maidah: 44)

 


Ketiga, takut tabiat.


Ketiga, takut tabiat. Yaitu takut kepada hal-hal yang bisa membahayakan jiwa seseorang, seperti takut kepada musuh, binatang buas, api, dan sebagainya. Takut jenis ini dibolehkan selama tidak melampaui batas. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman menceritakan kisah Nabi Musa alaihisallam:


“Dia keluar dari negerinya dalam keadaan takut yang sangat.” (Al-Qashash: 21). Pertanyaannya, bagaimana hukumnya takut kepada selain Allah? Jawabannya harus dirinci. Bila takut kepada selain Allah menyebabkan sampai menghinakan diri di hadapannya maka termasuk syirik. Jika ketakutannya itu menyebabkan ia melakukan yang diharamkan dan meninggalkan kewajiban maka takut ini termasuk maksiat dan berdosa. Jika takutnya adalah takut tabiat seperti takut kepada air deras yang bisa menghanyutkan dirinya, hartanya, atau anaknya, maka takut yang demikian itu adalah boleh.
 


Wallahu a’lam.

 

Sumber: 
Merujuk pada tulisan (diringkas dari sumber aslinya)  : Al-Ustadz Abu Usamah bin Rawiyah An-Nawawi
http://kebunhikmah.wordpress.com/2009/11/02/takutlah-kepada-allah/
 
 

Wednesday, December 25, 2013

Arti Cinta Kepada Allah

Hakikat Cinta

Cinta adalah sebuah amalan hati yang akan terwujud dalam (amalan) lahiriah. Apabila cinta tersebut sesuai dengan apa yang diridhai Allah, maka ia akan menjadi ibadah. Dan sebaliknya, jika tidak sesuai dengan ridha-Nya maka akan menjadi perbuatan maksiat. Berarti jelas bahwa cinta adalah ibadah hati yang bila keliru menempatkannya akan menjatuhkan kita ke dalam sesuatu yang dimurkai Allah yaitu kesyirikan.

 

Macam-macam cinta:

Pertama, cinta ibadah.


Yaitu mencintai Allah dan apa-apa yang dicintai-Nya, sesuai dalil Qur’an dan Sunnah.

 

Kedua, cinta syirik.

Yaitu mencintai Allah dan juga selain-Nya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

“Dan di antara manusia ada yang menjadikan selain Allah sebagai tandingan-tandingan (bagi Allah), mereka mencintai tandingan-tandingan tersebut seperti cinta mereka kepada Allah.” (Al-Baqarah: 165)

 

Ketiga, cinta maksiat.

Yaitu cinta yang akan menyebabkan seseorang melaksanakan apa yang diharamkan Allah dan meninggalkan apa-apa yang diperintahkan-Nya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala  berfirman:

“Dan kalian mencintai harta benda dengan kecintaan yang sangat.” (Al-Fajr: 20)

 

Keempat, cinta tabiat.

Seperti cinta kepada anak, keluarga, diri, harta dan perkara lain yang dibolehkan. Namun tetap cinta ini sebatas cinta tabiat. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

“Ketika mereka (saudara-saudara Yusuf ‘alaihis salam) berkata: ‘Yusuf dan adiknya lebih dicintai oleh bapak kita daripada kita.” (Yusuf: 8 )

 

Jika cinta tabiat ini menyebabkan kita tersibukkan dan lalai dari ketaatan kepada Allah sehingga meninggalkan kewajiban-kewajiban, maka berubahlah menjadi cinta maksiat. Bila cinta tabiat ini menyebabkan kita lebih cinta kepada benda-benda tersebut sehingga sama seperti cinta kita kepada Allah atau bahkan lebih, maka cinta tabiat ini berubah menjadi cinta syirik. (Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdulwahhab Al-Yamani dalam kitab Al-Qaulul Mufid fi Adillatit Tauhid, hal. 114)

 

Cinta kepada Allah

Cinta yang dibangun karena Allah akan menghasilkan kebaikan yang sangat banyak dan berharga. Ibnul Qayyim dalam Madarijus Salikin (3/22) berkata: ”Sebagian salaf mengatakan bahwa suatu kaum telah mengaku cinta kepada Allah lalu Allah menurunkan ayat ujian kepada mereka: “Katakanlah: jika kalian cinta kepada Allah maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian.” (Ali ‘Imran: 31)

Mereka (sebagian salaf) berkata: “(firman Allah) ‘Niscaya Allah akan mencintai kalian’, ini adalah isyarat tentang bukti kecintaan tersebut dan buah serta faidahnya. Bukti dan tanda (cinta kepada Allah) adalah mengikuti Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasalaam, faidah dan buahnya adalah kecintaan Allah kepada kalian. Jika kalian tidak mengikuti Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasalaam maka kecintaan Allah kepada kalian tidak akan terwujud dan akan hilang.” Bila demikian keadaannya, maka mendasarkan cinta kepada orang lain karena-Nya tentu akan mendapatkan kemuliaan dan nilai di sisi Allah.

 

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasalaam bersabda dalam hadits yang diriwayatkan dari Anas bin Malik radiyallahu anhu : “Tiga hal yang barangsiapa ketiganya ada pada dirinya, niscaya dia akan mendapatkan manisnya iman. Hendaklah Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya, dan hendaklah dia mencintai seseorang dan tidaklah dia mencintainya melainkan karena Allah, dan hendaklah dia benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah selamatkan dia dari kekufuran itu sebagaimana dia benci untuk dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Al-Bukhari no. 16 dan Muslim no. 43)

 

Ibnul Qayyim mengatakan bahwa di antara sebab-sebab adanya cinta (kepada Allah) ada sepuluh perkara:

Pertama, membaca Al Qur’an, menggali, dan memahami makna-maknanya serta apa yang dimaukannya.

Kedua, mendekatkan diri kepada Allah dengan amalan-amalan sunnah setelah amalan wajib.

Ketiga, terus-menerus berdzikir dalam setiap keadaan.

Keempat, mengutamakan kecintaan Allah di atas kecintaanmu ketika bergejolaknya nafsu.

Kelima, hati yang selalu menggali nama-nama dan sifat-sifat Allah, menyaksikan dan mengetahuinya.

Keenam, menyaksikan kebaikan-kebaikan Allah dan segala nikmat-Nya.

Ketujuh, tunduknya hati di hadapan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Kedelapan, berkhalwat (menyendiri dalam bermunajat) bersama-Nya ketika Allah turun ke langit dunia (qiyamul lail/tahajud, red).

Kesembilan, duduk bersama orang-orang yang memiliki sifat cinta dan jujur.

Kesepuluh, menjauhkan segala sebab-sebab yang akan menghalangi hati dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. (Madarijus Salikin, 3/18, dengan ringkas)

 

Cinta adalah Ibadah

Sebagaimana telah lewat, cinta merupakan salah satu dari ibadah hati yang memiliki kedudukan tinggi dalam agama sebagaimana ibadah-ibadah yang lain. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

“Tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu.” (Al-Hujurat: 7)

 “Dan orang-orang yang beriman lebih cinta kepada Allah.” (Al-Baqarah: 165)

“Maka Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya.” (Al-Maidah: 54)

Adapun dalil dari hadits Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasalaam adalah hadits Anas yang telah disebut di atas yang dikeluarkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dan Al-Imam Muslim: “Hendaklah Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai daripada selain keduanya.”

 

Buah cinta

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan: “Ketahuilah bahwa yang menggerakkan hati menuju Allah ada tiga perkara: cinta, takut, dan harapan. Dan yang paling kuat adalah cinta, dan cinta itu sendiri merupakan tujuan karena akan didapatkan di dunia dan di akhirat.” (Majmu’ Fatawa, 1/95)

Asy-Syaikh ‘Abdurrahman As-Sa’di  menyatakan: “Dasar tauhid dan ruhnya adalah keikhlasan dalam mewujudkan cinta kepada Allah. Cinta merupakan landasan penyembahan dan peribadatan kepada-Nya, bahkan cinta itu merupakan hakikat ibadah. Tidak akan sempurna tauhid kecuali bila kecintaan seorang hamba kepada Rabbnya juga sempurna.” (Al-Qaulus Sadid, hal. 110)

 

Bila kita ditanya bagaimana hukumnya cinta kepada selain Allah? Maka kita tidak boleh mengatakan haram dengan spontan atau mengatakan boleh secara global, akan tetapi jawabannya perlu dirinci.

Pertama, bila dia mencintai selain Allah lebih besar atau sama dengan cintanya kepada Allah maka ini adalah cinta syirik, hukumnya jelas haram.

Kedua, bila dengan cinta kepada selain Allah menyebabkan kita terjatuh dalam maksiat maka cinta ini adalah cinta maksiat, hukumnya haram.

Ketiga, bila merupakan cinta tabiat maka yang seperti ini diperbolehkan.

 

Wallahu a’lam.

 

Sumber:

Referensi  :  bersumber dari tulisan Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyah An-Nawawi (dengan peringkasan)

http://kebunhikmah.wordpress.com/2009/10/27/arti-cinta 

 

 

Tuesday, December 24, 2013

Mencintai Karena Allah

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:  “Ada tiga perkara yang apabila perkara tersebut ada pada seseorang, maka ia akan mendapatkan manisnya iman, yaitu (1) hendaknya Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari selain keduanya. (2) Apabila ia mencintai seseorang, ia hanya mencintainya karena Allah. (3) Ia tidak suka untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkannya, sebagaimana ia tidak mau untuk dilemparkan ke dalam api.” [HR. Al-Bukhari (no. 16), Muslim (no. 43 (67)), at-Tirmidzi (no. 2624), an-Nasa-i (VIII/96) dan Ibnu Majah (no. 4033), dari hadits Anas bin Malik Radhiyallahu 'anhu.] 

Hadits ini menunjukkan bahwa keimanan itu memiliki rasa manis yang dapat dirasakan oleh orang yang hatinya tenang dalam keimanan sebagaimana orang dapat merasakan lezatnya makanan. Bahkan iman itu lebih lezat dan lebih baik, karena ia adalah santapan khusus untuk ruh. Adapun makanan hanyalah untuk jasad yang fana (bersifat sementara).

 


Merindukan Manisnya Iman

Barangsiapa yang melakukan dosa maka akan dicabut lezatnya ketaatan dan kedekatan dengan Allah. Iapun akan terjerumus kedalam kenistaan. Apabila ia memperbaiki diri, maka ia merasa rindu untuk kembali merasakan nikmatnya kondisi sebelumnya. Ia pun akan merendahkan diri dan memohon kepada Rabbnya supaya mengembalikannya pada kebiasaannya dalam berbuat baik. Namun apabila ia terus menerus dan tidak kembali dan mengalami kesulitan untuk kembali seperti semula maka jiwanya akan semakin merasakan kerinduan yang besar. Oleh karenanya apabila seseorang telah merasakan manisnya iman dan telah menyatu dalam hatinya maka akan semakin kokoh cintanya. Iapun tidak akan pernah mengutamakan yang lainnya diatas kecintaannya kepada Allah.

 

Dalam hadits Abu Hurairah dalam kitab Shahih Bukhari disebutkan, sesungguhnya Allah bertanya kepada para malaikat,”  Apa yang diminta oleh para hambaku?” Para malaikat menjawab,” Mereka meminta kepadamu Syurga.” Allah bertanya,”Apakah mereka telah melihatnya?” para malaikat menjawab,”Belum wahai  Rabb.”  Allah bertanya,” Bagaimana seandainya mereka melihatnya?” Para malaikat menjawab,” Seandainya melihatnya, mereka akan memintanya dengan sangat.” (Bukhari No.6045). Tidaklah semua itu terjadi kecuali karena mereka telah merasakan manisnya iman di hati mereka. Demikian pula mereka yang mencintai dan membenci hanya karena Allah.

 

Mencintai Apa Yang Allah Cintai dan Membenci Apa Yang Allah Benci

Sementara itu pada waktu yang sama, Allah mengharamkan manisnya iman dari segolongan manusia yang menjadikan kecintaannya hanya karena syahwat dan kesenangan duniawi. Mereka tidak mengikuti jalan para pendahulu mereka yang shaleh yang mencintai, membenci, memberi dan menahan pemberian hanya karena Allah semata sehingga sempurnalah keimanan mereka. Alangkah jauhnya perbedaan antara generasi ini dan itu. Maka wajib bagi setiap muslim untuk menjadikan kecintaan, kebencian, loyalitas dan permusuhannya sesuai dengan perintah Allah dan RasulNya. Ia mencintai apa-apa yang Allah dan RasulNya cintai. Ia membenci apa yang Allah dan RasulNya benci. Ia berloyal terhadap siapa-siapa yang Allah dan RasulNya loyal terhadapnya dan ia memusuhi terhadap siapa-siapa yang Allah dan RasulNya musuhi.

 

Adapun sikap terhadap orang-orang yang terdapat pada dirinya kebaikan-kebaikan sehingga ia layak untuk dicintai dan juga terdapat keburukan-keburukan sehingga ia layak untuk dimusuhi sebagaimana orang-orang fasik (dimana mereka berhak untuk mendapatkan ganjaran dan hukuman) maka kecintaan, kebencian, loyalitas dan permusuhan itu disesuaikan dengan kadar kebaikan dan keburukan yang mereka kerjakan.

 

Marilah kita sedikit menengok sejarah para salaf sehingga kita bisa melihat kemuliaan hidup mereka.  Dari Abu Idris Al Khaulani berkata,” Aku masuk ke sebuah masjid di Damaskus. Aku dapatkan seorang pemuda dan manusia berkumpul bersamanya. Apabila mereka berselisih dalam suatu perkara mereka menyerahkan masalah itu kepadanya dan mengambil pendapatnya. Maka akupun bertanya tentangnya. Dikatakan kepadaku,” Ini adalah Muadz bin Jabal.” Keesokan harinya akupun bergegas untuk ke masjid dan ternyata dia telah mendahuluiku. Aku dapatkan dia sedang sholat. Maka akupun menungguinya sampai ia selesai sholat. Lantas akupun mendatanginya. Aku ucapkan salam kepadanya dan aku katakan,” Demi Allah aku mencintaimu karenaNya.” Dia bertanya,” Karena Allah ?” Aku katakan,” Karena Allah !” Ia kembali bertanya,” Karena Allah?” Aku katakan lagi,” Karena Allah !” maka iapun memegang selendangku dan mendekatkanku kepadanya. Ia lalu berkata,” Kabar gembira bagimu. Sungguh Aku telah mendengar Rasulullah bersabda,” Allah berfirman,’ Kecintaanku wajib kuberikan bagi siapa saja yang saling mencintai karenaKu.” 

 

Demikianlah,tatkala tumbuh rasa cinta Abu Idris Al Khaulani kepada Muadz  bin Jabal, iapun segera memberitahukannya.

 

Saling Mencinta Karena Kecintaan Kita Pada Allah Subhanahu Wata’ala

Tidak ada kecintaan yang patut diutamakan oleh makhluk melebihi kecintaannya kepada penciptanya. Barangsiapa yang mencintai Allah, maka Allah akan mencintai dan meridhoinya. Allah pun akan menjadikan manusia ridho kepadanya. Bukhari dan muslim telah meriwayatkan sebuah hadits dari Abu Hurairah dari Nabi, beliau bersabda,” Apabila Allah mencintai sesorang hamba, jibril akan menyerukan bahwa Allah mencintai fulan dan jibrilpun turut mencintainya. Kemudian jibril menyeru kepada penduduk langit,” Sungguh Allah telah mencintai fulan, maka cintailah dia.” Maka penduduk langitpun mencintainya. Kemudian Allahpun menjadikan hamba tersebut bisa diterima oleh penghuni bumi.” Masyarakat islamiyah tidak akan dapat hidup bahagia kecuali dengan sifat persaudaraan dan kasih sayang yang dibangun hanya karena Allah semata. Rasa cinta karena Allah akan senantiasa terkenang kebaikan dan keutamaan di tengah-tengah kaum muslimin. Hal ini karena ia dibangun diatas keimanan dan aqidah yang benar. Dan hanya orang-orang berimanlah yang saling mencintai karena Allah dengan penuh keikhlasan.

 

Adapun orang-orang pengumbar hawa nafsu dan kesenangan dunia serta pemburu harta, tidaklah mereka berkumpul kecuali jika ada keuntungan  duniawiyah. Oleh karenanya ikatan hubungan merekapun cepat pudar tatkala keuntungan duniawiyah yang mereka harapkan lenyap. Sungguh tidak berbarokah hubungan yang seperti ini. Mengapakah demikian ?

Karena jiwa-jiwa mereka telah tertambat pada materi semata, bukan kepada Allah ta’ala. Manusiapun banyak yang menyangka bahwa orang-orang yang berharta itu tidaklah mereka mendapatkan hartanya kecuali karena usaha, kepandaian dan ambisi mereka. Manusiapun mendekat untuk mencintai mereka lantaran serpihan dunia yang mereka punya. Demikianlah seterusnya. Hingga tatkala harta mereka telah lenyap dan kefakiran nampak pada diri mereka, maka manusiapun tidak lagi mencintainya seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa.

 

Mereka tidak akan mencintai orang-orang sholeh. Karena kecintaan mereka dibangun bukan karena Allah.   Sungguh menarik apa yang disampaikan oleh ibnu Abbas tentang Abdurrahman bin Auf (shahabat Nabi yang kaya-raya namun tetap terjaga kesolehannya). Ibnu Abbas berkata, ”Allah telah menjadikan kecintaan baginya di hati para hamba. Tidaklah seorang mukmin memandangnya kecuali akan menghormat padanya. Dan tidaklah seorang kafir atau munafik melihat padanya kecuali akan mengagungkannya.” (Tafsir Al Qurthubi,Tahqiq Ahmad Abdul ‘Alim 11/161)

 

Bersabarlah dan jagalah ketakwaan, karena Allah telah menjanjikan rasa cinta yang begitu indahnya dihati kaum mukminin dan para malaikat bagi mereka pada hari akhirat.


Sumber:
http://kebunhikmah.wordpress.com/2009/12/23/mencintai-karena-allah/#more-2086
Rujukan :  hasil saduran dan peringkasan terhadap tulisan asli Syaikh Shodiq Al Baidhani di http://baidhani.com/modules.php?name=Content&pa=showpage&pid=133 (http://www.direktori-islam.com/2009/08/sifat-ikhlas-dalam-mencintai/)

Tuesday, November 26, 2013

Dua Makhluk Terbesar

 
Salah satu diantara aqidah (keyakinan) Ahlus Sunnah wal Jama’ah bahwa makhluk terbesar adalah Arsy (singgasana) Allah -Azza wa Jalla-.Mungkin selama ini ada diantara kita yang menyangka bahwa bahwa makhluk terbesar di dunia adalah bumi dan langit (termasuk bintang-bintang dan gugusan galaksi-galaksi, red). Padahal masih ada yang lebih besar daripada itu semua,
yaitu Al-Kursiy (Kursi) milik Allah -Azza wa Jalla-. 

Wonderful-Landscape-with-Lightning-Nature-Wallpaper-1024x576 
 
Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Artinya, ia lebih besar dibandingkan langit dan bumi. Inilah yang dijelaskan oleh Allah -Azza wa Jalla- dalam firman-Nya, “Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah), melainkan Dia yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah, melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha besar”. (QS. Al-Baqoroh : 255)
 
Kursi adalah tempat kedua kaki Allah -Azza wa Jalla-. Penafsir Ulung, Abdullah bin Abbas -radhiyallahu anhu- berkata, “Kursi adalah tempat kedua kaki[2]. Sedangkan Arsy tidak ada seorang pun yang mampu menentukan besarnya”.[3]. 
Kursi Allah adalah makhluk terbesar setelah Arsy (singgasana) Allah sebagaimana yang dijelaskan dalam sebuah hadits yang shohih dari Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-, beliau bersabda, “Tidaklah langit-langit yang tujuh dibandingkan Kursi, kecuali seperti sebuah mata rantai yang dibuang di tanah yang tandus. Sedang kelebihan Arsy dibandingkan Kursi, seperti kelebihan tanah tandus itu dibandingkan sebuah mata rantai tersebut”. [HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Kitab Al-Arsy (no. 58) dan Abusy Syaikh dalam Al-Azhomah (no. 70), Ibnu Baththoh dalam Al-Ibanah (no. 136) dan lainnya. Hadits ini dinilai shohih oleh Syaikh Al-Albaniy dalam As-Silsilah (1/224/109)]
Ulama Negeri Syam, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albaniy -rahimahullah- berkata usai men-takhrij hadits ini, “Hadits ini keluar sebagai tafsir bagi firman Allah -Ta’ala-,
“Kursi Allah meliputi langit dan bumi…“.
Hadits ini gamblang dalam menjelaskan kedudukan Kursi sebagai makhluk terbesar setelah Arsy dan bahwa Kursi itu adalah benda yang berdiri sendiri, bukan sesuatu yang yang tidak memiliki wujud.
Di dalam hadits ini terdapat bantahan bagi orang yang mentakwil Kursi dengan makna “kerajaan dan luasnya kekuasaan” sebagaimana yang tertera pada sebagian kitab-kitab tafsir. Adapun yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Kursi adalah “ilmu”, maka atsar itu tidak shohih sanadnya kepada beliau. Karena, ia termasuk riwayat Ja’far bin Abil Mugiroh dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas. Atsar itu diriwayatkan oleh Ibnu Jarir. Ibnu Mandah berkata, “Ibnu Abil Mughiroh bukan orang yang kuat pada Ibnu Jubair”. [Lihat Silsilah Al-Ahadits Ash-Shohihah (1/226)]

Keyakinan Ahlus sunnah wal Jama’ah bahwa Kursi adalah makhluk terbesar setelah Arsy. Inilah pendapat yang benar, bukanlah Kursi itu kekuasaan atau ilmu. Bahkan ia adalah makhluk besar yang memiliki wujud.
Al-Imam Ibnu Abi Zamanain -rahimahullah- berkata, “Diantara pernyataan Ahlus Sunnah, bahwa Kursi berada di depan Arsy dan bahwa ia adalah ia adalah tempat kedua kaki (Allah)”. [Lihat Ushulus Sunnah (hal. 96) karya Ibnu Abi Zamanain, dengan tahqiq Abdullah bin Muhammad Al-Bukhoriy, cet. Maktabah Al-Ghuroba' Al-Atsariyyah, 1415 H ]
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -rahimahullah- berkata, “Kursi adalah tsabit (benar) berdasarkan Al-Kitab, Sunnah dan ijma’ (kesepakatan) para salaf”. [Lihat Majmu' Al-Fatawa (6/584)]

Al-Imam Ibnu Abil Izz Al-Hanafiy -rahimahullah- berkata, “Kursi hanyalah –sebagaimana yang dinyatakan oleh para salaf- berada di depan Arsy, laksana tangga menuju Arsy”. [Lihat Syarh Al-Aqidah Ath-Thohawiyyah (hal. 277), oleh Ibnu Abil Izz, cet. Al-Maktab Al-Islamiy, 1391 H]
Al-Imam Abu Muhammad Abdul Haqq Ibnu Athiyyah Al-Andalusiy -rahimahullah- berkata, “Yang dituntut (ditetapkan) oleh hadits-hadits bahwa Kursi adalah makhluk yang ada di depan Arsy. Sedang Arsy lebih besar dibandingkan Kursi”. [Lihat Al-Muharror Al-Wajiz (1/336)]
Jadi, Kursi itu termasuk makhluk terbesar. Namun masih ada lagi makhluk yang lebih besar dibandingkan Kursi, yaitu Arsy (singgasana) Allah -Azza wa Jalla-.

Saking besarnya ukuran Arsy, ia dipikul oleh para malaikat yang memiliki postur tubuh yang besar.
Allah -Azza wa Jalla- berfirman, “Dan pada hari itu delapan orang malaikat menjunjung (memikul) ‘Arsy Tuhan-mu di atas (kepala) mereka”. (QS. Al-Haaqqoh : 17)
Allah Robbul izzah juga berfirman, “Malaikat-malaikat) yang memikul ‘Arsy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan): “Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, Maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyala-nyala”. (QS. Al-Mukmin : 7)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -rahimahullah- berkata usai membawakan dua ayat ini, “Firman Allah ini mengharuskan (menetapkan) bahwa Allah memiliki Arsy yang dipikul dan mengharuskan bahwa Arsy itu bukanlah malaikat sebagaimana yang dinyatakan oleh sekelompok orang-orang Jahmiyyah. Karena, para malaikat adalah kumpulan makhluk. Nah, disini ayat tersebut menunjukkan bahwa Allah memiliki malaikat-malaikat dari kalangan makhluk-makhluk-Nya yang memikul Arsy-Nya, sedang malaikat-malaikat lainnya berada di sekitarnya; dan juga menunjukkan bahwa Arsy pada hari kiamat akan dipikul oleh delapan malaikat”. [Lihat Bayan Talbis Al-Jahmiyyah fi Ta'sis Bida'ihim Al-Kalamiyyah (1/576) oleh Ibnu Taimiyyah, cet. Mathba'ah Al-Hukumah, 1392 H]

Malaikat pemikul Arsy digambarkan kebesarannya oleh Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- di  dalam sebuah hadits. Beliau -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda, “Telah diizinkan bagiku untuk menceritakan tentang seorang malaikat diantara malaikat-malaikat pemikul Arsy. Sesungguhnya apa yang ada diantara dua cuping telinganya sampai ke pundaknya adalah sejauh perjalanan 700 tahun”. [HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya (no. 4727). Hadits ini dinilai shohih oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Takhrij Misykah Al-Mashobih (no. 5728)]
Ini adalah gambaran yang amat menakjubkan. Seorang malaikat pemikul Arsy memiliki postur tubuh yang amat mencengangkan. Jarak antara cupingnya saja dengan bahu sejauh perjalanan 700 tahun. Allahu Akbar, Maha Besar Allah yang telah menciptakannya.

Al-Imam Ath-Thibiy -rahimahullah- berkata, “Yang dimaksudkan dengan “700 tahun” disini adalah menggambarkan banyaknya, bukan untuk pembatasan. Karena, bilangan itu lebih cocok dengan pembicaraan dan lebih memberikan dorongan kepada keadaan. Beliau bersabda, “Telah diizinkan bagiku…”, untuk memberikan faedah bahwa pengetahuan tentang perkara gaib adalah perkara yang khusus bagi Allah -Ta’ala-. Akan tetapi (terkadang) Allah memperlihatkan sebagiannya kepada orang-orang yang Dia kehendaki. Namun orang yang Allah perlihatkan perkara gaib itu tidak berhak menceritakannya, kecuali dengan izin-Nya”. [Lihat Faidhul Qodir (1/458) karya Al-Munawiy]

Dijelaskan dalam sebagian hadits-hadits bahwa di bawah Arsy (singgasana) Allah -Azza wa Jalla- terdapat air. Inilah yang dikatakan oleh Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- dalam sabdanya, “Allah telah menulis takdir-taqdir para makhluk 50 ribu tahun sebelum Dia menciptakan langit dan bumi”. Beliau bersabda, “Sedang Arsy-Nya di atas air”. [HR. Muslim dalam Shohih-nya (2653) dari Abdullah bin Amer bin Al-Ash -radhiyallahu anhuma-]

Inilah sedikit keterangan tentang dua makhluk terbesar ini. Jika anda mau memperluas pembahasan, silakan kembali kepada Kitabul Arsy yang ditulis oleh Ibnu Abi Syaibah dan Adz-Dzahabiy atau risalah Syaikhul Islam yang berjudul “Ar-Risalah Al-Arsyiyyah”.


Sumber:
Dua Makhluk Terbesar, Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah -hafizhahullah- [Pengasuh Pesantren Al-Ihsan Gowa][1]
[1] Redaktur di http://www.pesantren-alihsan.com
[2] Yakni, kedua kaki Allah -Azza wa Jalla-.
[3] HR. Ad-Darimiy dalam Naqdh Al-Imam Abi Sa’id Utsman bin Sa’id ala Bisy Al-Marisiy Al-Jahmiy Al-Anid (1/423), Ibnu Khuzaimah dalam Kitab At-Tauhid (no. 185), Abdullah bin Ahmad dalam As-Sunnah (586 & 1020), Ibnu Abi Syaibah dalam Kitab Al-Arsy (no. 61), Ath-Thobroniy dalam Al-Kabir(no. 12404), Ath-Thobariy dalam Jami’ Al-Bayan (3/10), Ad-Daruquthniy Ash-Shifat (hal. 30), Al-Hakim dalam Al-Mustadrok (2/283), Al-Khothib dalam Tarikh Baghdad (9/251-252) dan Al-Harowiy dalam Al-Arba’in (hal. 125). Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Mukhtashor Al-Uluw (hal. 102/no. 36). http://kebunhidayah.wordpress.com/2013/11/25/dua-makhluk-terbesar/ 

Tuesday, November 5, 2013

Tahun Baru Islam 2013, Jadikan 1 Muharram 1435H Ajang Evaluasi Diri

Jika ditinjau dari akar katanya, Muharram bermakna ‘diharamkan’. Pada bulan ini, siapa pun dilarang untuk mengangkat senjata, berperang dengan sesama manusia. Ada pelajaran penting di balik hal tersebut. Bahwa, Muharram dapat dijadikan tonggak sekaligus harapan untuk menyebarkan perdamaian dalam kalangan umat Islam.



Hendaknya, makna tersirat bulan ini dijadikan pula sebagai upaya umat melihat segala sesuatu dari sudut pandang yang lebih besar. Bukan mengandalkan kepentingan sendiri atau menyudutkan kelompok yang berbeda pemahaman. Sebaliknya, di dalam bulan yang damai, yang harus dipupuk adalah ikatan persaudaraan dengan sesama muslim, entah dari latar belakang dan pemahaman apa pun.

Berbeda dengan tahun baru Masehi yang mungkin oleh segelintir orang digunakan untuk berpesta, tahun baru Islam ada di kutub yang berlawanan. Dalam Islam, yang dipentingkan adalah hidup sederhana, tidak berlebihan, dan senantiasa mengunggulkan Allah dari apa pun, termasuk diri sendiri.
Maka, perayaan tahun baru Islam bukanlah ditandai dengan tiupan terompet atau ledakan petasan. Sebaliknya, ia bagaikan cermin yang merefleksikan seluruh kegiatan kita dalam setahun terakhir. Sudah benarkah jalan yang ditempuh, ataukah kita masih mudah terombang-ambing untuk tidak bersetia kepada Allah.

Adalah tugas seorang muslim untuk menegakkan kebenaran. Tugas kita pula untuk memberantas kejahatan. Namun, dari segala macam ancaman, yang paling berbahaya adalah, ketika kita senantiasa merasa benar dalam segala sesuatu tanpa perlu merasa mengoreksi diri.
Istighfar, merenung, berdialog dengan diri sendiri, adalah cara mujarab untuk senantiasa mengingatkan kita pada ketidakberdayaan; pada pentingnya memulai amar makruf nahiy munkar dari diri sendiri. Tahun baru Islam layak dijadikan sebagai ajang penyucian diri tersebut.

Hendaknya setiap muslim hendaknya menjadikan momen ini sebagai ajang mengevaluasi diri. Tidak hanya itu, setelah evaluasi tersebut, umat juga menyegerakan diri untuk hijrah menuju kebaikan.


Sumber:
http://sidomi.com/233157/tahun-baru-islam-2013-jadikan-1-muharram-1435-h-ajang-evaluasi-diri/

Kemerdekaan Menurut Islam

Salah satu hak setiap bangsa, golongan, masyarakat atau pribadi yaitu hak mendapatkan kemerdekaan lahir batin. Lalu, ba...