Cahaya Menuju Surga

CAHAYA MENUJU SURGA
CAHAYA MENUJU SURGA

بِسْــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم Tujuan Manusia Hidup Adalah Kembali Ke Jalan Allah SWT. Maka kerjakanlah sholat,ibadah,zikir,sedekah,amal,zakat,puasa dan kebaikan menurut firman2 Allah yg terkandung di dalam kitab suci Al,Quran, hadits2, riwayat2 tuntunan nabi-nabi dan rasullulloh. Laksanakan dalam kehidupan sehari-hari dengan hati sabar,tawakal dan istiqomah. Terima kasih kepada semua pihak dan sumber yang terkait dgn artikel/gambar ini "Jazakallahu khairan" Oleh: Wedha Kencana

Translate

Sunday, April 21, 2013

Kisah Muallaf

Kisah ini di ceritakan sendiri oleh saudara kita Hadi Emanuel Halim (Didot Halim)

 

Image 

Nb: gambar ini adalah Abdullah paco yg mualaf tahun 2012 di masjid Graha Hijau 2 ciputat
 


Ijinkan saya bercerita sedikit tentang perjalanan saya menemukan agama yg mulia ini. Saya dulu beragama Katholik ,sebelum memeluk islam ,di tahun 97 dulu diperkenalkan oleh seorang wanita yg dulu dekat dengan saya.

Saya ingat sewaktu kecil dulu sewaktu SD, saya pernah bertanya kepada seorang guru sekolah minggu saya : Mengapa Tuhan ada 3? Jawaban sang guru adalah “sebagai orang beriman kamu harus percaya saja”

 

Sebenarnya saya tidak puas dengan jawaban itu,kok Tuhan ada 3,tapi pada waktu itu saya masih kecil dan tidak terlalu perduli ,hanya saja saya memang tidak pernah berdoa membayangkan wajah Yesus,dan saya pribadi tidak suka dgn patung2 yg ada di gereja,saya yakin Tuhan tidak seperti itu,tapi Tuhan itu pasti jauh lebih hebat dan diluar kemampuan berpikir saya.

Setelah saya memeluk islam dan mengenal Allah dan sifat2NYA,saya langsung bilang ke diri saya “ini dia Tuhan yg saya cari2,ini Tuhan yg benar, Tuhan tidak bisa saya gambarkan,karena Tuhan diluar nalar saya,siapa saya yg amat kecil ini mampu mengerti rahasia kebesaran Tuhan”

 

Dengan dibenturkan kenyataan bahwa wanita tersebut akhirnya putus hubungan dengan saya ,wanita tsb seorang muslim,berbeda dgn saya kala itu. Setelah kini saya renungi ternyata Allah sedang mengajari saya tentang makna cinta kala itu. Allah sedang mengajarkan saya apa itu cinta,supaya kelak di kemudian hari saya mampu mencintaiNYA juga.

Dulu saya tidak pernah mengerti apa itu memakai rasa,kok bisa orang menangis dengar lagu sedih, karena saya tipikal orang yg selalu pakai logika,menangis rasanya tabu utk seorang laki2,demikian saya diajarkan.

 

Sebelum masuk islam itu saya tidak makan seminggu,kehilangan nafsu makan,turun setidaknya 3 kg dalam seminggu,lalu menangis hampir tiap hari selama sebulan,kadang terbangun dengan jantung berdebar ,sesak rasanya dada ,sakit sekali hati kehilangan.

Waktu itu karena juga hilang nafsu makan saya lakukan puasa mutih yaitu puasa hanya makan nasi dan air putih ,tapi anehnya puasa tersebut malah membuat pikiran jadi lebih logis dan jernih, saya jadi tahu apa yg saya mau dalam hidup.

 

Sejak itu pula saya berjanji tidak mau lagi merasakan kehilangan yg seperti itu,cukuplah sekali itu saja,tapi saya bersyukur bisa memakai perasaan saya utk pertama kalinya,kini saya bisa mengerti mengapa seorang menangis tatkala mendengar musik sedih,ternyata rasa itu indah.

Dulu saya berharap mati namun tidak berani bunuh diri,karena di agama katholik orang yg bunuh diri tidak akan masuk surga,ternyata di islam pun sama saja setelah saya tahu di kemudian hari,untunglah Alhamdulillah. Sempat berpikir cara mati paling enak,apa lompat dari gedung,nabrakin mobil di tol,tapi mikir lagi,kalau belum saatnya mati juga gak akan mati nanti.

 

Dulu saya penyuka babi,dan takut kalau masuk islam tidak bisa lagi makan babi. Sekarang boro2 deh,membayangkannya saja sudah mau muntah. pernah dulu tidak sengaja makan,seminggu kemudian pas tahu masih ingin muntah.

Dulu saya juga jarang ke gereja seminggu sekali,gimana kalau masuk islam sehari 5 kali,seminggu sekali saja saya suka bolos. Dalam diskusi dgn seorang ustadz yg dikenalkan kakak saya ,beliau meyakinkan saya bahwa islam itu mudah, Ibadah dalam islam dilakukan sesuai kemampuan saya saja dulu,nanti baru meningkat perlahan.

 

Ketika saya renungkan saya sebenarnya tertarik islam,tapi tidak berani melangkah,karena takut meninggalkan kebiasaan dan takut tidak mampu menjalankan islam dengan benar. Sebab logika saya mengatakan ,jika semua agama ini benar (Yahudi-Kristen-Islam) ,tentu yg paling sempurna adalah yg paling akhir datang,karena menyempurnakan agama2 yg sebelumnya (ternyata sesuai dgn kata2 dalam alquran)

 

Dalam hati kecil saya mengatakan juga Yesus tidak mungkin Tuhan,sebab Tuhan tidak berdoa,kalau Tuhan berdoa ,berdoa kepada siapa? Tuhan adalah yg mengabulkan doa. Yesus di injil juga berdoa “Eloi… Eloi…. Lama sabakhtani” (Tuhan… Tuhan… Mengapa KAU tinggalkan aku?) ,meskipun akhirnya sekarang saya tahu yg berdoa di kayu salib itu bukanlah Yesus karena beliau telah diangkat Allah ke langit utk turun lagi di akhir jaman.

 

Ada juga  ketakutan saya yg lain yaitu bagaimana jika kemudian nanti saya meninggalkan islam kembali ke agama saya yg lama ,sebab saya tidak mau mempermainkan agama seperti orang lain ,dimana kalau nikah dgn orang islam agamanya jadi islam,kalau nikah dgn orang kristen agamanya jadi kristen. Agama bukanlah pakaian buat saya,agama bukan sesuatu yg diganti sesuai musim atau kebutuhan,tapi agama buat saya adalah tubuh saya,yaitu esensi dibalik pakaian itu sendiri,melekat tanpa bisa diganti2.

Beragama buat saya bukanlah sebuah soal pilihan berganda biasa ,yg kalau salah hanya berkurang nilai ujiannya,tapi sebuah proses pemikiran yg harus dipikirkan dalam-dalam agar tidak menyesal kelak di akhirat.

 

Bagaimana saya mencegah diri saya supaya tidak pindah2 agama lagi setelah masuk islam? Dulu saya berjanji saya pd diri sendiri boleh pindah agama,setelah saya dibunuh dan bisa bangkit lagi dari kematian. Kini jika bisa bangkit dari mati berkali2 pun saya tidak sudi pindah agama manapun ,Islam adalah pilihan satu2nya dan terakhir utk saya.

 

Islam adalah agama yang benar, Allah berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-Ikhlas yang berbunyi: Katakanlah: Dia itu Allah adalah Satu (Esa); Allah adalah Pelindung. Dia tidak melahirkan anak dan tidak pula dilahirkan sebagai anak, dan tidak ada sesuatu yang menyerupai Dia." (Al-Ikhlash 1-4)

 

Alhamdullilah, 

Puji syukur kita kepada Allah Swt. yang telah memberikan jalan serta hidayahnya.


Cahaya Menuju Surga
wedhakencana.blogspot.com

Sumber:  http://hadidot.wordpress.com/2013/01/16/kisah-mualaf/

No comments:

Post a Comment