Cahaya Menuju Surga

CAHAYA MENUJU SURGA
CAHAYA MENUJU SURGA

بِسْــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم Tujuan Manusia Hidup Adalah Kembali Ke Jalan Allah SWT. Maka kerjakanlah sholat,ibadah,zikir,sedekah,amal,zakat,puasa dan kebaikan menurut firman2 Allah yg terkandung di dalam kitab suci Al,Quran, hadits2, riwayat2 tuntunan nabi-nabi dan rasullulloh. Laksanakan dalam kehidupan sehari-hari dengan hati sabar,tawakal dan istiqomah. Terima kasih kepada semua pihak dan sumber yang terkait dgn artikel/gambar ini "Jazakallahu khairan" Oleh: Wedha Kencana

Translate

Saturday, August 18, 2012

1 Satu hari lagi kembali ke Fitrah

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar!
Waktu berjalan pasti, tak terasa Ramadhan hampir meninggalkan kita semua. Bulan penuh barakah, bulan penuh maghfirah, bulan saat khsyu' beribadah, Satu hari lagi berlalu. Dan benar, jika mengetahui rahasia Ramadhan, tentu kita ingin agar semua bulan menjadi Ramadhan.


Tentu sekarang adalah waktu yang paling tepat untuk melakukan evaluasi terhadap semua amalan kita selama bulan Ramadhan. Sudahkah kita melaksanakan shaum imanan wahtisaban? Sudahkah niatan kita lurus karena Allah? Sudahkah mulut kita terhindar dari perkataan bohong, menggunjing, dan omongan yang sia-sia? Berapa banyak taddarus kita lakukan, berapa juz kita habiskan, berapa lama I'tikaf di masjid kita tunaikan? Lailatul Qadr talahkah kita dapatkan? Zakat, telahkah kita bayarkan? Yang terakhir taqwa sebagai tujuan puasa, sudahkah kita sampai kesana?





Sebenarnya, hakekat shaum bagi orang yang bertaqwa tidak pernah berakhir. Mereka telah mendapatkan kenikmatan shaum, itulah sebabnya shaum mereka tidak dibatasi oleh Ramadhan. Tidak berakhir dengan ghurup (tenggelamnya matahari), dan tidak dimulai dengan syuruq (terbit fajar). Tidak dapt dihitung dengan hitungan jam dan tidak pula memiliki batas waktu.


Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar!
Hakekat shaum adalah ketaatan pada sariat Allah, meninggalkan segala bentuk kemaksyiatan dan kesia-siaan, mengendalikan nafsu. Itu semuanya dilakukan oleh orang- orang bertaqwa bukan hanya waktu Ramadhan. Bukan hanya di siang hari shaum. Mereka taat pada syariat Allah, tanpa ujung. Mereka tinggalkan kemaksyiatan dan kesia- siaan selamanya. Mereka kendalikan hawa nafsu tanpa batas waktu.
Shaum dzahir dilakukan kebanyakan kaum muslimin hanyalah sebatas tidak makan, minum, dan tidak berhubungan suami- istri di siang hari Ramadhan saja. Tidak mengherankan ketika usia Ramadhan, pada tanggal 1 Syawal dimulailah kegembiraan-kegembiraan yang berlebihan. Mereka rayakan Iedul Fitri di pusat-pusat hiburan dan keramaian, yang ditempat itu banyak kemaksiatan. Syahwat makan dan minum yang selama Ramadhan kurang tersalurkan, mulai hari itu seakan mendapat tempat penyaluran. Berapa banyak biaya dihabiskan untuk kegembiraan-kegembiraan sesaat itu?


Jika seperti itu caranya Iedul Fitri, niscaya bukan kebersihan dan kemenangan yang didpatkan, malainkan malah menambah dosa dan kemaksiatan. Kita tidak kembali kepada fitrah, bahkan menjauh darinya. Semestinya di hari kemenangan itu, kita syukuri nikmat Allah dengan jalan semakin taat pada syariatnya. Semakin tegak diatas dienul Islam, menghadapkan wajah dengan lurus kepada agama Allah.
"Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada Dien Allah (tetaplah atasnya) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. (Itulah) Dien yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui". (Ar-Ruum:30).
Fitrah manusia adalah berada dalam Islam. Yang membuat manusia keluar dari fitrah itu adalah faktor luar. Sabda Rasul s.a.w:
"setiap bayi yang terlahir dalam keadaan suci (fitrah), maka kedua orang tuanyalah yang menjadikan dia Yahudi, Nasrani atu Majusi". (HR Bukhari)

Mari kita kembali kepada fitrah kita, Islam. Rasulullah dan para sahabat telah mencontohkan bagaimana hidup dalam Islam itu. Beliau memberikan teladan hidup yang lurus dan tegak dalam pembelaan Dienullah.



Dari Abi 'Abdillah Jabir bin 'Abdillah Al-Anshari r.a. "Sesungguhnya seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah s.a.w maka ia berkata: 

"Bagaimanapendapatmu jika aku melakukan shalat fardhu dan puasa
pada bulan Ramadhan, dan menghalalkan yang halal
dan mengharamkan yang haram dan aku tidak
menambah selain itu sedikitpun, apakah aku
masuk syurga? Nabi bersabda: "Ya".



Dan dari Wabishah bin Ma'bad ra telah berkata:

Aku telah datang kepada Rasulullah s.a.w makabeliau bersabda: 

"Apakah engkau datang untuk
bertanya tentang kebaikan?" Aku menjawab "Benar"
Beliau bersabda: "Mintalah fatwa dari hatimu,
kebaikan itu adalah apa-apa yang tenteram jiwa padanya
dan tenteram pula hati. Dan dosa itu adalah apa-apa
yang syak dalam jiwa dan ragu-ragu dalam hati,
walaupun orang-orang memberikan fatwa kepadamu
dan mereka membenarkannya".

Editan dari: Buletin Ramadhan Kid

No comments:

Post a Comment